Tercekik Pinjol dan Doom Spending: Memutus Rantai Kemiskinan Pemuda dengan Ekonomi Syariah

solusi tanpa riba
Ilustrasi Fenomena Doom Spending sebagai Respons Generasi Muda terhadap Tekanan Ekonomi (Foto: Pexels)

Pernahkah Anda merasa sangat lelah melihat realitas ekonomi yang serba tidak pasti, lalu memutuskan untuk membeli barang mahal secara daring (online) hanya agar merasa “sedikit lebih baik”?

Jika iya, Anda tidak sendirian. Fenomena ini dikenal dengan istilah doom spending, yakni kebiasaan belanja impulsif sebagai pelarian emosional dari rasa stres.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bagi banyak anak muda khususnya Generasi Gen Z di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, masa depan terasa begitu abu-abu.

Ditambah dengan beban menjadi generasi sandwich, di mana hampir separuh dari mereka (48,62%) mengaku kesulitan mencapai tujuan finansial karena harus menanggung hidup orang tua sekaligus.

Akhirnya, banyak yang memilih menghabiskan uang hari ini untuk kesenangan instan tanpa mempedulikan hari esok.

Sayangnya, ketika tabungan menipis, jalan pintas yang diambil sering kali adalah pinjaman online (pinjol).

Hanya dengan modal KTP dan swafoto, dana cair dalam hitungan menit.

Baca Juga: Rayuan Pinjaman Online (Pinjol): Antara Kebutuhan Mendesak, Kebutuhan Gengsi, dan Jebakan Lingkaran Setan

Padahal di balik kemudahan itu, ada ancaman bunga berbunga yang menanti.

Ironisnya, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juli 2024 membuktikan bahwa generasi muda (usia 19-34 tahun) menjadi penyumbang terbesar kredit macet pada platform fintech dengan porsi mencapai 37,17%.

Artinya tanpa disadari, generasi produktif kita sedang menggali lubang kemiskinannya sendiri.

solusi tanpa riba
Ilustrasi Kemudahan Pinjaman Online sering Berujung pada Jebakan Utang Berbunga (Foto: Pexels)

Kemiskinan Kultural dan Struktural

Dalam kacamata Ekonomi Syariah, terdapat dua akar permasalahan krisis ini.

Pertama adalah kemiskinan kultural akibat gaya hidup.

Secara ilmiah, doom spending akibat Fear of Missing Out (FOMO) sangat erat kaitannya dengan sifat israf (berlebih-lebihan) dan tabzir (menghamburkan harta pada hal yang sia-sia) yang dilarang dalam prinsip agama Islam.

Ekonomi Syariah mengajarkan bahwa harta adalah amanah yang harus digunakan dengan bijak.

Artinya, ketika Gen Z mendahulukan ego dan kepuasan pribadi (tahsiniyat) di atas kebutuhan pokok (dharuriyyat), mereka sejatinya sedang memiskinkan diri mereka sendiri secara mental karena hilangnya rasa qana’ah (merasa cukup) yang seharusnya dijadikan prinsip hidup. 

Kedua adalah kemiskinan struktural akibat sistem ribawi. Mengapa jebakan pinjol begitu merusak?

Jawabannya ada pada sistem bunganya yang secara langsung merugikan.

Praktik pembiayaan konvensional, terlebih pinjol ilegal, mengambil keuntungan berlipat ganda dari keputusasaan orang lain tanpa ada aktivitas ekonomi yang produktif.

Pada akhirnya, uang pinjaman habis untuk memenuhi gaya hidup, cicilan terus berbunga, sementara kemampuan finansial tak kunjung mengimbangi beban yang semakin bertambah.

Baca Juga: Gaji 3 Juta Tapi Mau Punya Rumah dan Tetap Nabung? Gini Rahasianya!

Jalan Keluar Berbasis Nilai Syariah

Memutus rantai kemiskinan Gen Z tidak cukup hanya dengan memblokir aplikasi pinjol ilegal.

Negara dan masyarakat perlu menghadirkan ekosistem substitusi yang memanusiakan peminjam.

Di sinilah instrumen keuangan sosial Islam yang sesuai syariat dapat dioptimalkan.

Pertama, melalui pembiayaan Qardhul Hasan (pinjaman kebajikan).

Lembaga keuangan mikro syariah, seperti Baitul Maal wat Tamwil (BMT), atau program pemerintah dapat memperluas akses pinjaman tanpa bunga dan tanpa denda.

Dana ini bisa digunakan sebagai talangan darurat (bailout) bagi pemuda yang terdesak kebutuhan dasar, sehingga mereka tidak perlu melirik pinjol sebagai alternatif.

Kedua, melalui penyaluran Zakat Produktif. Dana zakat dari para muzakki dapat dialokasikan untuk melunasi utang pemuda yang terjerat krisis parah (dalam kategori asnaf Gharimin), asalkan diikuti dengan program pembinaan kemandirian usaha.

Alih-alih menyalurkan utang konsumtif, pemuda harus ditarik masuk ke dalam sistem pemberdayaan modal bergulir berbasis syariah agar mereka dapat berdaya atas ekonomi nya sendiri. 

Baca Juga: Financial Management Learning for Students in Order to Avoid Financial Failures That Lead to Illegal Loans (Pinjol)

Ekonomi Syariah menawarkan solusi yang menyeluruh, prinsipnya melarang pemborosan, menghapus sistem bunga yang merusak, dan mengedepankan etika tolong-menolong (ta’awun).

Kini, saatnya generasi muda kembali menata literasi keuangannya.

Jangan malu untuk hidup sederhana sesuai kemampuan, namun malulah jika tampil mewah dari hasil jeratan hutang riba.


Penulis: Kelompok 3 Ekonomi Pembangunan Syariah
1. Mohammad Ramadhan Kawilarang (H5401241009)
2. Andromeda Zaenudin (H5401241017)
3. Aisyah Jazlyn Rizqia (H5401241019)
4. Revalina Salsabila (H5401241020)
5. Muhamad Falah Shadiq (H5401241121)
Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah, IPB University


Dosen Pengampu: Dr. Salahuddin El Ayyubi, Lc., M.A.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

  1. Tirto.id. (2023). Riset: Generasi Sandwich Kesulitan Mencapai Tujuan Finansial. Diakses dari https://tirto.id/riset-generasi-sandwich-kesulitan-mencapai-tujuan-finansial-gRzA.
  2. CNA Indonesia. (2024). Suka ngutang? Gen Z dan milenial dominasi kredit macet pinjol, tembus 37,17%. Diakses dari https://www.cna.id/indonesia/suka-ngutang-gen-z-dan-milenial-dominasi-kredit-macet-pinjol-tembus-3717-21291.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses