Di era ini, media sosial diibaratkan sebagai panggung teater, dan Gen Z adalah aktor utamanya. Hampir semua tren yang ramai di internet lahir dan hadir dari tangan generasi ini.
Mulai dari meme, bahasa gaul, sampai isu yang sedang hangat diperbincangkan, semuanya menyebar bagai angin tak kasat mata lewat unggahan Gen Z.
Media sosial yang dulu hanya menjadi tempat hiburan, kini berubah menjadi sandaran dan rutinitas harian yang melekat dalam kehidupan.
Dari bangun tidur hingga sebelum tidur lagi, layar ponsel nyaris tak pernah lepas dari genggaman.
Gen Z tumbuh bersama internet dan teknologi digital. Sejak usia muda, mereka sudah terbiasa berkomunikasi dan mengakses informasi hanya dengan sentuhan jari.
Mereka dikenal sebagai generasi spontan, kreatif, dan mudah beradaptasi dengan perubahan khususnya dengan teknologi baru dan tren yang terus berganti.
Media sosial memberi mereka ruang untuk berbicara tanpa harus menunggu panggung resmi.
Baca Juga: Budaya Stan K-Pop: Benarkah dapat Memperbaiki Kesehatan Mental Gen Z?
Di sinilah Gen Z mulai membangun identitas dan menunjukkan karakter mereka sebagai generasi yang aktif.
Lewat media sosial, Gen Z bebas menunjukkan siapa diri mereka. Banyak anak muda yang membagikan pengalaman hidup dengan berbagai plot twist didalamnya, keresahan tanpa rasa sungkan, hingga pendapat spontan mereka tentang dunia.
Berbagai topik seperti ketidakadilan sosial, kesehatan mental, hingga tekanan hidup, kini bisa dibicarakan dengan terbuka.
Dalam banyak hal, Gen Z sukses menjadikan media sosial sebagai ruang berbagi sekaligus ruang mencari dukungan.
Beberapa dari mereka merasa bahwa media sosial terasa lebih aman dibandingkan dunia nyata.
Walaupun dipandang sebagai pemilik “tahta” media sosial, nyatanya ada tekanan yang menjadi konsekuensinya.
Ada dorongan dan gairah tak kasat mata untuk selalu hadir, update, dan mengikuti tren. Linimasa datang dan pergi dengan cepat, sementara perhatian publik mudah berpindah.
Banyak Gen Z akhirnya merasa harus terus mengikuti arus agar tidak tertinggal. Ketika tidak membuka media sosial dalam waktu lama, muncul rasa cemas seolah ada sesuatu yang terlewat.
Baca Juga: Gen Z dan Kelelahan: Hustle Culture dan Ketimpangan Perlindungan Sosial di Indonesia
Tekanan ini sering kali muncul tanpa disadari. Awalnya hanya ingin berbagi dan bersenang-senang, lama-lama muncul keinginan untuk mendapatkan perhatian.
Likes, views, dan komentar adalah hal yang paling ditunggu. Media sosial perlahan mengubah cara Gen Z memandang pencapaian.
Angka-angka di layar perlahan memengaruhi perasaan dan kepercayaan diri, istilahnya dikenal sebagai “haus validasi”.
Ketika respons yang datang tidak sesuai harapan, rasa kecewa pun muncul. Padahal hal-hal yang ditampilkan di layar tidak selalu mencerminkan kualitas diri.
Di titik ini, media sosial mulai mempengaruhi kesehatan mental. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain seolah menjadi hal yang rutin.
Melihat pencapaian orang lain yang tampak sempurna bisa menimbulkan rasa iri, rasa kurang, dan tertinggal.
Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya sisi terbaik dari hidup seseorang.
Proses panjang, kegagalan, dan kelelahan jarang ditunjukkan. Perbandingan yang terus-menerus ini dapat membuat Gen Z merasa tidak cukup.
Baca Juga: Anak Gen Z harus Melek Ekonomi Syariah
Meski begitu, Gen Z tidak bisa hanya dilihat sebagai korban media sosial. Banyak anak muda memanfaatkan platform digital untuk hal-hal positif.
Ada yang membangun usaha kecil, berbagi ilmu, atau membuat konten edukatif. Media sosial menjadi alat untuk belajar, berkembang, dan membuka peluang.
Di tangan Gen Z, media sosial tidak hanya berisi hiburan, tetapi juga potensi.
Gen Z juga dikenal lebih kritis terhadap isu sosial. Media sosial membantu mereka mengakses berbagai sudut pandang dan informasi.
Diskusi tentang lingkungan, pendidikan, dan keadilan sosial semakin sering muncul. Banyak anak muda berani menyuarakan pendapat dan mengajak orang lain untuk peduli.
Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya mengejar popularitas, tetapi juga perubahan.
Namun, tantangan terbesar Gen Z adalah menjaga keseimbangan. Media sosial seharusnya membantu, bukan membebani kehidupan.
Ketika terlalu fokus pada citra digital, seseorang bisa lupa pada kebutuhan diri sendiri. Validasi dari media sosial tidak selalu mencerminkan nilai diri yang sebenarnya.
Di sinilah pentingnya kesadaran dalam menggunakan media sosial.
Pada akhirnya, “tahta” media sosial tidak harus selalu dikejar. Gen Z tidak wajib selalu viral, produktif, atau terlihat sempurna.
Baca Juga: Wrapped Fever: Laporan Tahunan yang Bikin Gen Z Heboh, dan Kenapa Gen Z Nunggu Wrapped Kayak Lebaran
Kebanyakan dari mereka adalah remaja yang masih mencari jati diri. Ada saatnya berhenti sejenak untuk memberi jeda.
Usia muda adalah proses belajar, bukan perlombaan siapa yang paling cepat berhasil. Setiap orang punya waktunya masing-masing.
Gen Z boleh menguasai media sosial, tetapi tetap perlu berpijak di dunia nyata. Media sosial hanyalah alat, bukan penentu nilai diri.
Yang terpenting adalah bagaimana Gen Z tetap menjadi diri sendiri di tengah dunia yang serba digital.
Tantangan generasi ini bukan hanya tentang bagaimana menarik perhatian sebanyak mungkin melainkan bagaimana tetap utuh sebagai manusia di tengah dunia yang serba cepat, serba tampil, dan serba dinilai.
Dengan kesadaran dan keseimbangan, tahta media sosial bisa menjadi ruang tumbuh yang menebar banyak hal positif bukan sumber tekanan. Media sosial akan terus berkembang.
Penulis: Tiyas Tri Anggraini
Mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Indonesia, UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
APJII. 2023. Survei Penetrasi dan Perilaku Internet Indonesia. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
Twenge, Jean M. 2017. iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy. New York: Atria Books.
We Are Social & Meltwater. 2024. Digital 2024: Indonesia. Global Overview Report.
Prensky, Marc. 2001. “Digital Natives, Digital Immigrants.” On the Horizon, Vol. 9 No. 5.
Arnett, Jeffrey Jensen. 2015. Emerging Adulthood: The Winding Road from the Late Teens through the Twenties. Oxford: Oxford University Press.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












