Setiap musim hujan tiba, persoalan sampah kembali menjadi isu yang berulang dan seolah tidak pernah benar-benar selesai. Sungai meluap, saluran air tersumbat, banjir terjadi di berbagai wilayah, dan tumpukan sampah.
Semakin banyaknya masyarakat yang tinggal di kota, pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, dan perilaku tidak ramah lingkungan mengakibatkan tumpukkan sampah semakin meningkat.
Fenomena ini bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan sosial yang berdampak langsung pada kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup masyarakat.
Ironisnya, hampir semua orang memahami bahwa membuang sampah sembarangan adalah perilaku yang salah. Edukasi mengenai kebersihan lingkungan telah diberikan sejak dini melalui keluarga, sekolah, media massa, hingga berbagai kampanye publik yang menyeluruh.
Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam perilaku sehari-hari. Seolah ada jarak yang sulit dijembatani antara apa yang diketahui dan apa yang benar-benar dilakukan.
Kondisi ini menandakan bahwa masalah sampah tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan kurangnya informasi. Tingkat kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan ikut menentukan perilaku pemilahan sampah di rumah tangga, jika pengetahuan saja cukup untuk mengubah perilaku, maka lingkungan sekitar kita seharusnya sudah jauh lebih bersih dan tertata.
Fakta bahwa perilaku membuang sampah sembarangan masih terus terjadi menunjukkan adanya faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi tindakan manusia. Salah satunya adalah bagaimana individu merespons kondisi lingkungan di sekitarnya.
Rasa cemas dan khawatir terhadap kerusakan lingkungan dapat mendorong sebagian orang untuk lebih peduli, namun bagi sebagian lainnya, ketidakpekaan emosional justru membuat perilaku abai terus berlanjut.
Di sinilah sudut pandang psikologi sosial menjadi penting untuk menjelaskan mengapa seseorang dapat mengetahui suatu perilaku sebagai kesalahan, tetapi tetap melakukannya tanpa rasa bersalah yang mendalam.
Pengetahuan Tidak Selalu Mengubah Perilaku
Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai kondisi ketika seseorang mengetahui apa yang benar, tetapi tidak bertindak sesuai dengan pengetahuan tersebut. Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai knowledge–behavior gap, yaitu kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku.
Banyak individu memiliki sikap positif terhadap lingkungan dan mengakui pentingnya menjaga kebersihan, namun kesadaran tersebut masih sebatas dipahami, belum dipraktikkan.
Perilaku membuang sampah sembarangan kerap dianggap sebagai tindakan kecil yang tidak membawa dampak berarti, terutama jika dilakukan sekali atau dalam situasi tertentu. Individu sering berpikir bahwa satu bungkus sampah tidak akan mengubah keadaan lingkungan secara signifikan.
Baca Juga: Indonesia Ternyata Jadi Tujuan Tempat ‘Membuang’ Pakaian Bekas dari Negara Lain
Padahal, jika perilaku ini dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus, dampaknya justru sangat besar dan merusak keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang.
Selain itu, perilaku membuang sampah sering dilakukan secara spontan dan otomatis. Ketika suatu tindakan telah menjadi kebiasaan, individu cenderung melakukannya tanpa melalui proses berpikir yang panjang.
Kebiasaan ini terbentuk dari pengulangan perilaku dalam konteks sosial yang sama, sehingga lama-kelamaan menjadi sesuatu yang terasa “normal”. Inilah yang menyebabkan berbagai kampanye dan imbauan moral tentang kebersihan sering kali tidak menghasilkan perubahan signifikan.
Edukasi tetap penting sebagai pondasi, tetapi tidak akan cukup jika tidak disertai upaya untuk mengubah kebiasaan yang telah mengakar dalam keseharian masyarakat.
Norma Sosial dan Lingkungan yang Membentuk Kebiasaan
Perilaku manusia tidak pernah lepas dari pengaruh lingkungan sosial di sekitarnya. Psikologi sosial menjelaskan bahwa individu cenderung menyesuaikan perilakunya dengan norma yang berlaku di lingkungan tempat ia berada. Norma sosial ini tidak selalu tertulis, tetapi hadir melalui contoh perilaku orang-orang di sekitar.
Ketika seseorang berada di lingkungan yang bersih dan terawat, ia biasanya merasa tidak pantas untuk membuang sampah sembarangan. Ada tekanan sosial yang tidak terlihat, berupa rasa malu atau takut dinilai negatif oleh orang lain.
Sebaliknya, ketika lingkungan sudah kotor dan dipenuhi sampah, perilaku membuang sampah sembarangan terasa lebih dapat diterima dan dianggap sebagai hal yang lumrah.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya persepsi tentang apa yang biasa dilakukan oleh orang lain atau kebiasaan yang umum terjadi di lingkungan. Dalam banyak situasi, individu lebih memilih mengikuti perilaku mayoritas dibandingkan berpegang teguh pada nilai pribadi yang dimilikinya.
Inilah sebabnya mengapa slogan dan imbauan moral sering kali kalah kuat dibandingkan contoh nyata di lingkungan sekitar. Selama perilaku abai terhadap kebersihan masih dianggap wajar dan tidak mendapatkan respons sosial yang tegas, perubahan perilaku akan sulit terjadi secara menyeluruh.
Ketika Tanggung Jawab Menjadi Milik Semua tetapi Tidak Dijalankan oleh Siapa-Siapa
Di ruang publik, persoalan sampah juga berkaitan erat dengan melemahnya rasa tanggung jawab individu. Banyak orang memandang kebersihan sebagai urusan petugas kebersihan atau pemerintah, bukan sebagai tanggung jawab pribadi. Padahal, partisipasi rumah tangga dalam memisahkan sampah rumah tangga tersebut berkontribusi besar dalam mengatasi pencemaran lingkungan.
Baca Juga: Warga Resah, Sampah Sepanjang Jalan Rawa Jaya Palembang Kotor dan Bau
Cara pandang ini membuat individu merasa tidak memiliki kewajiban langsung untuk menjaga lingkungan, karena selalu ada pihak lain yang dianggap lebih bertanggung jawab.
Dalam psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai diffusion of responsibility atau penyebaran tanggung jawab. Ketika tanggung jawab dianggap milik bersama, individu cenderung merasa perannya tidak terlalu penting. Akibatnya, lingkungan diperlakukan sebagai ruang tanpa pemilik, sehingga kepedulian terhadap kebersihan menjadi rendah.
Padahal, kualitas lingkungan hidup sangat ditentukan oleh akumulasi perilaku kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu. Tanpa adanya rasa kepemilikan dan tanggung jawab personal, upaya menjaga lingkungan akan selalu bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.
Kesadaran lingkungan tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk aturan dan sanksi, tetapi harus tumbuh sebagai nilai yang benar-benar dijalani dalam diri setiap warga.
Mengubah Perilaku dengan Mengubah Lingkungan Sosial
Jika masalah sampah dipahami sebagai masalah perilaku, maka solusi yang ditawarkan tidak bisa hanya mengandalkan edukasi atau himbauan moral.
Perubahan perlu diarahkan pada penciptaan lingkungan sosial yang mendukung perilaku ramah lingkungan secara nyata. Salah satu cara efektif adalah dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan sampah.
Kegiatan seperti kerja bakti, bank sampah, atau program pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab sekaligus rasa memiliki terhadap lingkungan. Ketika individu merasa menjadi bagian dari solusi, perilaku peduli lingkungan akan lebih mudah terbentuk dan dipertahankan.
Selain itu, contoh perilaku positif yang dilakukan secara konsisten oleh tokoh masyarakat atau komunitas lokal dapat memperkuat norma sosial yang mendukung kebersihan.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa perubahan perilaku individu akan lebih mudah terjadi jika norma dan sistem sosialnya juga berubah secara konsisten.
Dengan demikian, menjaga lingkungan bukan hanya soal mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi tentang membangun budaya bersama yang menjadikan perilaku peduli lingkungan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Perilaku membuang sampah sembarangan bukan semata-mata persoalan ketidaktahuan, melainkan persoalan bagaimana manusia memaknai tanggung jawab dan perannya di tengah masyarakat.
Sebagai bagian dari masyarakat sekaligus generasi muda, kita seringkali terjebak dalam kebiasaan yang dianggap sepele, padahal berdampak besar bagi lingkungan sekitar.
Baca Juga: Dampak Pencemaran Tanah bagi Kesehatan, Ekonomi dan Ekosistem
Menjaga lingkungan pada akhirnya bukan hanya tentang aturan dan sanksi, tetapi tentang kesadaran bersama yang tumbuh dari kebiasaan sehari-hari. Perubahan mungkin tidak terjadi secara instan, tetapi dapat dimulai dari langkah kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya dan saling mengingatkan.
Ketika lingkungan sosial mulai peduli dan memberi contoh positif, perilaku menjaga kebersihan tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang dipaksakan, melainkan sebagai bagian alami dari kehidupan bersama.
Penulis: Balqis Kayla Rasyid
Mahasiswa Prodi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Dosen Pengampu: Drs. Soleh Amini Yahman, M.Si., Psikolog.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Bakul, F., Heanoy, E. Z., Antu, A. D., Khandakar, F., & Ahmed, S. (2025). Assessing the relationship between climate change anxiety, ecological coping, and pro-environmental behavior: Evidence from Gen Z Bangladeshis. Acta Psychologica, 254, Article 104847. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.104847
Bamberg, S., Rees, J., & Seebauer, S. (2021). Collective climate action: Determinants of participation intention in community-based pro-environmental initiatives. Journal of Environmental Psychology, 76, 101651. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2021.101651
Rifai, M. K., Kartikaningsih, H., & Susilo, A. (2024). Optimalisasi Reduksi Sampah dengan Keterlibatan Masyarakat Melalui Pengolahan Sampah Perkotaan di TPS-3R Janti Berseri Waru-Sidoarjo. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22(6), 1562-1572. https://doi.org/10.14710/jil.22.6.1562-1572
Sembiring, E., Fenitra, R. M., Dangkua, A. R., Al Khoeriyah, Z. B., Van Der Laan, A. Z., Fan, Y., & Jobling, S. (2025). Exploring household waste management behavior through the stimulus-organism-response model. Acta Psychologica, 262, Article 106083. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.106083
Wahfiuddin, M. H., & Riyanto, R. (2024). Partisipasi Rumah Tangga dalam Program Bank Sampah: Studi Kasus di Kota Depok. Jurnal Ilmu Lingkungan, 22(2), 464-471. https://doi.org/10.14710/jil.22.2.464-471
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












