Di era digital seperti sekarang, orang sudah jarang membeli sesuatu karena lihat iklan TV atau spanduk.
Kebanyakan dari kita justru ketemu produk atau layanan baru lewat media sosial, terutama Instagram.
Hampir setiap hari kita buka aplikasi itu, entah cuma buat lihat story teman atau sekadar scroll biar nggak bosan.
Tapi tanpa sadar, dari kegiatan iseng itu, kita bisa tertarik sama produk tertentu hanya karena melihat postingannya menarik.
Lalu sebelum media sosial segencar ini, orang mencari informasi lewat brosur, iklan, atau rekomendasi mulut ke mulut.
Sekarang semuanya berubah. Mau cari tempat makan? Lihat Instagram. Mau beli skincare? Lihat review di social media.
Bahkan mau cuci sepatu pun, banyak orang melihat Instagram dulu buat memastikan hasilnya bagus atau tidak.
Fenomena ini yang sebenarnya menarik untuk dibahas. Salah satu contoh yang cukup kelihatan adalah akun @shoesandcare, yaitu layanan cuci sepatu yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Yang menarik dari @shoesandcare adalah kualitas konten mereka yang terlihat dari unggahan Instagram rapi, konsisten, edukatif, dan bikin orang percaya.
Artikel ini mencoba menjelaskan, dengan bahasa santai dan sederhana, kenapa konten Instagram bisa memengaruhi minat beli, dan kenapa contoh @shoesandcare cocok banget buat dibahas.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Memilih Menggunakan Second Account Instagram?
Apa sih yang Dimaksud Kualitas Konten?

Kualitas konten dapat dimaknai sebagai persepsi konsumen terhadap sejauh mana informasi yang disajikan oleh suatu merek di media sosial memiliki tingkat akurasi, kelengkapan, relevansi, dan ketepatan waktu.
Tingginya kualitas konten yang dipublikasikan melalui media sosial suatu brand berkontribusi secara positif terhadap peningkatan kesadaran merek di kalangan pengguna platform tersebut.
Sebagai pengguna sosial media kita tahu kalau konten berkualitas itu nggak cuma soal foto bagus.
Ada beberapa hal yang bikin konten terasa “niat”, yang pertama visual yang enak dipandang, foto atau video yang jelas, terang, dan rapi itu penting banget.
Orang biasanya berhenti scroll kalau ada visual yang mencuri perhatian. Kalau visualnya acak-acakan, ya biasanya langsung di-skip.
Yang kedua konsistensi, brand yang konsisten akan lebih mudah diingat. Misalnya, penggunaan warna tertentu, gaya caption yang mirip, atau format video yang seragam. Ini bikin orang merasa familiar setiap melihat unggahan.
Yang ketiga ada nilai atau manfaat, bukan cuma promo, tapi juga memberikan informasi. Nah, di sinilah @shoesandcare lumayan unggul, karena mereka sering upload tips tentang merawat sepatu, cara membersihkan jenis bahan tertentu, dan hal-hal kecil yang sebenarnya berguna buat pengikutnya.
Kombinasi tiga hal ini bikin kontennya terasa profesional, meskipun sebenarnya nggak harus pakai alat mahal.
Bagaimana Kualitas Konten Instagram Memengaruhi Minat Beli Followers @shoesandcare? (Model AIDA)
Shoes And Care awalnya cuma dimulai dari kamar kos oleh pendirinya, Tirta Mandira Hudhi. Modalnya juga nggak besar, cuma sekitar Rp400.000.
Tapi karena konsisten, hasil kerja bagus, dan pemasaran lewat Instagram berjalan efektif, akhirnya bisnis ini berkembang jadi besar banget.
Sekarang mereka punya lebih dari 70 cabang, dengan 134 ribu lebih followers di Instagram dan sudah menangani ratusan ribu sepatu.
Shoes And Care adalah contoh nyata bahwa strategi konten yang tepat bisa membuat brand kecil tumbuh besar.
Hal yang menarik dari akun @shoesandcare adalah bagaimana mereka menjaga kepercayaan sekaligus peningkatan customer mereka melalui kualitas konten yang di upload pada platform instagram, dengan konsisten menjaga estetika visual, konten edukasi dan tips merawat sepatu. Ini membangun kredibilitas sebagai pakar di bidangnya.
Konten Instagram memiliki potensi untuk memengaruhi minat beli, terutama apabila diperbarui secara konsisten dalam rentang waktu tertentu.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa kebutuhan akan konten Instagram yang berkualitas dan terbarukan sangatlah tinggi.
Dalam pemasaran, ada model sederhana bernama AIDA: Attention (Perhatian), ini tahap ketika orang pertama kali melihat konten.
Misalnya unggahan before-after sepatu yang kotor banget jadi kinclong. Itu langsung menarik perhatian karena perubahan visualnya jelas.
Interest (Tertarik), setelah melihat, biasanya kita jadi ingin tahu lebih dalam. Kita buka profilnya, scroll beberapa post, lihat story highlight, atau baca caption. Pada tahap ini, brand mulai punya tempat di pikiran kita.
Desire (Mulai Pengen), kalau kontennya konsisten bagus, kita jadi mulai mikir: “Kayaknya sepatuku juga butuh dicuci” atau “hasilnya bagus juga ya, mungkin bisa dicoba.” Keinginan ini tumbuh karena konten yang mereka tampilkan terasa meyakinkan.
Action (Melakukan Tindakan), tahap terakhir adalah ketika kita benar-benar menghubungi brand atau datang ke cabang untuk cuci sepatu.
Jadi keputusan akhir itu bukan muncul tiba-tiba, tapi hasil dari proses konten yang kita konsumsi sebelumnya.
Hal yang perlu digaris bawahi adalah minat beli lebih menyoroti proses psikologis yang terjadi dalam diri konsumen, bukan tindakan pembeliannya secara langsung.
Karena alasan tersebut, tahap Action tidak digunakan dalam mengukur minat beli.
Tahap ini sebenarnya lebih tepat dipakai kalau penelitian ingin melihat perilaku pembelian yang sudah benar-benar dilakukan, bukan sekadar niat atau keinginan untuk membeli.
Baca Juga: Scrolling Tanpa Henti: Bagaimana Konten “Brainrot” Mengganggu Tidur dan Mood Generasi Z
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa kualitas konten Instagram memiliki peran penting dalam membentuk minat beli followers, khususnya pada akun @shoesandcare.
Perkembangan perilaku konsumen di era digital menunjukkan bahwa media sosial, terutama Instagram, tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga sumber utama informasi sebelum seseorang memutuskan untuk membeli suatu produk atau menggunakan jasa tertentu.
Kondisi ini menegaskan pentingnya strategi pemasaran digital yang terencana dan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, konten yang disajikan oleh sebuah brand menjadi faktor kunci dalam menarik perhatian dan membangun ketertarikan audiens.
Kualitas konten tidak hanya ditentukan oleh tampilan visual yang menarik, tetapi juga oleh konsistensi penyajian serta nilai manfaat yang diberikan kepada followers.
Konten yang rapi, konsisten, dan edukatif mampu menciptakan persepsi profesional dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap brand.
Hal ini terlihat jelas pada akun @shoesandcare yang secara konsisten menghadirkan konten visual before-after, tips perawatan sepatu, serta informasi yang relevan dengan kebutuhan audiensnya.
Strategi ini secara tidak langsung membangun kredibilitas brand sebagai penyedia jasa yang ahli di bidang perawatan sepatu.
Melalui pendekatan model AIDA, dapat dipahami bahwa kualitas konten Instagram mampu memengaruhi tahapan Attention, Interest, dan Desire dalam diri followers.
Konten yang menarik secara visual mampu mencuri perhatian, konten informatif menumbuhkan ketertarikan, dan konsistensi kualitas konten mendorong munculnya keinginan untuk mencoba layanan.
Namun, dalam konteks penelitian minat beli, fokus utama terletak pada proses psikologis konsumen hingga tahap keinginan, bukan pada tindakan pembelian secara nyata.
Oleh karena itu, dapat ditegaskan bahwa semakin baik kualitas konten Instagram yang disajikan oleh @shoesandcare, semakin besar pula potensi terbentuknya minat beli di kalangan followers.
Penulis: Anggit Estu Prayogi
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dosen Pengampu: Mulia Ramdhan Fauzani
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












