Pesan Moral dan Kehidupan dalam Tafsir Surah Al-Qashash Ayat 77: Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat

Pesan yang Terkandung dalam Tafsir QS. Al-Qashash Ayat 77

Tafsir Surah Al-Qashash Ayat 77 menyimpan pesan mendalam tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya menata kehidupan. Ayat ini menekankan pentingnya menyeimbangkan antara kebahagiaan akhirat dan pemanfaatan nikmat duniawi yang Allah anugerahkan.

Pesan tersebut relevan sepanjang zaman, terutama di era modern saat manusia sering terjebak dalam kesibukan duniawi hingga melupakan tujuan hidup yang sesungguhnya, yaitu mencari keridaan Allah SWT.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 77,

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Arab-Latin: Wabtagi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka minad-dun-yā wa aḥsing kamā aḥsanallāhu ilaika wa lā tabgil-fasāda fil-arḍ, innallāha lā yuḥibbul-mufsidīn

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ayat ini turun sebagai nasihat untuk Qorun, seorang tokoh yang dikaruniai kekayaan melimpah namun justru terjerumus dalam kesombongan. Melalui kisah tersebut, Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menjadikan harta sebagai sumber keserakahan, tetapi memanfaatkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Tafsir dari para ulama menekankan bahwa keseimbangan antara dunia dan akhirat merupakan kunci kebahagiaan sejati.

Lebih dari sekadar cerita sejarah, ayat ini memberikan pedoman universal tentang etika hidup. Islam tidak melarang menikmati kenikmatan dunia, tetapi menegaskan agar semua itu dikelola dengan bijak dan tidak mengarah pada kerusakan.

Dengan memahami makna yang terkandung dalam tafsir ayat ini, seorang Muslim dapat menjalani kehidupan secara seimbang, menata visi ukhrawi tanpa mengabaikan kebutuhan duniawi.

Baca juga: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 125 tentang Kata Al-Hikmah dalam Al-Qur’an

1. Penjelasan Surah Al-Qashash Ayat 77

Kata (فِيما) dipahami oleh Ibn Asyur mengandung makna terbanyak atau pada umumnya, sekaligus melukiskan tertancapnya ke dalam lubuk hati upaya mencari kebahagiaan ukhrawi melalui apa yang dianugerahkan Allah dalam kehidupan dunia ini. Dalam konteks Qorun adalah gudang-gudang tumpukan harta benda yang dimiliknya itu.

Firman-Nya (وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيا)  merupakan larangan atau mengabaikan bagian seseorang dari kenikmatan duniawi.

Larangan itu dipahami oleh sementara ulama bukan dalam arti haram mengabaikannya, tetapi dalam arti mubah (boleh untuk mengambilnya) dan dengan demikian tulis Ibn Asyur ayat ini merupakan salah satu contoh penggunaan redaksi larangan untuk makna mubah atau boleh.

Ulama memahami kalimat diatas dalam arti “Allah tidak mengecammu jika engkau mengambil bagianmu dari kenikmatan duniawi selama bagian itu tidak atas resiko kehilangan bagian kenikmatan ukhrawi.”Tanpa kalimat semacam ini, boleh jadi yang dinasihati itu memahami bahwa ia dilarang menggunakan hartanya kecuali untuk pendekatan diri kepada Allah dalam bentuk ibadah murni. Dengan kalimat ini, menjadi jelas bagi siapa pun bahwa seseorang boleh menggunakan hartanya untuk tujuan duniawi selama hak Allah menyangkut harta telah dipenuhi dan selama penggunaannya tidak melanggar ketentuan Allah.

Thabathaba’i memahami penggalan ayat ini dalam arti: Jangan engkau mengabaikan apa yang dibagi dan dianugerahkan Allah kepadamu dari kenikmatan duniawi, mengabaikannya bagaikan orang yang melupakan sesuatu dan gunakanlah hal itu untuk kepentingan akhiratmu karena hakikat nasib dan perolehan seseorang dari kehidupan dunia ini adalah apa yang dia lakukan untuk akhiratnya karena itulah yang kekal untuknya.

Kata (نصيب), ulama berpendapat bahwa nasib manusia dari kekayaan dunia hanyalah: “apa yang dimakan dan habis termakan, apa yang dipakai dan punah tak dapat dipakai lagi, serta apa yang disedekahkan kepada orang lain dan yang akan diterima ganjarannya di akhirat nanti.” Pendapat yang lebih baik adalah yang memahaminya dalam arti segala yang dihalalkan Allah.

Kata (أحسن) berarti baik. Kata yang digunakan ayat ini berbentuk perintah. Akan tetapi, objeknya tidak disebut sehingga ia mencakup segala sesuatu yang dapat disentuh oleh kebaikan, bermula terhadap lingkungan, harta benda, tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, baik orang lain maupun diri sendiri. Bahkan terhadap musuh pun dalam batas-batas yang dibenarkan.

Banyak pesan yang terdapat dalam kandungan ayat di atas. Ada yang memahaminya secara tidak seimbang dengan menyatakan bahwa ini adalah anjuran untuk meninggalkan kenikmatan duniawi dengan membatasi diri pada kebutuhan pokok saja.

Ada juga yang memahaminya sebagai tuntunan untuk menyeimbangkan kepentingan hidup duniawi dan ukhrawi. Sebagaimana riwayat yang menyatakan: “bekerjalah untuk duniawi seakan-akan engkau tidak akan mati, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok.”

Baca juga: Cahaya Bintang, Cahaya Kenabian: Tafsir Ayat 1-2 Surat An-Najm

2. Latar Belakang Surah Al-Qashash

Konteks Turunnya Surah Al-Qashash

Surah Al-Qashash merupakan surah ke-28 dalam Al-Qur’an yang diturunkan di Makkah. Surah ini memuat kisah-kisah penting tentang Nabi Musa, Firaun, dan Qorun yang menjadi pelajaran berharga bagi umat manusia.

Melalui ayat-ayatnya, Allah SWT menegaskan nilai kesabaran, keimanan, serta bahaya kesombongan yang lahir dari kekayaan dan kekuasaan. Dengan cara ini, umat manusia diarahkan untuk memahami bahwa segala sesuatu di dunia hanyalah titipan, bukan tujuan utama kehidupan.

Konteks turunnya Surah Al-Qashash juga memperlihatkan bagaimana Al-Qur’an memberikan bimbingan moral di tengah realitas sosial saat itu.

Ketika kaum Quraisy sangat membanggakan kekayaan, Allah menurunkan ayat-ayat yang menegur pola pikir materialistis dan mengingatkan pentingnya kehidupan akhirat. Hal ini menegaskan bahwa harta dan kenikmatan duniawi tidak boleh menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan, melainkan menjadi sarana untuk meraih keridaan Allah SWT.

Kisah Qorun sebagai Ibrah

Salah satu tokoh yang paling banyak disebut dalam Surah Al-Qashash adalah Qorun. Ia digambarkan sebagai sosok yang sangat kaya, hingga kunci-kunci gudang hartanya pun sulit dipikul oleh sekelompok orang kuat.

Namun, alih-alih mensyukuri nikmat tersebut dengan menggunakannya di jalan Allah, Qorun justru menjadi sombong dan meremehkan orang lain. Kesombongan inilah yang akhirnya menyeretnya pada kebinasaan ketika Allah menenggelamkan dirinya beserta harta bendanya ke dalam bumi.

Kisah Qorun bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi sebuah pelajaran universal bagi setiap generasi. Allah menegaskan bahwa harta, jabatan, maupun kekuasaan tidak ada artinya bila tidak disertai dengan iman dan amal saleh.

Ibrah dari kisah ini selaras dengan pesan Tafsir Surah Al-Qashash Ayat 77, yaitu ajakan untuk tidak terlena dengan kenikmatan duniawi, tetap berbuat baik, dan menghindari kerusakan.

Baca juga: Al-Qur’an sebagai Landasan Hukum Islam

3. Tafsir Surah Al-Qashash Ayat 77 Menurut Para Ulama

Tafsir Ibn Asyur

Ibn Asyur menafsirkan frasa (فِيما آتَاكَ اللَّهُ) dalam ayat ini sebagai isyarat bahwa segala anugerah Allah hendaknya dijadikan sarana untuk mencapai kebahagiaan akhirat.

Ia menegaskan bahwa harta, ilmu, maupun kedudukan tidak boleh dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan begitu, seorang Muslim dapat memanfaatkan nikmat dunia tanpa melupakan kepentingan ukhrawi yang lebih kekal.

Selain itu, Ibn Asyur menyoroti penggunaan larangan dalam kalimat (وَلا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيا). Menurutnya, larangan ini tidak bermakna haram, melainkan sebuah penegasan bahwa seorang Muslim tetap boleh menikmati dunia selama hal itu tidak melalaikan tugasnya terhadap akhirat.

Tafsir ini menunjukkan betapa Islam adalah agama yang seimbang, tidak menafikan dunia, tetapi juga tidak membiarkan manusia tenggelam dalam kenikmatannya.

Tafsir Thabathaba’i

Thabathaba’i memahami ayat ini dengan penekanan bahwa manusia tidak boleh mengabaikan bagian duniawinya, tetapi tetap menjadikannya sebagai sarana menuju kebahagiaan akhirat.

Menurutnya, dunia hanyalah ladang yang hasilnya akan dituai di akhirat. Dengan demikian, setiap harta dan fasilitas dunia harus diarahkan untuk tujuan mulia, bukan sekadar dinikmati tanpa manfaat spiritual.

Ia juga menjelaskan bahwa nasib seseorang dari dunia sebenarnya hanyalah apa yang ia manfaatkan secara halal dan apa yang disedekahkan di jalan Allah.

Semua yang tersisa pada akhirnya akan binasa. Dengan sudut pandang ini, Thabathaba’i menekankan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan jasmani dengan memperhatikan kepentingan ruhani, sehingga manusia tidak terjebak dalam materialisme.

Pandangan Ulama Lain

Selain tiga mufasir besar di atas, banyak ulama lain yang juga menekankan pentingnya keseimbangan dalam menafsirkan ayat ini.

Misalnya, sebagian ulama menegaskan bahwa nasib manusia dari dunia hanyalah tiga hal: apa yang dimakan hingga habis, apa yang dipakai hingga rusak, dan apa yang disedekahkan untuk akhirat. Pendapat ini menunjukkan betapa terbatasnya hakikat dunia, sehingga manusia tidak sepatutnya menjadikannya sebagai tujuan hidup.

Ulama tafsir klasik maupun kontemporer juga sepakat bahwa ayat ini bukanlah larangan mutlak terhadap dunia, melainkan peringatan agar manusia tidak berlebihan.

Islam adalah agama wasathiyah (moderat) yang selalu mendorong keseimbangan, baik dalam ibadah, muamalah, maupun dalam mengelola harta. Dengan memahami pesan ini, seorang Muslim dapat hidup lebih bijak, tidak terjebak dalam ekstrim zuhud berlebihan maupun materialisme yang melampaui batas.

Baca juga: Penjelasan Lengkap Fungsi Hadis Terhadap Al-Qur’an

4. Pesan Utama dalam Tafsir QS. Al-Qashash Ayat 77

Mencari Kebahagiaan Akhirat

Salah satu pesan inti dari ayat ini adalah kewajiban untuk menjadikan kebahagiaan akhirat sebagai tujuan utama hidup. Allah SWT mengingatkan manusia agar menggunakan seluruh nikmat duniawi sebagai sarana menuju pahala kekal.

Dengan demikian, setiap amal perbuatan, baik berupa pekerjaan, ibadah, maupun interaksi sosial, seharusnya diarahkan untuk meraih keridaan Allah.

Kebahagiaan akhirat tidak bisa diraih tanpa usaha di dunia. Oleh karena itu, seorang Muslim dituntut untuk bekerja, beribadah, dan berbuat kebaikan dengan niat tulus.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang memisahkan dunia dan akhirat, melainkan memadukan keduanya dalam satu kesatuan yang harmonis.

Menikmati Bagian Duniawi Secara Bijak

Ayat ini juga menegaskan bahwa manusia tidak dilarang menikmati nikmat dunia. Islam bukanlah ajaran yang menolak kesenangan, melainkan mengatur agar kesenangan itu tidak melalaikan dari tanggung jawab akhirat.

Nikmat berupa harta, kesehatan, maupun kedudukan, semuanya boleh dinikmati asalkan tidak melanggar syariat dan tetap digunakan untuk kebaikan.

Namun, kenikmatan duniawi hanyalah bersifat sementara. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar manusia tidak terjebak dalam gaya hidup hedonis.

Dengan sikap bijak, seorang Muslim dapat menikmati dunia secukupnya, sambil tetap menyiapkan bekal amal untuk akhirat yang abadi.

Perintah untuk Berbuat Kebaikan

Pesan lain yang terkandung dalam ayat ini adalah perintah untuk selalu berbuat baik. Kebaikan dalam Islam memiliki cakupan luas, mencakup hubungan dengan Allah, sesama manusia, bahkan dengan lingkungan.

