Konstruksi Makna Penggunaan Website Mitradarat dalam Mendukung Kinerja Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas I Jawa Barat

Logo Mitradarat

Abstract

This study aims to analyze, understand, deepen, interpret, and interpret the Construction of Meaning in the Use of the Mitradarat Website in Supporting the Performance of the West Java Class I Land Transportation Management Agency.

The research method used in this study is a descriptive method with a qualitative approach. Data collection used is a literature study and field study.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

The results of the study show that at the externalization stage, the Mitradarat Website is the result of the outpouring of activities, thoughts, and work practices of West Java Class I BPTD employees into a digital system.

The website was created and developed in response to the organization’s needs in land transportation management, reporting, coordination, and information provision.

Furthermore, at the objectivation stage, the Mitradarat Website along with its systems, procedures, data, and usage norms undergo a transformation into an objective reality.

The internalization stage shows how the objective reality of the Mitradarat Website is reabsorbed into employee awareness through the organizational socialization process.

Employees interpret the website as a performance support tool, a means of coordination, and a symbol of professionalism, transparency, and work accountability.

This interpretation shapes the attitudes, perceptions, and work behavior of employees, so that the use of the Mitradarat Website is carried out consciously, routinely, and is considered an inseparable part of carrying out daily tasks.

Keywords: construction of meaning, Mitradarat website, organizational communication, organizational performance, public organization.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa, mengetahui, mendalami, mengartikan dan menginterpretasikan tentang Konstruksi Makna Penggunaan Website Mitradarat dalam Mendukung Kinerja Balai Pengelola Transportasi Darat Kelas I Jawa Barat.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur dan studi lapangan.

Hasil Penelitian menunjukan bahwa pada tahap eksternalisasi, Website Mitradarat merupakan hasil pencurahan aktivitas, pemikiran, dan praktik kerja pegawai BPTD Kelas I Jawa Barat ke dalam sistem digital.

Website diciptakan dan dikembangkan sebagai respons atas kebutuhan organisasi dalam pengelolaan transportasi darat, pelaporan, koordinasi, serta penyediaan informasi.

Selanjutnya, pada tahap objektivasi, Website Mitradarat beserta sistem, prosedur, data, dan norma penggunaannya mengalami transformasi menjadi realitas yang bersifat objektif.

Tahap internalisasi menunjukkan bagaimana realitas objektif Website Mitradarat diserap kembali ke dalam kesadaran pegawai melalui proses sosialisasi organisasi.

Pegawai memaknai website sebagai alat pendukung kinerja, sarana koordinasi, serta simbol profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas kerja.

Pemaknaan ini membentuk sikap, persepsi, dan perilaku kerja pegawai, sehingga penggunaan Website Mitradarat dilakukan secara sadar, rutin, dan dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tugas sehari-hari.

Kata kunci: konstruksi makna, website Mitradarat, komunikasi organisasi, kinerja organisasi, organisasi publik.

Pendahuluan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan mendasar dalam pengelolaan organisasi publik.

Pemanfaatan teknologi digital, khususnya website resmi instansi pemerintah, berperan strategis dalam meningkatkan efektivitas kerja, kinerja organisasi, dan kualitas pelayanan publik.

Website tidak lagi sekadar berfungsi sebagai media informasi, tetapi telah berkembang menjadi media komunikasi organisasi yang mendukung koordinasi kerja, integrasi proses, serta interaksi dengan para pemangku kepentingan.

Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas I Jawa Barat merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Kementerian Perhubungan Republik Indonesia yang memiliki peran penting dalam pengelolaan dan pengawasan transportasi darat di wilayah Jawa Barat.

Kompleksitas tugas yang mencakup pengendalian operasional, pelayanan, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan mitra kerja menuntut dukungan sistem informasi yang efektif dan efisien.

Dalam konteks ini, website Mitradarat dikembangkan sebagai media digital untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi BPTD Kelas I Jawa Barat.

Namun, keberhasilan pemanfaatan website Mitradarat tidak dapat dinilai hanya dari keberadaan sistem atau kelengkapan fitur semata.

Sebagian besar penelitian sebelumnya mengenai website dan sistem informasi pemerintah lebih menekankan aspek teknis, seperti kualitas sistem, kemudahan penggunaan, kepuasan pengguna, dan dampaknya terhadap efektivitas kerja secara kuantitatif.

Meskipun penting, pendekatan tersebut belum sepenuhnya menjelaskan peran pengalaman subjektif dan proses pemaknaan pengguna dalam menentukan keberhasilan penggunaan website dalam konteks organisasi.

Kajian komunikasi organisasi dan konstruksi makna menegaskan bahwa teknologi tidak bersifat netral, melainkan dimaknai dan dimanfaatkan sesuai dengan pengalaman, interaksi, serta konteks sosial penggunanya.

Makna yang dibangun terhadap media digital memengaruhi cara media tersebut digunakan, diintegrasikan dalam proses kerja, dan dijadikan bagian dari praktik organisasi sehari-hari.

Namun demikian, penelitian yang secara khusus mengkaji konstruksi makna penggunaan website pemerintah dalam mendukung kinerja organisasi, khususnya pada sektor transportasi darat, masih terbatas.

Penelitian terkait sebelumnya telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan fokus yang berbeda.

Karina Dona (2021) dalam penelitiannya berjudul Sistem Pengendalian Manajemen dalam Meningkatkan Kinerja pada Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah XVI Provinsi Kalimantan Tengah menemukan bahwa sistem pengendalian manajemen di BPTD tersebut telah berjalan cukup baik.

Hal ini ditunjukkan melalui adanya perencanaan program dan kegiatan yang terstruktur, kepemimpinan yang berperan aktif dalam mengoordinasikan dan mengarahkan pegawai, serta pelaksanaan pertanggungjawaban kerja yang dijalankan secara optimal oleh aparatur sesuai dengan amanah pimpinan.

Selanjutnya, penelitian oleh Edi Jusriadi (2018) berjudul Konstruksi Dimensi Intellectual Capital dalam Mendukung Kinerja Dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa peningkatan kinerja dosen sangat dipengaruhi oleh penguatan human capital, khususnya melalui pengembangan Intellectual Emotional Spiritual Quotient (IES-Q).

Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa tidak seluruh dimensi intellectual capital berkontribusi secara langsung terhadap peningkatan kinerja caturdharma dosen.

Penelitian lain dilakukan oleh Ananda Maharani (2025) dengan judul Konstruksi Makna Budaya Komunikasi di Perusahaan (Studi Fenomenologi pada Karyawan Suara Surabaya Media).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya komunikasi memiliki peran penting dalam membentuk identitas perusahaan dan hubungan antar karyawan.

Konstruksi makna budaya komunikasi dipengaruhi oleh nilai organisasi, norma, serta pengalaman individu.

Temuan ini menegaskan bahwa budaya komunikasi yang positif dan efektif perlu dikelola secara strategis melalui pelatihan komunikasi, pedoman komunikasi internal, dan pendekatan yang inklusif terhadap perbedaan budaya.

Dalam konteks penggunaan Website Mitradarat, terdapat kecenderungan bahwa pegawai memaknai media ini secara berbeda.

Sebagian pengguna memandang website sebagai sarana strategis yang mendukung koordinasi, pelaporan, dan efisiensi kerja, sementara sebagian lainnya menganggapnya hanya sebagai perangkat administratif atau pemenuhan kewajiban formal organisasi.

Perbedaan konstruksi makna tersebut berpotensi memengaruhi frekuensi penggunaan, tingkat kepercayaan terhadap sistem, serta kontribusi Website Mitradarat terhadap kinerja Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas I Jawa Barat.

Namun, hingga saat ini belum banyak kajian yang secara mendalam menelaah bagaimana proses konstruksi makna tersebut terbentuk serta dampaknya terhadap kinerja organisasi.

Berdasarkan kondisi tersebut, dapat diidentifikasi adanya kesenjangan penelitian antara studi yang menitikberatkan pada aspek teknis dan kuantitatif pemanfaatan website pemerintah dengan kebutuhan akan penelitian yang mengkaji dimensi subjektif, interpretatif, dan kontekstual dari pengalaman pengguna.

Penelitian mengenai Website Mitradarat selama ini belum secara komprehensif mengeksplorasi bagaimana makna penggunaan website dikonstruksikan oleh pegawai dan bagaimana konstruksi makna tersebut berperan dalam mendukung kinerja organisasi.

Kajian Pustaka dan Kerangka Pemikiran

Komunikasi dalam Organisasi Publik

Dalam konteks organisasi, komunikasi dipahami sebagai unsur utama yang memungkinkan terwujudnya koordinasi, proses pengambilan keputusan, serta realisasi tujuan kolektif.

Goldhaber (2019) mengemukakan bahwa komunikasi organisasi merupakan proses pembentukan dan pertukaran pesan dalam jaringan hubungan yang saling terkait guna merespons ketidakpastian lingkungan.

Perspektif ini menunjukkan bahwa kelangsungan hidup organisasi sangat ditentukan oleh sejauh mana komunikasi dijalankan secara efektif.

Organisasi publik memiliki ciri khas yang membedakannya dari organisasi privat, terutama karena fokusnya pada pelayanan masyarakat dan implementasi kebijakan publik.

Denhardt dan Denhardt (2015), melalui pendekatan New Public Service, menekankan bahwa organisasi publik tidak semata-mata berfungsi sebagai pelaksana administrasi, tetapi juga bertanggung jawab membangun komunikasi yang bersifat demokratis, terbuka, dan melibatkan partisipasi publik.

Dengan demikian, komunikasi dalam organisasi publik memegang peranan strategis dalam membangun kepercayaan masyarakat serta memperkuat legitimasi institusional.

Menurut Garnett, Marlowe, dan Pandey (2018), komunikasi dalam organisasi publik berperan sebagai instrumen utama untuk menyelaraskan kebijakan, struktur birokrasi, dan perilaku aparatur negara.

Penerapan komunikasi yang efektif memungkinkan peningkatan kinerja organisasi, penguatan koordinasi antarsatuan kerja, serta pengurangan distorsi informasi dalam pelaksanaan pelayanan publik.

Seiring kemajuan teknologi informasi, praktik komunikasi organisasi publik turut mengalami perubahan yang signifikan.

Castells (2019) menyatakan bahwa organisasi kontemporer beroperasi dalam network society, di mana komunikasi dimediasi oleh teknologi digital yang memengaruhi pola kerja, distribusi kekuasaan, dan proses pengambilan keputusan.

Dalam konteks tersebut, media digital seperti situs web institusional menjadi komponen penting dalam sistem komunikasi organisasi publik.

Komunikasi Organisasi di Era Digital

Komunikasi organisasi di era digital mengalami transformasi signifikan akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Digitalisasi tidak hanya mengubah media komunikasi, tetapi juga memengaruhi pola interaksi, koordinasi, serta pembentukan makna kerja dalam organisasi.

Leonardi, Treem, dan Jackson (2019) menegaskan bahwa teknologi digital bersifat konstitutif karena mampu membentuk struktur komunikasi, pola kerja, dan relasi kekuasaan organisasi.

Dalam kajian Ilmu Komunikasi, komunikasi organisasi digital dipahami sebagai pertukaran pesan yang dimediasi oleh berbagai platform teknologi seperti website dan sistem informasi.

Media digital memungkinkan komunikasi berlangsung lebih cepat, terdokumentasi, dan terstandarisasi, sekaligus menuntut kemampuan adaptasi dari anggota organisasi (Miller, 2020).

Perkembangan ini menggeser komunikasi internal dari dominasi tatap muka menuju sistem berbasis teks dan dokumen digital yang berfungsi sebagai rujukan kerja utama (Putnam & Nicotera, 2019).

Website organisasi berperan sebagai bentuk text yang menginstitusionalisasi percakapan organisasi ke dalam sistem formal yang mereproduksi nilai, norma, dan standar kinerja (Schoeneborn et al., 2019).

Selain itu, anggota organisasi berperan sebagai penafsir teknologi dalam praktik kerja sehari-hari, sehingga pemanfaatan media digital sangat menentukan efektivitas komunikasi dan kinerja organisasi (Orlikowski, 2021).

Dalam konteks organisasi publik, komunikasi digital juga diarahkan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan kualitas pelayanan, dengan website pemerintah berfungsi sebagai penghubung komunikasi internal sekaligus eksternal dengan masyarakat (Meijer & Bekkers, 2018).

Website sebagai Media Komunikasi Organisasi

Website merupakan media berbasis internet yang terdiri atas halaman-halaman digital saling terhubung dan dapat diakses secara global.

O’Brien menjelaskan bahwa website berfungsi sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi dalam berbagai format, seperti teks, visual, dan audiovisual, yang memungkinkan penyampaian informasi secara cepat, fleksibel, serta melampaui batas ruang dan waktu.

Dalam perspektif komunikasi organisasi, website dipahami sebagai media komunikasi formal yang dikelola secara institusional untuk menyampaikan pesan resmi, informasi, dan identitas organisasi.

Oleh karena itu, konten dan desain website mencerminkan nilai, tujuan, serta budaya organisasi.

Dalam konteks organisasi publik, website menjadi elemen penting dalam implementasi e-government yang bertujuan meningkatkan efisiensi administrasi, transparansi, dan kualitas pelayanan publik (Heeks, 2018).

Website pemerintah berfungsi sebagai media komunikasi strategis yang mencakup dimensi informasi, interaksi, dan integrasi organisasi (Mergel et al., 2019).

Selain sebagai sarana komunikasi eksternal dengan masyarakat, website juga berperan dalam membentuk komunikasi internal melalui fungsi dokumentasi, pengaturan alur kerja, dan standar operasional (Davis & West, 2020).

Website pemerintah berfungsi sebagai text organisasi yang menghubungkan percakapan informal dengan aturan formal, serta menjadi rujukan utama dalam praktik kerja dan pengambilan keputusan (Schoeneborn et al., 2019).

Secara simbolik, website merepresentasikan komitmen organisasi publik terhadap transparansi, profesionalisme, dan akuntabilitas, yang memengaruhi persepsi publik maupun aparatur internal (Jaeger & Bertot, 2018).

Konstruksi Sosial atas Realitas

Konstruksi sosial atas realitas merupakan perspektif sosiologis yang memandang kenyataan sosial bukan sebagai sesuatu yang bersifat objektif dan alamiah, melainkan sebagai hasil dari proses interaksi sosial yang berlangsung secara berkelanjutan.

Realitas dipahami sebagai produk kolektif yang dibentuk melalui bahasa, simbol, institusi, dan praktik sosial, sehingga fakta, norma, nilai, identitas, serta kategori sosial seperti gender, ras, dan kelas merupakan hasil konstruksi sosial.

Oleh karena itu, realitas sosial bersifat dinamis, kontekstual, dan senantiasa dapat berubah seiring perubahan relasi kuasa, konsensus sosial, dan budaya masyarakat.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam The Social Construction of Reality (1966) menjelaskan bahwa realitas kehidupan sehari-hari terbentuk melalui tiga momen dialektis, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.

Eksternalisasi merujuk pada proses ketika manusia secara aktif menciptakan dunia sosial melalui aktivitas fisik dan mental, termasuk pembentukan budaya, bahasa, norma, nilai, dan institusi.

Proses ini merupakan keharusan antropologis karena manusia tidak memiliki tatanan biologis yang sepenuhnya stabil, sehingga harus membangun lingkungannya sendiri secara sosial.

Objektivasi merupakan tahap ketika hasil-hasil eksternalisasi tersebut memperoleh status sebagai realitas yang tampak objektif dan terlepas dari penciptanya.

Produk sosial seperti institusi, norma, dan sistem makna kemudian dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, memiliki daya mengikat, dan mengatur perilaku individu. Dalam proses ini terjadi tipifikasi dan institusionalisasi, di mana pola-pola tindakan yang diulang menjadi standar, sementara asal-usul sosialnya kerap terlupakan.

Internalisasi adalah proses di mana realitas objektif yang telah terinstitusionalisasi diserap kembali ke dalam kesadaran individu melalui sosialisasi.

Melalui sosialisasi primer dalam keluarga dan sosialisasi sekunder dalam institusi sosial lainnya, individu tidak hanya mengenal norma dan peran sosial, tetapi juga menghayatinya sebagai bagian dari identitas dan cara pandang terhadap dunia.

Akibatnya, realitas sosial diperlakukan sebagai sesuatu yang taken for granted dan sah secara subjektif.

Ketiga momen dialektis tersebut membentuk satu kesatuan proses yang berkelanjutan, di mana masyarakat merupakan hasil ciptaan manusia, masyarakat tampil sebagai realitas objektif, dan manusia pada akhirnya dibentuk kembali oleh realitas sosial yang diciptakannya sendiri.

Dengan demikian, konstruksi dan rekonstruksi realitas sosial berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan masyarakat.

Kerangka Pemikiran

Kerangka konstruksi sosial Berger dan Luckmann dapat digunakan untuk menjelaskan proses tersebut melalui tiga momen dialektis.

Pertama, eksternalisasi, yaitu proses ketika BPTD Jawa Barat menciptakan dan mengimplementasikan Website Mitradarat sebagai wujud pencurahan aktivitas kerja, pemikiran, dan tindakan pegawai ke dalam sistem digital.

Melalui interaksi dengan website, pegawai mengekspresikan kebutuhan kerja, praktik operasional, dan pengetahuan pengelolaan transportasi darat, sehingga terbentuk pola penggunaan, data, dan praktik kerja digital dalam organisasi.

Kedua, objektivasi, yaitu proses ketika hasil aktivitas digital tersebut memperoleh status sebagai realitas yang tampak objektif dan terlepas dari penciptanya.

Website Mitradarat beserta sistem, prosedur, data, dan norma penggunaannya kemudian hadir sebagai struktur yang harus diikuti oleh pegawai, memiliki daya mengikat, dan dipandang sebagai bagian dari tatanan kerja yang mapan.

Ketiga, internalisasi, yaitu proses ketika realitas objektif tersebut diserap ke dalam kesadaran pegawai. Dalam tahap ini,

Website Mitradarat dimaknai sebagai sarana pendukung kinerja, alat koordinasi, serta simbol profesionalisme dan transparansi organisasi.

Pemaknaan ini membentuk sikap, persepsi, dan pola perilaku kerja pegawai, sehingga penggunaan website menjadi praktik yang rutin, sadar, dan dianggap sebagai kebutuhan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Melalui internalisasi, sistem digital Mitradarat bertransformasi dari struktur teknis menjadi realitas subjektif yang memengaruhi cara pegawai bekerja dan menilai kinerja organisasi.

Gambar 2.1 Model Kerangka Pemikiran (Sumber: Hasil Olahan Peneliti, 2026)

Metode Penelitian

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.

Menurut Sugiyono (2007), penelitian kualitatif tidak mengenal istilah populasi, melainkan menggunakan konsep social situation yang mencakup tiga unsur utama, yaitu tempat (place), pelaku (actor), dan aktivitas (activity) yang saling berinteraksi. 

Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data, yaitu studi pustaka dan studi lapangan.

Studi pustaka dilakukan dengan menelaah buku, jurnal, artikel ilmiah, serta sumber daring yang relevan guna memperoleh landasan teoritis dan menghindari duplikasi penelitian.

Keabsahan data dalam penelitian ini diuji menggunakan teknik triangulasi data.

Menurut Sugiyono (2012), triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari berbagai metode pengumpulan data pada sumber yang sama.

Data hasil wawancara diverifikasi melalui observasi langsung dan dokumentasi yang relevan, sehingga diperoleh temuan yang valid dan kredibel mengenai konstruksi makna penggunaan Website Mitradarat dalam mendukung kinerja BPTD Kelas I Jawa Barat.

Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan mengacu pada model analisis interaktif Miles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2008), yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. 

Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi dan memfokuskan data yang relevan dengan penelitian.

Data kemudian disajikan dalam bentuk narasi yang sistematis untuk memudahkan pemahaman.

Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan melalui interpretasi data secara logis dan verifikasi berkelanjutan, sehingga diperoleh pemahaman yang mendalam mengenai konstruksi makna penggunaan Website Mitradarat dalam mendukung kinerja BPTD Kelas I Jawa Barat.

Hasil dan Pembahasan

Eksternalisasi dalam Konstruksi Makna Penggunaan Website Mitradarat

Berdasarkan hasil penelitian di Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas I Jawa Barat, proses eksternalisasi tercermin dalam upaya organisasi dan para pegawainya dalam menciptakan, mengembangkan, dan menggunakan Website Mitradarat sebagai bagian dari aktivitas kerja sehari-hari.

Website Mitradarat tidak muncul sebagai entitas yang netral atau otomatis, melainkan sebagai hasil dari pencurahan gagasan, kebutuhan, dan praktik kerja pegawai dalam menghadapi tuntutan pelayanan publik, transparansi, serta efisiensi birokrasi.

Secara biologis dan organisatoris, pegawai BPTD Kelas I Jawa Barat menghadapi keterbatasan dalam mengelola data, informasi, dan koordinasi kerja secara manual.

Kondisi tersebut mendorong munculnya kebutuhan akan suatu sistem digital yang mampu mengakomodasi kompleksitas pengelolaan transportasi darat.

Dalam konteks ini, Website Mitradarat menjadi bentuk eksternalisasi kebutuhan tersebut, dimana pegawai mengekspresikan pemikiran, pengalaman, serta pengetahuan teknis mereka ke dalam sebuah sistem digital yang terstruktur.

Hasil observasi menunjukkan bahwa berbagai aktivitas kerja pegawai seperti penginputan data, penyampaian informasi, pelaporan kegiatan, dan koordinasi internal dapat diterjemahkan ke dalam fitur-fitur dan alur kerja yang terdapat dalam Website Mitradarat.

Proses ini mencerminkan aktivitas produktif sebagaimana dijelaskan Berger dan Luckmann, dimana manusia menghasilkan produk-produk sosial berupa sistem, teknologi, dan institusi yang mendukung keberlangsungan kehidupan sosial.

Website Mitradarat dalam hal ini dapat dipahami sebagai produk kebudayaan organisasi yang lahir dari interaksi antara kebijakan, teknologi, dan praktik kerja pegawai.

Selain itu, proses eksternalisasi juga berlangsung secara berkelanjutan. Website Mitradarat tidak bersifat statis, melainkan terus mengalami penyesuaian seiring dengan dinamika kebutuhan organisasi, perubahan kebijakan, serta pengalaman pengguna.

Pegawai secara terus-menerus berinteraksi dengan website tersebut, memberikan masukan, menyesuaikan cara penggunaan, serta mengembangkan pola kerja baru yang lebih terintegrasi dengan sistem digital.

Hal ini menunjukkan bahwa eksternalisasi bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan proses dinamis yang terus berlangsung dalam kehidupan organisasi.

Melalui proses eksternalisasi ini, BPTD Kelas I Jawa Barat secara tidak langsung membangun “dunia sosial digital” yang baru.

Website Mitradarat menjadi ruang dimana nilai-nilai organisasi seperti profesionalisme, transparansi, akuntabilitas, dan modernisasi birokrasi diekspresikan secara nyata.

Dengan demikian, Website Mitradarat bukan sekadar alat teknis, tetapi merupakan hasil konstruksi sosial yang merepresentasikan cara organisasi memahami tugas, tanggung jawab, dan kinerjanya.

Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa proses eksternalisasi dalam penggunaan Website Mitradarat terjadi melalui pencurahan aktivitas kerja, pemikiran, dan kebutuhan pegawai ke dalam sistem digital.

Proses ini menjadi fondasi awal bagi terbentuknya realitas sosial organisasi yang kemudian akan berlanjut pada tahap objektivasi dan internalisasi dalam konstruksi makna penggunaan Website Mitradarat dalam mendukung kinerja BPTD Kelas I Jawa Barat.

Objektivasi dalam Konstruksi Makna Penggunaan Website Mitradarat

Berdasarkan hasil penelitian di Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas I Jawa Barat, proses objektivasi terlihat jelas dalam keberadaan dan penggunaan Website Mitradarat.

Website Mitradarat yang pada awalnya merupakan hasil pencurahan gagasan, kebutuhan, dan praktik kerja pegawai (eksternalisasi), dalam perkembangannya telah berubah menjadi sistem yang dipandang sebagai bagian dari struktur kerja organisasi yang “sudah ada”, “resmi”, dan “harus digunakan”.

Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa Website Mitradarat tidak lagi dipersepsikan sebagai sekadar inovasi atau proyek digital, melainkan sebagai sistem kerja yang memiliki legitimasi institusional.

Pegawai menghadapi website tersebut sebagai realitas objektif yang mengatur alur kerja, tata cara pelaporan, penyampaian informasi, serta koordinasi antarbagian.

Dalam konteks ini, Website Mitradarat tampil sebagai fakta eksternal yang memiliki daya paksa, dimana pegawai dituntut untuk menyesuaikan perilaku kerjanya sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang telah ditetapkan dalam sistem digital tersebut.

Proses objektivasi juga ditandai dengan keterpisahan antara Website Mitradarat dan para penciptanya.

Banyak pegawai, khususnya yang tidak terlibat langsung dalam tahap awal pengembangan website, memandang sistem tersebut sebagai sesuatu yang “sudah seharusnya ada” dan bukan sebagai hasil dari konstruksi sosial yang diciptakan oleh manusia.

Asal-usul sosial website sebagai produk dari keputusan organisasi, kebijakan birokrasi, dan inisiatif pegawai yang cenderung terlupakan, sehingga Mitradarat diperlakukan sebagai sistem yang given dan tidak dapat diabaikan.

Selain itu, objektivasi juga tercermin melalui proses tipifikasi dan institusionalisasi.

Dalam tahap selanjutnya, proses objektivasi mencapai bentuk institusionalisasi ketika Website Mitradarat dilegitimasi melalui kebijakan resmi, Standar Operasional Prosedur (SOP), serta sistem evaluasi kinerja.

Website tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi menjadi bagian dari institusi kerja yang mengatur hubungan antarpegawai, hubungan organisasi dengan publik, serta cara kinerja dipahami dan diukur.

Dengan demikian, Website Mitradarat tampil sebagai institusi digital yang memiliki sifat relatif permanen dan objektif dalam struktur organisasi BPTD Kelas I Jawa Barat.

Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa proses objektivasi dalam penggunaan Website Mitradarat berlangsung melalui perubahan status sistem digital dari produk subjektif menjadi realitas objektif yang mengatur perilaku kerja pegawai.

Website Mitradarat menghadapi pegawai sebagai struktur eksternal yang bersifat memaksa, terinstitusionalisasi, dan sering kali dipandang terlepas dari asal-usul sosialnya.

Proses objektivasi ini menjadi jembatan penting menuju tahap internalisasi, dimana realitas objektif tersebut selanjutnya diserap dan dimaknai secara subjektif oleh individu dalam organisasi.

Internalisasi dalam Konstruksi Makna Penggunaan Website Mitradarat

Berdasarkan hasil penelitian di Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas I Jawa Barat, proses internalisasi penggunaan Website Mitradarat terjadi terutama melalui mekanisme sosialisasi sekunder, yaitu sosialisasi yang berlangsung dalam konteks organisasi kerja.

Pegawai mempelajari penggunaan website melalui berbagai bentuk sosialisasi institusional, seperti pelatihan, pendampingan kerja, arahan pimpinan, kebijakan internal, serta praktik kerja sehari-hari yang melibatkan sistem Mitradarat.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa seiring dengan intensitas penggunaan yang berulang, pegawai mulai memaknai Website Mitradarat bukan hanya sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai bagian integral dari pelaksanaan tugas dan tanggung jawab kerja.

Website dipahami sebagai sarana utama untuk pelaporan, koordinasi, akses informasi, serta representasi kinerja organisasi.

Pemaknaan ini menandakan bahwa realitas objektif berupa sistem digital Mitradarat telah terinternalisasi ke dalam kesadaran subjektif pegawai.

Proses internalisasi juga tercermin dalam pembentukan identitas dan peran profesional pegawai.

Pegawai mulai mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari organisasi yang modern, transparan, dan berbasis sistem digital.

Penggunaan Website Mitradarat dimaknai sebagai indikator profesionalisme, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap standar kerja organisasi.

Dengan demikian, website tidak hanya mengatur apa yang harus dilakukan, tetapi juga membentuk cara pegawai memahami siapa diri mereka dalam struktur organisasi.

Selain itu, internalisasi menghasilkan legitimasi subjektif terhadap Website Mitradarat.

Pegawai tidak lagi menggunakan website semata-mata karena adanya tekanan atau pengawasan eksternal, melainkan karena sistem tersebut telah diterima sebagai sesuatu yang wajar dan diperlukan dalam pekerjaan.

Website diperlakukan sebagai realitas yang taken for granted, di mana prosedur digital, alur kerja, dan standar pelaporan dianggap sebagai bagian alami dari aktivitas kerja sehari-hari, tanpa lagi mempertanyakan asal-usul sosial atau proses pembentukannya.

Internalisasi juga memungkinkan terjadinya dialog internal antara individu dengan struktur organisasi yang telah diserap.

Pegawai secara mandiri menyesuaikan tindakan, mengevaluasi kinerja, dan mengambil keputusan kerja dengan merujuk pada standar dan informasi yang tersedia dalam Website Mitradarat, bahkan tanpa instruksi langsung dari atasan.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem digital tersebut telah berfungsi sebagai kerangka rujukan kognitif dan normatif dalam praktik kerja pegawai.

Dengan demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi penggunaan Website Mitradarat berlangsung melalui proses sosialisasi organisasi yang berkelanjutan, sehingga realitas objektif berupa sistem digital dan prosedur kerja tertransformasi menjadi realitas subjektif dalam kesadaran pegawai.

Proses ini melengkapi rangkaian dialektis eksternalisasi dan objektivasi, dimana pegawai BPTD Kelas I Jawa Barat tidak hanya menciptakan dan menghadapi Website Mitradarat sebagai realitas objektif, tetapi juga menghayatinya sebagai bagian dari identitas, cara berpikir, dan praktik kerja sehari-hari.

Melalui internalisasi inilah Website Mitradarat berperan nyata dalam mendukung kinerja organisasi secara berkelanjutan.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pada tahap eksternalisasi, Website Mitradarat merupakan hasil pencurahan aktivitas, pemikiran, dan praktik kerja pegawai BPTD Kelas I Jawa Barat ke dalam sistem digital.

Website diciptakan dan dikembangkan sebagai respons atas kebutuhan organisasi dalam pengelolaan transportasi darat, pelaporan, koordinasi, serta penyediaan informasi.

Melalui proses ini, pegawai secara aktif mengekspresikan kebutuhan kerja, pengetahuan, dan pola operasional ke dalam bentuk digital, sehingga website menjadi representasi dunia sosial organisasi yang dibangun secara kolektif.

Selanjutnya, pada tahap objektivasi, Website Mitradarat beserta sistem, prosedur, data, dan norma penggunaannya mengalami transformasi menjadi realitas yang bersifat objektif.

Sistem digital tersebut tidak lagi dipandang sebagai hasil ciptaan individu atau kelompok tertentu, melainkan sebagai struktur organisasi yang “sudah ada”, bersifat formal, dan wajib diikuti.

Website menghadapi pegawai sebagai fakta eksternal yang memiliki daya paksa, mengatur alur kerja, menetapkan standar operasional, serta membentuk pola perilaku kerja yang terstandarisasi dan dapat diprediksi dalam organisasi.

Tahap internalisasi menunjukkan bagaimana realitas objektif Website Mitradarat diserap kembali ke dalam kesadaran pegawai melalui proses sosialisasi organisasi.

Pegawai memaknai website sebagai alat pendukung kinerja, sarana koordinasi, serta simbol profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas kerja.

Pemaknaan ini membentuk sikap, persepsi, dan perilaku kerja pegawai, sehingga penggunaan Website Mitradarat dilakukan secara sadar, rutin, dan dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan tugas sehari-hari.

Pada tahap ini, website tidak hanya ditaati karena aturan, tetapi telah diterima secara subjektif sebagai kebutuhan kerja dan realitas yang taken for granted.


Penulis: Laurent Aprillia Putri (41822235)
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Komputer Indonesia


Dosen Pengampu: Assoc. Prof. Dr. Manap Solihat, M.Si.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Berger, P. L., Luckmann, T., & Zuleta, S. (1968). La construcción social de la realidad (Vol. 975). Buenos Aires: Amorrortu.

Bertot, J. C., Real, B., & Jaeger, P. T. (2016). Public libraries building digital inclusive communities: Data and findings from the 2013 digital inclusion survey. The Library Quarterly, 86(3), 270-289.

Castells, M. (2009). The rise of the network society (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Denhardt, J. V., & Denhardt, R. B. (2015). The new Public Service: Serving, Not Steering. New York: Routledge.

Garnett, J. L., Marlowe, J. and Pandey, S. K. (2008) „Penetrating the performance predicament: Communication as a mediator or moderator of organizational culture‟s impact on public organizational performance‟, Public administration review. Wiley Online Library, 68(2), pp. 266–281.

Goldhaber, Gerald M. Organizational Communication.  4th ed.  Dubuque, Iowa:  Wm.C. Brown, 1986.

Heeks, R. (2006). Implementing and Managing e-Government: An International Text. SAGE Publications.

Jusriadi, E., Rusydi, M., & Muttalib, A. (2018). Konstruksi Dimensi Intellectual Capital Dalam Mendukung Kinerja Dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. BALANCE: Economic, Business, Management and Accounting Journal, 15(02).

Karina, D. (2021). Sistem pengendalian manajemen dalam meningkatkan kinerja pada balai pengelola transportasi darat wilayah xvi Provinsi Kalimantan Tengah (Doctoral dissertation, IAIN Palangka Raya).

Littlejohn, S.  W., Foss, K.  A., & Oetzel, J. G. (2017). Theories of Human Communication (11th ed.). Waveland Press, Inc

Mergel, I., Edelmann, N., & Haug, N. (2019). Defining digital transformation: Results from expert interviews. Government information quarterly, 36(4), 101385.

Orlikowski, W. J., & Scott, S. V. (2021). Liminal innovation in practice: Understanding the reconfiguration of digital work in crisis. Information and Organization, 31(1), 100336.

Putnam, L. L., & Nicotera, A. M. (2009). Building Theories of Organization: The Constitutive Role of Communication

Schoeneborn, D., Kuhn, T. R., & Kärreman, D. (2019). The communicative constitution of organization, organizing, and organizationality. Organization studies, 40(4), 475-496.

Sloat, L. L., Davis, S. J., Gerber, J. S., Moore, F. C., Ray, D. K., West, P. C., & Mueller, N. D. (2020). Climate adaptation by crop migration. Nature communications, 11(1), 1243.

Sugiyono, F. X. (2017). Neraca Pembayaran: Konsep, Metodologi dan Penerapan (Vol. 4). Pusat Pendidikan Dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia.

Sugiyono,2007. Metodelogi Penelitian Administrasi. Jakarta: Grafindo

Verlaat, W., Snoek, B. C., Heideman, D. A., Wilting, S. M., Snijders, P. J., Novianti, P. W., … & Steenbergen, R. D. (2018). Identification and validation of a 3-gene methylation classifier for HPV-based cervical screening on self-samples. Clinical Cancer Research, 24(14), 3456-3464.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses