Abstrak
Perkembangan manusia dalam perspektif Islam merupakan proses yang melibatkan berbagai fase yang dimulai dari pra-konsepsi hingga akhirat.
Artikel ini membahas tahapan perkembangan manusia menurut Mujib dan Mudzakir, mencakup periode pra-konsepsi, pra-natal, pasca-natal, serta fase-fase kehidupan seperti neonatus, baligh, kearifan dan kebijaksanaan, kematian, dan akhirat.
Penjelasan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perkembangan manusia dalam konteks psikologi Islam.
Pendahuluan
Perkembangan manusia merupakan proses yang kompleks dan berkelanjutan. Dalam islam, setiap fase kehidupan mempunyai makna dan tujuan tertentu yang harus dipahami oleh individu dan masyarakat.
Mujib dan Mudzakir (2002) menjelaskan bahwa perkembangan manusia dapat dibagi menjadi beberapa tahapan yang saling terkait. Pemahaman ini sangat penting untuk membantu orang tua, pendidik, dan Masyarakat dalam mendukung perkembangan anak secara holistik.
Periode Pra-Konsepsi
Periode pra-konsepsi adalah tahap awal sebelum terjadinya pembuahan. Pada fase ini, faktor genetic dari orang tua mulai berperan dalam menentukan potensi individu.
Dalam perspektif Islam, penting bagi orang tua untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik sebelum memiliki anak. Hal ini sejalan dengan ajaran Al-Qur’an yang menekankan pentingnya niat baik dalam setiap tindakan (QS. Al-Baqarah: 186).
Baca Juga: Dunia Adalah Kehidupan Fana’
Periode Pra-Natal
Periode pra-natal adalah masa perkembangan manusia yang dimulai dari pembuahan hingga kelahiran.
Periode ini merupakan tahap awal perkembangan manusia yang penting karena menjadi dasar untuk perkembangan selanjutnya.
Periode pra-natal dimulai setelah terjadinya konsepsi hingga kelahiran. Fase ini terbagi menjadi beberapa tahap:
Fase Nuthfah (Zigot)
Dimulai sejak pembuahan hingga 40 hari pertama kehamilan. Pada tahap ini, janin mulai terbentuk dari sel telur yang dibuahi.
Fase Alaqah (Embrio)
Terjadi pada usia 40 hari kehamilan hingga 80 hari. Janin mulai berkembang dengan lebih kompleks.
Fase Mudghah (Janin)
Dari usia 80 hari hingga 120 hari kehamilan. Pada fase ini, bentuk fisik janin semakin jelas.
Fase Peniupan Ruh
Terjadi ketika janin berusia empat bulan. Dalam perspektif Islam, peniupan ruh menandai dimulainya kehidupan spiritual janin (Dahlan, 2006).
Periode Pasca-Natal
Periode pasca-natal, yaitu periode setelah kelahiran hingga kematian yang terjadi di alam dunia. Menurut Mujib dan Mudzakir, fase-fase dalam periode ini dapat ditelaah dari ayat al-Qur’an, yaitu surah al-Hajj ayat 5 sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Pemaknaan Mujib dan Mudzakir mengenai ayat ini mirip dengan pemaknaan yang telah dijelaskan sebelumnya, tetapi berbeda pada beberapa bagian.
Baca Juga: Pentingnya Air bagi Kehidupan Manusia
Fase Neonatanus
Dari lahir hingga usia satu bulan. Pada tahap ini, bayi sangat bergantung pada orang tua untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Fase Think
Usia satu bulan hingga dua tahun. Pada fase ini, bayi mulai mengembangkan kemampuan berpikir dasar dan berinteraksi dengan lingkungan.
Fase Tangis
Usia dua tahun hingga enam tahun. Anak mulai belajar berkomunikasi dan mengekspresikan emosi melalui tangisan dan suara.
Fase Neonatanus
Fase neonatus dimulai dari lahir hingga usia sebulan, dan merupakan periode yang sangat penting dalam perkembangan awal manusia. Pada tahap ini, bayi mengalami berbagai proses yang mendasar untuk pertumbuhan fisik, emosional, dan spiritual.
Menurut Mujib dan Mudzakir, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan selama fase ini untuk memastikan perkembangan yang sehat dan optimal bagi bayi.
- Pentingnya Diazani
- Aqiqah dan Pemberian Nama
- Pembiasaan Hidup Bersih dan Sehat
- Perkembangan Emosional dan Sosial
Fase Thifl
Fase thifl merupakan periode kritis dalam perkembangan anak. Di mana mereka mengalami pertumbuhan fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang signifikan. Fase thifl, atau fase anak-anak, berlangsung dari usia lebih sebulan hingga tujuh tahun.
Menurut Mujib dan Mudzakir, fase ini sangatlah penting karena anak mulai mengembangkan identitas diri dan keterampilan sosial yang akan membentuk kepribadian mereka di masa depan.
Fase Tamyiz
Fase tamyiz adalah tahap penting dalam perkembangan psikologi dan moral anak yang terjadi antara usia 7 hingga 12 atau 13 tahun.
Pada fase ini, anak menghadapi berbagai perubahan dalam pemahaman moral dan kemampuan kognitif yang memungkinkan mereka membedakan antara perilaku baik dan buruk berdasarkan norma-norma masyarakat. Berikut adalah uraian fase ini dengan referensi dari berbagai teori perkembangan.
Perkembangan moral
Anak-anak di fase tamyiz mulai mengembangkan pemahaman moral yang lebih kompleks. Berdasarkan Ttori perkembangan Moral Lawrence Kohlberg, anak-anak pada tahap ini berada di tahap kedua dari tingkat konvensional, di mana mereka menilai tindakan berdasarkan peran dan norma sosial yang ada, serta kepentingan hubungan sosial.
Fase Baligh
Fase baligh terjadi pada usia remaja, sekitar 12 hingga 18 tahun. Pada fase ini, individu mengalami perubahan fisik dan psikologis yang signifikan.
Mereka mulai mencari identitas diri dan memahami tanggung jawab sosial (Mudzakir & Mujib, 2002). Ini termasuk periode di mana pendidikan moral dan spiritual sangat penting untuk membimbing remaja dalam mengambil Keputusan yang bijaksana.
Tanda-Tanda Baligh
Tanda-Tanda Fisik
- Laki-laki
-
- Mimpi basah (keluar mani)
- Tumbuh rambut di sekitar kemaluan dan ketiak
- Perubahan suara menjadi berat
- Tumbuhnya rambut di wajah (kumis/janggut)
-
- Menstruasi pertama (haid)
- Perubahan fisik seperti pembesaran payudara
- Tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan dan ketiak
Batas Usia Maksimal Baligh
Jika tanda-tanda fisik belum muncul, Islam menetapkan usia baligh berdasarkan ijma’ ulama:
- Laki-laki: 15 tahun.
- Perempuan: 9-15 tahun (mayoritas ulama).
Fase Kearifan dan Kebijaksanaan
Fase yang dimulai dari usia 40 tahun hingga akhir hayat, merupakan periode penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Pada fase ini, individu diharapkan mencapai kematangan emosional, moral, spiritual, dan religius, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali sebagai fase Awliya’ wa Anbiya’, yaitu saat manusia seharusnya meneladani sifat para wali dan nabi.
Dalam fase ini, individu dianjurkan untuk meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW, yang meliputi:
- Shiddiq (Jujur): Selalu berkata dan berperilaku benar, tidak pernah berdusta.
- Amanah (Dapat Dipercaya): Bertanggung jawab dan dapat dipercaya dalam menjalankan tugas serta menjaga kepercayaan yang diberikan.
- Fathanah (Cerdas): Memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah serta mengambil keputusan.
- Tabligh (Menyampaikan Kebenaran): Menyampaikan wahyu dan ajaran Allah SWT kepada umat manusia dengan penuh tanggung jawab.
Fase Kematian
Psikolog Swiss, Elisabeth Kübler-Ross, adalah salah satu tokoh yang paling dikenal dalam mempelajari proses berduka dan kematian.
Ia mengidentifikasi lima tahap emosional yang umumnya dialami seseorang saat menghadapi kematian, baik itu kematian diri sendiri atau orang yang dicintai.
Tahapan ini sering disebut sebagai model DABDA.
Denial (Penolakan)
Pada tahap ini, individu cenderung menolak kenyataan akan kematian. Mereka mungkin merasa seolah-olah kematian adalah kesalahan atau tidak akan terjadi pada mereka.
Anger (Kemarahan)
Setelah tahap penolakan, individu mungkin merasa marah. Kemarahan ini bisa ditujukan kepada orang lain, situasi, atau bahkan Tuhan.
Baca Juga: Dinamika Emosional Pasca Putus Cinta
Bargaining (Tawar-menawar)
Pada tahap ini, individu mencoba membuat kesepakatan atau perjanjian, misalnya dengan berjanji untuk berubah jika diberi kesempatan hidup lebih lama.
Depression (Depresi)
Setelah upaya tawar-menawar gagal, individu mungkin merasa sedih dan putus asa. Mereka mungkin menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa tidak berdaya.
Acceptance (Penerimaan)
Tahap akhir adalah penerimaan. Pada tahap ini, individu menerima kenyataan akan kematian dan mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi yang tak terhindarkan.
Fase Akhirat
Fase akhirat yaitu fase dari manusia meninggal hingga hari kiamat, atau mungkin hingga tak terhingga sebagaimana yang akan kita lihat nanti.
Menurut Mujib dan Mudzakir, fase akhirat ini terdiri dari periode tiupan sangkakala dan kebangkitan (al-ba’ts), al-hasyr atau dikumpulkannya seluruh manusia di padang mahsyar, al-mizan (al-hisab) atau ditimbang/dihitungnya amal manusia, shirath atau perjalanan menuju surga/neraka, serta neraka dan surga.
Namun, jika diamati lagi, karena batasan fase ini adalah sejak kematian, maka seharusnya kondisinya dimulai dari fase barzakh (kubur). Penjelasan yang Anda sampaikan mencakup pemahaman mendalam tentang fase akhirat berdasarkan kajian Islam, khususnya menurut Mujib dan Mudzakir.
Baca Juga: Living Hadits: Tradisi Ziarah Kubur dalam Agama Islam
1. Fase Barzakh (Kubur)
Dimulai sejak kematian hingga hari kiamat. Di fase ini, manusia berada dalam alam barzakh, yang menjadi penghubung antara dunia dan akhirat.
2. Tiupan Sangkakala dan Kebangkitan (Al-Ba’ts)
Tiupan sangkakala pertama: Menghancurkan alam semesta, menandai akhir dunia.
Tiupan sangkakala kedua: Kebangkitan semua makhluk dari kematian untuk menuju hari perhitungan (al-hisab).
3. Al-Hasyr (Pengumpulan di Padang Mahsyar)
Pengumpulan manusia di Padang Mahsyar, tempat semua makhluk dikumpulkan tanpa pengecualian
4. Al-Mizan dan Al-Hisab
Al-Mizan: Penimbangan amal baik dan buruk manusia menggunakan timbangan ilahi.
Al-Hisab: Proses perhitungan amal manusia secara rinci, baik amal kecil maupun besar.
5. Shirath (Jembatan Menuju Surga atau Neraka)
Shirath adalah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam, menuju surga.
Kondisi: Jembatan ini lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang.
Baca Juga: Resensi Buku: Berita Alam Gaib Sebelum dan Sesudah Hari Kemudian
6. Neraka dan Surga
Neraka (Jahannam): Tempat bagi orang yang kufur, munafik, dan banyak melakukan dosa tanpa tobat. Penuh dengan siksaan fisik dan psikologis.
Surga (Jannah): Tempat bagi orang-orang beriman yang bertakwa dan beramal saleh. Dipenuhi dengan kenikmatan, kedamaian, dan ridha Allah.
Penulis:
1. T. Nadila Humaira
2. Siti Aisha Azkia
3. Raudiah
4. Asriani
5. Chutcha Ananda Meutia Novi
6. Sri Melinda
7. Zakia Anisa
8. Rafi Arifin
Mahasiswa Prodi Psikologi Islam, Institut Agama Islam Negeri Langsa
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Dahlan, A. A. (2006). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: Jumanatul Ali Art.
Hurlock, E.B. (2008). Child Development. Boston: Pearson Education Inc.
Mujib A., & Mudzakir J. (2002). Nuansa-Nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Maryati, & Rezania. (2024). Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia, 1(4), 396-407. PDF.
Al-Liqo. (2019). Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 4(1), 1-14. DOI: 10.46963/alliqo.v4i1.12.
Hanafi, I. (2018). IQ (Ilmu Al-qur’an): Jurnal Pendidikan Islam, 1(01), 84-99. DOI: 10.37542/iq.v1i01.7 PDF.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