Perintah ini mengajarkan bahwa keberagamaan tidak hanya terwujud dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kontribusi nyata terhadap sesama.

Menariknya, ayat ini tidak menyebutkan objek kebaikan secara spesifik, sehingga mencakup segala aspek kehidupan. Mulai dari memberikan bantuan kepada fakir miskin, menjaga alam, hingga berperilaku adil dalam pekerjaan.

Dengan demikian, ayat ini menekankan bahwa kebaikan adalah fondasi utama yang harus mengiringi setiap langkah kehidupan seorang Muslim.

Larangan Merusak Bumi

Selain mendorong kebaikan, ayat ini juga melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi. Larangan ini sangat relevan di era modern, ketika eksploitasi alam, pencemaran lingkungan, dan ketidakadilan sosial semakin marak.

Islam mengajarkan bahwa bumi adalah amanah, dan manusia berperan sebagai khalifah yang wajib menjaga serta memeliharanya.

Kerusakan tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga sosial dan moral. Ketika manusia mengabaikan nilai-nilai kebaikan, menindas sesama, atau menyalahgunakan harta, maka sesungguhnya ia telah berbuat kerusakan.

Oleh karena itu, ayat ini menjadi peringatan keras agar manusia hidup dengan penuh tanggung jawab, selaras dengan prinsip keadilan dan keberlanjutan.

Baca juga: Mengenal Pentingnya Mempelajari Ulumul Hadis

5. Relevansi Tafsir Surah Al-Qashash Ayat 77 dalam Kehidupan Modern

Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Di era modern, banyak orang yang terjebak dalam gaya hidup materialistis. Pencapaian duniawi seperti karier, harta, dan status sosial seringkali dijadikan ukuran utama keberhasilan.

Namun, pesan dalam Surah Al-Qashash ayat 77 menegaskan bahwa orientasi akhirat tidak boleh ditinggalkan. Islam mengajarkan agar umatnya tetap produktif di dunia, tetapi menjadikan akhirat sebagai tujuan tertinggi.

Keseimbangan ini menjadi kunci kebahagiaan. Mereka yang hanya mengejar dunia akan selalu merasa kurang, sementara yang hanya berfokus pada akhirat bisa mengabaikan tanggung jawab sosial.

Dengan menyeimbangkan keduanya, seorang Muslim dapat hidup tenang, sukses secara materi, sekaligus memiliki bekal spiritual untuk kehidupan abadi.

Etika Pemanfaatan Harta dan Sumber Daya

Ayat ini juga relevan dalam konteks ekonomi modern. Harta dan sumber daya bukan sekadar alat konsumsi, tetapi amanah yang harus dikelola dengan bijak. Islam menolak praktik penumpukan kekayaan tanpa manfaat sosial, serta mengecam perilaku boros dan rakus.

Dalam perspektif ini, zakat, infak, dan sedekah bukan hanya ritual ibadah, melainkan mekanisme distribusi kekayaan yang adil.

Selain itu, pengelolaan sumber daya alam pun harus dilakukan secara bertanggung jawab. Eksploitasi berlebihan yang merusak lingkungan dilarang dalam Islam, karena bertentangan dengan perintah Allah agar manusia menjaga bumi.

Dengan menerapkan etika Qur’ani, harta dan sumber daya dapat menjadi sarana kesejahteraan bersama, bukan alat penindasan atau perusakan.

Nilai Kebaikan Sosial dan Lingkungan

Pesan berbuat baik dalam ayat ini sangat relevan dengan isu kemanusiaan dan lingkungan. Di tengah meningkatnya kesenjangan sosial dan kerusakan alam, umat Islam didorong untuk berperan aktif dalam menghadirkan solusi.

Kebaikan tidak hanya berbentuk amal pribadi, tetapi juga kontribusi kolektif dalam membangun masyarakat yang adil dan peduli.

Kebaikan kepada lingkungan pun menjadi bagian dari tanggung jawab iman. Islam menekankan pentingnya menjaga alam, mengurangi kerusakan, dan mengelola bumi secara berkelanjutan.

Dengan demikian, tafsir ayat ini menjadi pedoman bagi Muslim modern untuk tidak hanya menjadi hamba Allah yang taat, tetapi juga agen perubahan yang menghadirkan maslahat bagi seluruh makhluk.

6. Kajian Akademik dan Penelitian Terkait

Perspektif Pendidikan Islam

Dalam dunia pendidikan Islam, Surah Al-Qashash ayat 77 sering dijadikan landasan untuk mengajarkan keseimbangan hidup.

Pendidikan bukan hanya berfokus pada penguasaan ilmu duniawi, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan orientasi ukhrawi. Dengan cara ini, siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual.

Pesan ayat ini juga mendukung konsep pendidikan integral yang menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan menanamkan nilai keseimbangan sejak dini, generasi Muslim diharapkan mampu menghadapi tantangan modern tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

Sebuah penelitian oleh Ahmad & Yusof (2018) dalam Journal of Islamic Education Studies menunjukkan bahwa pemahaman tafsir Al-Qur’an, termasuk Surah Al-Qashash ayat 77, berperan penting dalam membentuk karakter siswa.

Nilai keseimbangan dunia-akhirat terbukti meningkatkan motivasi belajar sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial di kalangan pelajar.

Penelitian tentang Etika Ekonomi dalam Al-Qur’an

Ayat ini juga banyak dikaji dalam konteks etika ekonomi Islam. Prinsipnya jelas: harta bukan sekadar alat konsumsi pribadi, tetapi juga sarana untuk berbagi dan menyejahterakan masyarakat.

Konsep ini sangat relevan dengan sistem ekonomi modern yang sering diwarnai kesenjangan sosial akibat distribusi kekayaan yang tidak merata.

Dengan menjadikan ayat ini sebagai pijakan, para pakar ekonomi Islam mendorong pengelolaan kekayaan yang adil, transparan, dan berorientasi pada kemaslahatan umum.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai Qur’ani tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga praktis untuk diterapkan dalam tata kelola ekonomi kontemporer.

Menurut studi oleh Al-Saidi (2020) dalam International Journal of Islamic Economics and Finance Studies, implementasi prinsip keseimbangan dunia-akhirat dalam Surah Al-Qashash ayat 77 dapat menjadi solusi bagi praktik ekonomi eksploitatif. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari pertumbuhan materi, tetapi juga dari keberlanjutan dan keadilan sosial.

Kesimpulan

Surah Al-Qashash ayat 77 memberikan panduan hidup yang sangat jelas bagi setiap Muslim. Ayat ini menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat, serta menegaskan pentingnya memanfaatkan nikmat Allah dengan bijak. Islam bukan agama yang menolak kenikmatan dunia, melainkan mengajarkan agar dunia dijadikan sarana menuju kebahagiaan abadi di akhirat.

Dengan cara ini, seorang Muslim dapat hidup seimbang: produktif di dunia, namun tetap terikat pada tujuan ukhrawi.

Selain itu, ayat ini juga mengajarkan tiga nilai utama yang relevan sepanjang zaman: anjuran berbuat baik, larangan berbuat kerusakan, dan kewajiban menjaga amanah berupa harta dan lingkungan. Nilai-nilai tersebut bukan hanya panduan spiritual, tetapi juga prinsip universal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun ekologi.

Dengan memahami tafsir ayat ini, umat Islam dapat terhindar dari sikap ekstrem: baik dalam bentuk keserakahan duniawi maupun pengabaian terhadap kebutuhan hidup.

Pesan moral Surah Al-Qashash ayat 77 adalah bahwa kesuksesan sejati bukan sekadar materi, melainkan keseimbangan antara dunia dan akhirat, disertai kontribusi nyata dalam menebar kebaikan dan mencegah kerusakan di bumi.

Tim Penulis:
1. Cici Tri Mulyani
Mahasiswa Ekonomi Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia
2. Nur Zaytun Hasanah
Alumni Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia

Sumber Referensi:
Dhofier, Zamakhsyari. 2011. Tradisi Pesantren : Studi Pandangan Hidup Kyiai dan Visinya
Mengenai Masa Depan Indonesia. Jakarta : LP3ES.
Hamka. 1978. Tafsir Al-Azhar. Surabaya : Yayasan Ltimojong.
Katsier, Ibnu. 1990. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier. Surabaya : PT. Bina Ilmu Offset.
Kailany HD., Islam dan Aaspek-aspek Kemasyarakatan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000),hlm. 241.
Rachmat Djatmika, Sistem Etika Islam, (Jakarta: Panjimas, 1996), hlm. 12.
Mahjuddin, Pendidikan Hati (Kajian Tasawuf Amali), (Jakarta: Kalam Mulia, 2001),hlm. 4.
Moenawar Cholil, Definisi dan Sendi Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), hlm. 53.

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses