Geopolitik Mengguncang Harga Energi Global: Mengapa Perbankan Syariah Lebih Tangguh?

Ketahanan Perbankan Syariah
Lonjakan harga minyak akibat konflik Juni 2025 membuktikan kerentanan ekonomi global. Di tengah ketidakpastian ini, sistem perbankan syariah hadir sebagai solusi yang lebih adaptif dan tahan guncangan dibandingkan sistem konvensional. (Ilustrasi: Dok. Penulis)

Lonjakan harga energi global bukan sekadar krisis ekonomi, tetapi juga ujian bagi ketahanan sistem keuangan. Dalam situasi ini, perbankan syariah muncul sebagai alternatif yang semakin relevan karena prinsip bagi hasil dan risiko yang lebih seimbang dapat membantu mengurangi dampak ketidakpastian ekonomi.

Memanasnya konflik Israel dan Iran pada 13 Juni 2025 mendorong harga minyak dunia naik lebih dari 5 persen, sekaligus memicu kekhawatiran terhadap ekonomi global. Hal ini sejalan dengan tren krisis energi global yang kembali menjadi sorotan utama dalam beberapa tahun terakhir, di mana ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, terutama di Timur Tengah, serta konflik berkepanjangan seperti perang Rusia–Ukraina telah memicu lonjakan signifikan harga minyak dan gas dunia. Bahkan, dalam situasi tertentu, harga minyak dunia dapat melonjak lebih dari 5 persen hanya dalam satu hari akibat eskalasi konflik antarnegara, sehingga diperlukan solusi keuangan yang lebih adaptif dan tahan terhadap goncangan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Konflik Iran-Israel dan Kedaulatan Negara

Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar energi global sangat rentan terhadap dinamika geopolitik karena jalur distribusi energi yang strategis, seperti Selat Hormuz, memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan minyak dunia. Diperkirakan sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati jalur tersebut, sehingga gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut dapat langsung berdampak pada lonjakan harga energi secara global. Oleh karena itu, kestabilan ekonomi global sangat bergantung pada stabilitas geopolitik di kawasan penghasil dan pendistribusi energi utama.

Di sisi lain, permintaan energi dunia justru terus meningkat. Konsumsi energi global tercatat mengalami pertumbuhan sekitar 2 persen per tahun dan diproyeksikan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan populasi dunia. Hal ini menunjukkan, bahwa ketergantungan terhadap energi fosil masih sangat tinggi, meskipun berbagai negara telah mulai mendorong transisi menuju energi terbarukan.

Kombinasi antara meningkatnya permintaan dan terganggunya pasokan inilah yang menciptakan tekanan besar terhadap perekonomian global, karena ketidakseimbangan antara supply dan demand ini memicu kenaikan harga. Dampaknya terasa luas, mulai dari kenaikan biaya produksi, peningkatan harga barang, hingga melonjaknya inflasi di berbagai negara. Dalam kondisi seperti itu, stabilitas ekonomi menjadi semakin sulit untuk dipertahankan karena tekanan inflasi yang meningkat dan ketidakpastian ekonomi yang tinggi.

Baca juga: Amerika Serang Iran: Bara Konflik dan Guncangan Ekonomi Global

 

Tekanan terhadap Sistem Perbankan Konvensional

Di tengah tekanan ekonomi global, sektor perbankan menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Ketika biaya produksi meningkat, kemampuan pelaku usaha dalam menghasilkan keuntungan cenderung menurun Hal ini secara langsung memengaruhi kemampuan mereka dalam membayar kewajiban kredit kepada bank, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kredit macet dan mengganggu stabilitas keuangan.

Dalam sistem perbankan konvensional, mekanisme bunga menjadi faktor utama yang dapat memperberat beban nasabah. Ketika suku bunga meningkat sebagai respons terhadap inflasi, cicilan pinjaman yang harus dibayar oleh nasabah juga ikut meningkat. Hal ini menciptakan tekanan finansial yang semakin besar, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah, sehingga mereka lebih rentan terhadap risiko keuangan.

Sebagai ilustrasi, seorang pelaku usaha yang meminjam modal sebesar Rp100 juta dengan sistem bunga tetap, akan tetap diwajibkan membayar cicilan dalam jumlah yang sama setiap bulan. Ketentuan itu tetap berlaku meskipun kondisi usahanya sedang mengalami penurunan akibat kenaikan harga energi. Dalam kondisi krisis, situasi ini dapat mempercepat terjadinya gagal bayar bahkan kebangkrutan.

Selain itu, sistem bunga juga cenderung tidak fleksibel terhadap perubahan kondisi ekonomi. Bank tetap menuntut pembayaran sesuai perjanjian awal, tanpa mempertimbangkan apakah usaha nasabah sedang mengalami kerugian atau tidak. Hal ini membuat sistem perbankan konvensional dinilai kurang adaptif dalam menghadapi krisis ekonomi global.

Baca juga: Pengantar Dasar Perbankan Syariah dan Perbandingan dengan Sistem Konvensional

 

Perbankan Syariah sebagai Alternatif yang Lebih Stabil

Berbeda dengan sistem konvensional, perbankan syariah menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel melalui prinsip bagi hasil. Dalam sistem ini, hubungan antara bank dan nasabah tidak hanya sebatas kreditur dan debitur, tetapi juga sebagai mitra usaha yang berbagi risiko dan keuntungan.

Melalui skema seperti mudharabah atau musyarakah, keuntungan yang diperoleh dari suatu usaha akan dibagi sesuai dengan kesepakatan di awal. Sebaliknya, jika usaha mengalami kerugian, maka risiko tersebut juga akan ditanggung bersama sesuai dengan porsi masing-masing pihak.

Pendekatan ini memberikan keunggulan tersendiri, terutama dalam kondisi krisis. Ketika keuntungan usaha menurun akibat kenaikan biaya energi, maka beban yang harus ditanggung oleh nasabah juga ikut menurun. Hal ini berbeda dengan sistem bunga yang tetap menuntut pembayaran dalam jumlah tetap.

Sebagai contoh, pelaku usaha dengan modal Rp100 juta dalam skema syariah tidak dibebani cicilan tetap. Jika keuntungan usahanya turun, maka porsi bagi hasil yang diberikan kepada bank juga akan menurun. Dengan demikian, tekanan finansial yang dialami menjadi lebih ringan dan risiko kebangkrutan dapat diminimalkan.

Selain itu, perbankan syariah juga memiliki prinsip keterkaitan dengan sektor riil. Setiap pembiayaan harus didasarkan pada aktivitas ekonomi yang nyata, bukan spekulasi. Hal ini menjadikan sistem keuangan syariah lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh gejolak pasar yang bersifat spekulatif.

Baca juga: Inovasi Teknologi dalam Layanan Perbankan Syariah: Tantangan dan Peluang di Era Digital

Peluang dan Tantangan di Tengah Transisi Energi

Krisis energi global tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang baru, khususnya dalam pengembangan energi terbarukan. Banyak negara mulai beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Dalam konteks ini, perbankan syariah memiliki potensi besar untuk berperan melalui pembiayaan berbasis keberlanjutan atau green financing. Investasi dalam sektor energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, dapat menjadi peluang strategis bagi pengembangan industri keuangan syariah.

Di Indonesia, peluang ini semakin terbuka dengan adanya dukungan dari pemerintah dan regulator yang terus mendorong pertumbuhan ekonomi syariah. Namun, tantangan tetap ada. Tingkat literasi masyarakat terhadap keuangan syariah masih relatif rendah, dan pangsa pasar perbankan syariah juga masih terbatas dibandingkan dengan perbankan konvensional.

Selain itu, dalam praktiknya, sebagian produk pembiayaan syariah masih menyerupai sistem konvensional, terutama dalam skema jual beli seperti murabahah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam memperkuat keunikan dan daya saing perbankan syariah.

Baca juga: Apakah Literasi Rendah Hambat Keuangan Syariah?

Masa Depan Keuangan Syariah di Tengah Ketidakpastian Global

Krisis energi global pada akhirnya menunjukkan, bahwa sistem ekonomi dunia masih sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Ketergantungan terhadap energi fosil dan dinamika geopolitik membuat stabilitas ekonomi global sulit untuk dijaga dalam jangka panjang.

Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan akan sistem keuangan yang lebih adil, stabil, dan adaptif menjadi semakin penting. Perbankan syariah menawarkan nilai-nilai tersebut melalui prinsip keadilan, transparansi, dan pembagian risiko yang seimbang.

Namun, potensi tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya upaya yang serius dari berbagai pihak. Diperlukan penguatan regulasi, peningkatan literasi keuangan syariah, serta inovasi produk yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.

Di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat, perbankan syariah tidak hanya hadir sebagai alternatif, tetapi juga sebagai solusi yang menawarkan arah baru bagi sistem keuangan yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan.

 

Referensi:

NusaVox

(Data krisis ekonomi global pascaperang Israel-Iran dan eskalasinya)

International Energy Agency (IEA)
World Energy Outlook 2023
https://www.iea.org/reports/world-energy-outlook-2023
(Data konsumsi energi global dan proyeksi)

U.S. Energy Information Administration (EIA)
https://www.eia.gov
(Data produksi minyak, konsumsi, dan jalur distribusi global termasuk Selat Hormuz)

World Bank
Commodity Markets Outlook
https://www.worldbank.org/en/research/commodity-markets
(Data harga minyak dan dampaknya ke ekonomi global)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Statistik Perbankan Syariah Indonesia
https://www.ojk.go.id
(Data perkembangan bank syariah di Indonesia)

Bank Indonesia
Laporan Perekonomian Indonesia
https://www.bi.go.id
(Analisa inflasi, suku bunga, dan kondisi ekonomi)

International Monetary Fund (IMF)
World Economic Outlook
https://www.imf.org
(Analisa dampak krisis energi terhadap ekonomi global)

Dewan Syariah Nasional MUI
https://dsnmui.or.id
(Referensi akad syariah: mudharabah, musyarakah, dan lain-lain)

 


Penulis: Nasywan Maulana Althaf
Mahasiswa Ekonomi Syariah, Institut Pertanian Bogor University


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses