Ledakan Wisatawan dan Tantangan Overtourism di Yogyakarta sebagai Destinasi yang Paling Diminati saat Libur NATARU

libur nataru 2025
Ledakan Wisatawan dan Tantangan Overtourism di Yogyakarta sebagai Destinasi yang Paling Diminati saat Libur NATARU. Sumber: MMI.

Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya, pendidikan, dan pariwisata yang terus menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Data Bapperida DIY mencatat lebih dari 26 juta wisatawan berkunjung sepanjang 2024, dengan konsentrasi tertinggi di Kota Yogyakarta dan Sleman, dan jumlah ini diperkirakan terus meningkat hingga akhir 2025.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026, Yogyakarta bahkan mulai menyalip Bali sebagai destinasi favorit wisata keluarga. Minat pencarian akomodasi naik 29 persen, seiring pergeseran preferensi wisatawan ke pengalaman yang lebih bermakna dan edukatif.

Daya tarik budaya, sejarah, serta aktivitas ramah keluarga seperti kelas memasak dan workshop batik menjadikan Yogyakarta dinilai lebih cocok untuk liburan bersama anak.

Kementerian Perhubungan memprediksi 5,15 hingga 7 juta wisatawan akan memadati Yogyakarta pada periode ini, dengan Malioboro tetap menjadi titik terpadat sekaligus tantangan utama pengelolaan kepadatan dan infrastruktur kota.

Lonjakan wisatawan ini mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama melalui sektor jasa, UMKM, dan ketenagakerjaan, yang membuka lapangan kerja dan memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi yang ramah dan terjangkau.

Namun, di balik dampak positif tersebut, Yogyakarta mulai menghadapi fenomena overtourism, ketika jumlah wisatawan melampaui daya dukung lingkungan dan ruang kota.

Timbulan sampah harian meningkat dari sekitar 260 ton menjadi 300 ton selama periode liburan, tidak hanya di Malioboro, tetapi juga di pusat kuliner, penginapan, dan jalanan kota.

Tekanan paling nyata terlihat di Malioboro, yang kerap mengalami kepadatan ekstrem hingga menurunkan kualitas ruang publik, mempercepat kerusakan fasilitas, dan memicu konflik ruang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan overtourism tidak hanya soal tingginya kunjungan, tetapi juga lemahnya pengelolaan arus wisatawan sejak titik kedatangan hingga mobilitas dalam kota, sehingga kesiapan transportasi dan infrastruktur menjadi kunci untuk mencegah penumpukan dan menjaga keberlanjutan Yogyakarta.

Baca Juga: Anomali Pasar Akhir Tahun: Harga Cabai Anjlok di Tengah Lonjakan Harga Protein Hewani

Transportasi jadi Kunci: Kesiapan Bandara YIA dan Stasiun Yogyakarta

Lonjakan wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 juga direspons dengan kesiapan infrastruktur transportasi di Yogyakarta.

Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo memasuki fase siaga dengan proyeksi sekitar 247.787 penumpang selama periode Nataru, meningkat 3,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pergerakan pesawat diperkirakan mencapai 1.557 penerbangan atau naik 1,30 persen.

Puncak arus penumpang diprediksi terjadi pada 21 dan 28 Desember 2025, sementara arus balik tertinggi diperkirakan berlangsung pada 4 Januari 2026. Untuk menjaga kelancaran operasional, YIA mengoperasikan Posko Terpadu Angkutan Udara Nataru sebagai pusat koordinasi lintas instansi.

Di sisi lain, PT KAI Daop 6 Yogyakarta juga memperkuat kesiapan Stasiun Yogyakarta atau Stasiun Tugu yang diprediksi mengalami lonjakan signifikan. Jumlah penumpang keberangkatan selama Nataru diperkirakan naik sekitar 15 persen menjadi lebih dari 241 ribu orang, sementara penumpang datang meningkat sekitar 5 persen.

KAI menyiagakan petugas di berbagai titik strategis, memperkuat aspek keamanan dan kebersihan, serta menyediakan fasilitas pendukung seperti layanan Customer Service Mobile, kursi roda, WiFi gratis, dan AC portabel.

Sebagai simpul transportasi utama, Stasiun Yogyakarta melayani kereta jarak jauh, KRL, KA lokal, hingga Kereta Api Bandara yang menghubungkan langsung ke YIA, memperlihatkan peran krusial transportasi publik dalam menopang lonjakan wisatawan akhir tahun di Jogja.

Kesiapan transportasi yang semakin terintegrasi tersebut secara tidak langsung memperlancar arus wisatawan menuju pusat kota dan destinasi utama Yogyakarta.

Kemudahan akses dari bandara dan stasiun ke berbagai titik wisata membuat pergerakan pengunjung menjadi cepat dan efisien, namun pada saat yang sama turut memperbesar konsentrasi kunjungan di kawasan ikonik tertentu.

Kondisi inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa Malioboro selalu menjadi tujuan utama dan tidak pernah sepi dari wisatawan, meskipun Yogyakarta memiliki beragam destinasi alternatif yang tak kalah menarik.

Mengapa Malioboro Selalu Ramai?

Tingginya kunjungan ke Malioboro tidak terlepas dari kombinasi berbagai faktor. Dari sisi motivasi internal, wisatawan terdorong oleh kebutuhan psikologis untuk melepas penat, mencari hiburan murah, dan menikmati suasana kota yang hidup. Kenangan positif dari kunjungan sebelumnya juga menciptakan keterikatan emosional yang mendorong kunjungan ulang.

Lokasi strategis Malioboro yang berada di pusat kota, dekat bangunan ikonik seperti Keraton Yogyakarta, Tugu Jogja, Pasar Beringharjo, dan Alun-Alun Kidul, memudahkan jangkauan ke dalam wisata multi-destinasi.​​

Transportasi terjangkau seperti Trans Jogja, becak, andong, ojek online, hingga KRL dari bandara menuju Stasiun Yogyakarta yang terletak tepat di sebelah Malioboro membuat aksesibilitas tinggi, bahkan bagi backpacker atau keluarga dengan anggaran terbatas.​

Ketersediaan fasilitas pendukung seperti hotel budget hingga bintang lima, homestay, toilet umum, tempat istirahat, dan ATM tersebar merata, mendukung pola pergerakan wisatawan sebagai “base site” (tujuan utama kunjungan) atau “stopover” sementara.​ Meskipun ada tantangan seperti kepadatan parkir dan kemacetan akhir pekan, kekuatan aksesibilitas ini tetap mendominasi persepsi positif.

Baca Juga: Tidak Hanya Bahan Bakar yang Naik, Tarif Tol juga Naik Sebelum Idul Fitri 2022

Dari aspek daya tarik fisik dan budaya, Malioboro menawarkan tata ruang unik dengan perpaduan bangunan kolonial dan modern, aktivitas belanja oleh-oleh khas, kuliner yang beragam, serta atraksi budaya seperti seniman jalanan, andong, dan becak.

Aksesibilitas yang tinggi (berada di pusat kota dan terhubung dengan berbagai moda transportasi) membuat Malioboro mudah dijangkau oleh berbagai segmen wisatawan.

Belajar dari Praktik Global: Strategi Penanganan Overtourism di Beberapa Negara

Berbagai negara telah menghadapi tantangan serupa dan mengembangkan strategi kebijakan untuk mengendalikan overtourism secara berkelanjutan.

Misalnya Thailand, di mana Pemerintah Thailand menerapkan berbagai strategi untuk mengendalikan overtourism sekaligus melindungi sumber daya alam dan budayanya, di antaranya melalui kebijakan Green Procurement dan pelatihan konten komersial.

Melalui Green Procurement, pemerintah mendorong penggunaan barang dan jasa ramah lingkungan di sektor pariwisata, seperti produk biodegradable, pengurangan plastik sekali pakai, serta pengelolaan sampah yang lebih efisien di destinasi wisata.

Kebijakan ini diperkuat dengan penerapan konsep Extended Producer Responsibility (EPR) yang menempatkan tanggung jawab pengelolaan limbah pada produsen, sehingga industri pariwisata didorong untuk lebih bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan dari aktivitasnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen Thailand dalam membangun praktik pariwisata berkelanjutan dan mendukung ekonomi sirkular.

Selain itu, melalui pelatihan konten komersial, pemerintah Thailand berupaya mengedukasi agen perjalanan, pemandu wisata, dan pelaku industri pariwisata agar mampu memproduksi dan menyebarkan konten promosi yang informatif, menarik, dan bertanggung jawab.

Pelatihan ini difokuskan pada pengembangan dan promosi destinasi alternatif yang belum banyak dikenal wisatawan.

Dengan demikian, konsentrasi kunjungan dapat dialihkan dari destinasi yang telah padat menuju kawasan lain yang memiliki potensi wisata. Strategi ini diharapkan dapat mengurangi tekanan lingkungan dan sosial di destinasi populer sekaligus membuka peluang pertumbuhan pariwisata yang lebih merata dan berkelanjutan.

Ada juga Italia yang menerapkan berbagai kebijakan lintas sektor untuk mengatasi overtourism. Di sektor akomodasi, pemerintah mewajibkan seluruh sewa jangka pendek terdaftar dalam basis data nasional dengan kode identifikasi, melarang check-in jarak jauh, serta membatasi properti sewa baru di pusat bersejarah seperti Florence.

Baca Juga: Liburan Sekolah Lebih Produktif, Mahasiswa KKN-T IPB University Dorong Minat Baca Anak di Desa Weragati, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka

Platform digital seperti Airbnb dan Booking turut dilibatkan melalui penegakan kepatuhan pajak dan penyaringan properti ilegal. Dalam sektor angkutan, Italia melarang kapal pesiar besar masuk Venesia, mengembangkan jalur kereta alternatif, dan membuka bandara baru untuk mendistribusikan arus wisata.

Pada sektor keramahan, pembatasan jumlah pengunjung diberlakukan di kawasan sensitif seperti Dolomites, pantai Sardinia, dan Venesia melalui sistem kuota dan tiket masuk. Serta mendorong konsep slow tourism dengan mempromosikan desa-desa dan rute wisata alternatif.

Strategi utama mencakup peningkatan infrastruktur transportasi dan pariwisata, seperti pengalihan wisatawan dari bus ke kereta, pengembangan layanan tanpa bagasi, sistem pembayaran nontunai dan multibahasa, serta perbaikan layanan taksi dan bandara.

Jepang juga menerapkan pengelolaan permintaan melalui pengaturan tarif transportasi pada jam padat, pembatasan kunjungan di kawasan sensitif seperti Gunung Fuji, serta penyediaan informasi kepadatan wisata secara real time.

Strategi yang Dapat Diadaptasi Yogyakarta

Dari berbagai strategi dan kebijakan yang diterapkan beberapa negara diatas, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dapat mengadopsi serta menyesuaikannya dalam pengelolaan pariwisata khususnya di kawasan Malioboro guna mengendalikan kepadatan wisatawan tanpa mengurangi daya tarik kawasan tersebut. Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah kebijakan Green Tourism Procurement.

Selain itu, penerapan pembatasan kunjungan melalui sistem kuota pengunjung harian  berbasis reservasi daring dan tiket masuk berbasis waktu dapat diterapkan guna mendistribusikan kunjungan secara lebih merata.

Pendapatan dari sistem ini dapat dialokasikan untuk konservasi lingkungan, pemeliharaan situs budaya, dan pemberdayaan masyarakat lokal sehingga pengendalian overtourism tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan.

Di sisi lain, strategi diversifikasi dan promosi destinasi alternatif juga perlu diperkuat dengan mengarahkan promosi pariwisata ke desa wisata, kawasan pinggiran, dan destinasi tematik, serta melalui pelatihan konten komersial bagi pemandu wisata, agen perjalanan, dan pelaku UMKM agar mampu mempromosikan pariwisata secara lebih bertanggung jawab, sekaligus membuka peluang ekonomi baru dan mengurangi tekanan pada destinasi populer.


Penulis:
1. Anisa Sartika (5221611067)
2. Ianna Latifa Azkha (5221611086)
3. Nurul Siti Syarifah (5221611087)
4. Diandra Putri Sophianandita (5221611096)
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY)


Dosen Pengampu: Hidayat Chusnul Chotimah, S.I.P., M.A.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses