Apakah kamu pernah merasa ketinggalan ketika melihat teman-temanmu berbagi momen menyenangkan di media sosial? Itulah yang disebut dengan FOMO, atau Fear of Missing Out. FOMO adalah kecemasan yang muncul secara tidak diinginkan karena persepsi bahwa pengalaman orang lain tampak lebih memuaskan daripada pengalaman pribadi, yang biasanya dipicu oleh paparan media sosial (McGinnis, 2020).
Di era digital ini, internet tidak hanya memengaruhi bagaimana kita merasa terkait dengan orang lain, tetapi juga membentuk cara kita membuat keputusan (Joshua Aronson & Aronson, 2018). Informasi yang tersedia di media sosial sering kali terkurung dalam gelembung informasi sehingga membuat banyak orang terjebak dalam lingkungan informasi yang terbatas dan memvalidasi persepsi yang mereka miliki. Pada akhirnya, hal tersebut memperkuat perasaan terisolasi dan memengaruhi perilaku kita secara signifikan.
Pengaruh ini juga tercermin dalam gaya hidup kita sehari-hari. Dari cara kita berbelanja, berinteraksi, hingga merencanakan liburan, internet dan media sosial telah mengubah standar kepuasan dan kebahagiaan. Gaya hidup yang sering kali terobsesi untuk “tidak ketinggalan” ini membuat banyak orang mengejar tren yang dibentuk oleh apa yang mereka lihat di media sosial, sering kali tanpa mempertimbangkan kebutuhan pribadi mereka sendiri. Hal ini bisa berdampak pada perilaku konsumtif, stres, dan perasaan tidak pernah cukup dibandingkan dengan orang lain.
Lebih dari itu, FOMO tidak hanya memengaruhi gaya hidup material, tetapi juga perilaku sosial. Misalnya, semakin banyaknya tren di media sosial yang menunjukkan perilaku berbicara kasar atau tidak sopan, seperti menggunakan kata-kata yang tidak pantas, bisa menormalisasi tindakan tersebut di kalangan anak muda, terutama siswa-siswi yang masih mudah terpengaruh. Di usia tersebut, mereka cenderung mencari validasi dari lingkungan sekitar, dan media sosial sering kali menjadi tempat di mana mereka mengikuti tren demi terlihat “kekinian” atau agar diterima dalam kelompok pergaulan mereka.
Siswa-siswi yang masih berada dalam tahap perkembangan mental dan emosional ini bisa lebih rentan mengadopsi perilaku buruk yang mereka anggap normal, meskipun tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai etika yang baik. Padahal, tanpa disadari, perilaku semacam ini dapat merusak hubungan sosial dan menurunkan standar etika dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah.
Fenomena FOMO, terutama di kalangan siswa-siswi, serta perilaku yang muncul dari pengaruh tren media sosial dapat dikaitkan dengan kelima nilai yang terkandung dalam Pancasila:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama mengajarkan agar setiap individu senantiasa ingat akan hubungan dengan Tuhan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Namun, ketika siswa terjebak dalam FOMO, mereka bisa melupakan nilai-nilai spiritual dan terfokus pada pencarian validasi dari media sosial. Hal ini bisa menggeser perhatian mereka dari hal-hal yang seharusnya lebih bermakna, seperti pengembangan diri dan ketenangan batin, menuju obsesi pada pengakuan sosial yang bersifat sementara.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
FOMO sering kali memicu perbandingan diri yang tidak sehat, sehingga muncul kecenderungan untuk melihat orang lain sebagai pesaing, bukan sebagai sesama manusia yang perlu dihargai. Sila kedua mengajarkan kita untuk bersikap adil dan beradab, tetapi perilaku seperti berbicara kasar yang diikuti karena tren dapat menurunkan rasa hormat antar sesama, termasuk di kalangan siswa-siswi.
3. Persatuan Indonesia
Media sosial bisa menjadi alat yang memisahkan siswa dari lingkungan sosialnya yang nyata, menciptakan jarak antara individu dan komunitas sekitarnya. FOMO dapat menyebabkan siswa lebih terfokus pada pencitraan diri di dunia maya daripada membangun persatuan dan kebersamaan di kehidupan nyata. Sila ketiga mengajarkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, namun tren ini bisa mengakibatkan perpecahan sosial di kalangan siswa, misalnya dengan terbentuknya kelompok-kelompok eksklusif yang berdasarkan tren atau popularitas.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan
Sila keempat menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam bertindak dan berpikir, serta menghargai pendapat orang lain. Tren berbicara kasar dan perilaku negatif lainnya yang diikuti karena FOMO menunjukkan kurangnya kebijaksanaan dan kontrol diri. Alih-alih mengedepankan diskusi dan sikap saling menghormati, siswa yang terpengaruh oleh tren media sosial bisa terlibat dalam perilaku yang merusak harmoni sosial.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila kelima mengajarkan tentang keadilan bagi seluruh masyarakat tanpa diskriminasi. FOMO, yang sering kali memicu perilaku konsumtif dan keinginan untuk mengikuti tren, bisa mengesampingkan nilai-nilai keadilan. Siswa-siswi yang merasa “ketinggalan” karena tidak mengikuti tren tertentu akan merasa kurang berharga, padahal sila kelima mengajarkan bahwa setiap individu harus diperlakukan dengan adil tanpa memandang status sosial atau apa yang mereka miliki.
Ketika nilai-nilai Pancasila ini tidak dijunjung tinggi di tengah pengaruh FOMO dan tren media sosial, perilaku negatif seperti konsumtivisme, stres, kecemasan, bahkan tindakan berbicara kasar bisa menyebar dengan mudah di kalangan siswa-siswi. Mereka mulai kehilangan pegangan pada nilai-nilai dasar yang seharusnya membentuk karakter dan kepribadian yang kuat.
Namun, FOMO tidak selamanya buruk. Ada sisi positif dari fenomena ini jika dikelola dengan baik. FOMO bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk berkembang, terutama bagi siswa-siswi di era digital ini. Ketika mereka melihat teman-temannya mencapai prestasi atau melakukan hal-hal positif seperti mengikuti kegiatan sosial, menjalankan proyek kreatif, atau meraih penghargaan akademik, hal ini dapat mendorong mereka untuk juga berusaha menjadi lebih baik dan lebih produktif. FOMO yang seperti ini memberikan dorongan bagi siswa untuk tidak ketinggalan dalam hal yang positif, seperti belajar keterampilan baru, mengikuti kegiatan bermanfaat, atau menjadi lebih peduli terhadap lingkungan dan sesama.
Dalam konteks Pancasila, FOMO yang positif bisa dihubungkan dengan nilai-nilai berikut:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Melihat orang lain yang aktif dalam kegiatan keagamaan dan spiritual dapat memotivasi siswa untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan dan berfokus pada pengembangan spiritualitas. Siswa-siswi bisa saling menginspirasi dalam hal menjaga keseimbangan antara pencapaian duniawi dan kedekatan dengan Tuhan, sesuai dengan sila pertama.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
FOMO yang baik bisa membuat siswa sadar akan pentingnya kontribusi positif terhadap sesama. Misalnya, ketika mereka melihat teman-teman mereka terlibat dalam kegiatan sosial, seperti membantu masyarakat atau menjadi relawan, hal ini dapat memotivasi mereka untuk melakukan hal yang sama. Sila kedua mengajarkan kita untuk menghargai sesama manusia dan berperilaku adil dan beradab, sesuatu yang bisa diperkuat melalui FOMO yang positif.
3. Persatuan Indonesia
Tren positif di media sosial, seperti kolaborasi dalam kegiatan nasional atau gerakan solidaritas untuk membantu sesama, dapat membangkitkan rasa persatuan di kalangan siswa. FOMO bisa menjadi dorongan untuk ikut serta dalam gerakan yang membangun kesatuan dan kerukunan, seperti kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan atau aksi sosial di daerah. Dengan demikian, siswa-siswi dapat memperkuat persatuan Indonesia sesuai dengan sila ketiga.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan
FOMO yang memotivasi siswa untuk berpartisipasi dalam diskusi, organisasi siswa, atau forum musyawarah bisa memperkuat nilai sila keempat. Dengan terlibat dalam kegiatan yang melibatkan dialog, mereka belajar bagaimana menghargai pendapat orang lain, mempraktikkan kebijaksanaan, dan ikut serta dalam pengambilan keputusan yang adil.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Melalui FOMO yang berfokus pada tren berbagi kebaikan dan solidaritas, siswa-siswi dapat belajar untuk mengedepankan keadilan sosial. Misalnya, jika mereka melihat teman-teman mereka terlibat dalam kegiatan yang membantu kaum marginal atau mengadvokasi keadilan sosial, ini bisa memotivasi mereka untuk ikut berkontribusi, sesuai dengan sila kelima.
Baca Juga: TikTok: Mendorong Kreativitas atau Konformitas di Kalangan Gen Z?
Untuk itu, siswa-siswi di sekolah dapat memanfaatkan FOMO dengan cara yang lebih bijak. Mereka bisa memfokuskan diri pada hal-hal yang menginspirasi, seperti mencari peluang untuk meningkatkan kualitas diri, terlibat dalam kegiatan yang mendukung kesejahteraan sosial, dan ikut serta dalam upaya membangun negara Indonesia. Dengan cara ini, FOMO bisa menjadi alat yang mendorong mereka untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga berkontribusi secara aktif untuk bangsa dan negara, sesuai dengan semangat Pancasila.
Terwujudnya FOMO yang positif adalah hasil dari pentingnya membangun ketahanan mental di kalangan siswa-siswi, terutama di era digital yang dipenuhi dengan tekanan sosial dan informasi yang terus menerus. Ketahanan mental atau mental resilience adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi tekanan, tantangan, dan situasi sulit tanpa kehilangan kendali atas diri mereka. Dalam sekolah, siswa-siswi dengan ketahanan mental yang kuat mampu mengatasi FOMO dengan lebih bijaksana. Mereka tidak hanya melihat keberhasilan orang lain sebagai sesuatu yang menekan, tetapi juga sebagai inspirasi untuk tumbuh dan berkembang. Ketahanan mental juga membantu mereka menghadapi kegagalan dengan cara yang sehat, sehingga tidak merasa terpuruk ketika mereka tidak bisa mengikuti tren atau mencapai standar yang mereka lihat di media sosial.
Nilai-nilai Pancasila bisa menjadi landasan penting dalam membentuk ketahanan mental siswa-siswi, terutama dalam menghadapi fenomena FOMO. Berikut ini adalah bagaimana setiap sila dalam Pancasila dapat berperan dalam membangun mental yang kuat di kalangan siswa:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila ini mengajarkan siswa untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan mereka. Dalam menghadapi FOMO, ketahanan spiritual menjadi penting. Siswa-siswi yang memiliki pemahaman yang kuat akan nilai-nilai spiritual cenderung lebih mampu menerima diri mereka apa adanya dan tidak tergoda oleh keinginan berlebih untuk selalu mengikuti tren atau mendapatkan validasi dari orang lain. Ketuhanan memberikan landasan moral yang kuat, sehingga mereka dapat fokus pada pengembangan diri secara spiritual dan tidak semata-mata terfokus pada pencapaian duniawi yang seringkali bersifat sementara.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila ini mengajarkan siswa-siswi untuk menghargai diri sendiri dan orang lain dengan adil dan beradab. Sehingga siswa/siswi lebih menghargai diri mereka sendiri dan tidak membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain. Mereka menyadari bahwa setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda dan keberhasilan tidak bisa diukur secara seragam. FOMO yang positif bisa mendorong mereka untuk menghargai pencapaian orang lain tanpa merendahkan diri sendiri, dan sebaliknya, menginspirasi mereka untuk berusaha dengan cara yang sehat dan manusiawi.
3. Persatuan Indonesia
Di tengah fenomena FOMO, banyak siswa yang merasa terasing atau terpisah dari kelompok sosial karena mereka tidak bisa mengikuti tren tertentu. Di sinilah peran sila ketiga yang menekankan pentingnya persatuan. Sekolah dan lingkungan sosial harus berperan dalam membangun komunitas yang inklusif, di mana setiap siswa merasa diterima apa adanya, tanpa harus mengikuti standar tren tertentu. Siswa yang memahami pentingnya persatuan akan lebih cenderung fokus pada membangun relasi sosial yang positif daripada terjebak dalam persaingan yang merusak.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Khidmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan
FOMO sering kali memicu perilaku impulsif dan keputusan yang kurang bijak, seperti ikut-ikutan tren yang sebenarnya tidak relevan dengan kebutuhan atau tujuan pribadi. Sila keempat mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam membuat keputusan. Siswa-siswi yang memiliki ketahanan mental yang kuat akan lebih mampu berpikir jernih, mempertimbangkan pilihan mereka dengan matang, dan mengambil keputusan yang didasarkan pada musyawarah dan kebijaksanaan. Mereka belajar untuk tidak terburu-buru mengikuti tren tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila kelima menekankan pentingnya keadilan bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang atau status sosial. Di tengah FOMO, ada kecenderungan untuk merasa inferior jika tidak memiliki barang-barang atau pengalaman yang “trendy.” Padahal, FOMO yang positif justru bisa dimanfaatkan untuk mendorong siswa-siswi berkontribusi pada masyarakat dan mewujudkan keadilan sosial. Misalnya, daripada merasa tertinggal karena tidak mengikuti tren konsumtif, mereka bisa terinspirasi untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi orang lain, seperti membantu teman-teman yang membutuhkan atau mengikuti kegiatan kemanusiaan.
Baca Juga: Dampak Negatif Game Online pada Kesehatan Mental
Dalam menghadapi FOMO, sekolah juga berperan penting dalam membangun mental resilience siswa. Beberapa langkah yang dapat dilakukan sekolah adalah:
- Menerapkan pendidikan karakter yang berfokus pada nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, siswa-siswi akan memiliki panduan moral yang jelas dalam menghadapi tekanan sosial dan fenomena FOMO.
- Menyediakan lingkungan yang suportif, di mana siswa merasa diterima apa adanya dan tidak dinilai hanya berdasarkan pencapaian material atau popularitas di media sosial.
- Mendorong siswa untuk fokus pada pengembangan diri, seperti keterampilan, bakat, dan minat yang sejati, daripada hanya mengikuti tren yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan membangun ketahanan mental yang kuat, siswa-siswi di sekolah dapat mengubah FOMO menjadi motivasi positif untuk terus berkembang, berkontribusi pada bangsa, dan mewujudkan cita-cita yang lebih tinggi untuk Indonesia.
Penulis:
1. Muhammad Rizky Fadhillah (S-1 Ilmu Komputer)
2. Julia Tan Lady Grace (S-1 Kehutanan)
3. Tiara Kirani Sani (S-1 Ilmu Perpustakaan)
4. Tiara Utari Pane (S-1 Gizi)
5. Julita Berliana Sitorus (S-1 Psikologi)
6. Silvana (S-1 Agroteknologi)
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
Referensi
Joshua Aronson, & Aronson, Elliot. (2018). The Social Animal. Worth Publishers.
McGinnis, Patrick J. (2020). Fear of Missing Out: Bijak Mengambil Keputusan di Dunia yang Menyajikan Terlalu Banyak Pilihan (p. 40). p. 40. PT Gramedia Pustaka Utama.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












