Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan besar pada kehidupan manusia.
Teknologi yang awalnya hanya mampu melakukan perhitungan sederhana, kini berkembang menjadi sistem yang dapat memahami bahasa, memprediksi pola, serta memberikan solusi secara spontan melalui proses komputasi yang sangat kompleks.
Salah satu bentuk perkembangan AI yang paling populer adalah kemunculan berbagai model Generative AI, termasuk ChatGPT, yang mampu menghasilkan teks, menjawab pertanyaan, memberi rekomendasi, bahkan membantu melakukan pekerjaan kreatif.
Kehadiran teknologi ini menandai babak baru dalam transformasi digital dan membuka peluang besar bagi berbagai sektor industri dan kehidupan sosial.
ChatGPT telah digunakan secara luas dalam pendidikan, bisnis, pemasaran, layanan pelanggan, hingga riset ilmiah.
Pada sektor industri, GPT digunakan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan mempercepat proses bisnis.
Dalam kegiatan administrasi, ChatGPT mampu membuat laporan, serta merapikan data secara otomatis sehingga pekerjaan menjadi lebih cepat dan rapi.
Di sisi lain, dalam supply chain, ChatGPT membantu membuat prediksi kebutuhan material, menyusun laporan logistik, dan mengotomatisasi komunikasi dengan pemasok.
Secara keseluruhan, ChatGPT dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat pengambilan keputusan, serta mengurangi beban kerja manual.
Dengan adanya hal tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa AI, termasuk ChatGPT, telah menjadi bagian penting dari ekosistem digital yang dibutuhkan pada masa kini.
Apakah dari hal tersebut ChatGPT tidak berbahaya bagi lingkungan alam kita? Tentunya, penggunaan AI memunculkan beragam pro dan kontra.
Sebagian masyarakat merasa terbantu karena teknologi ini mempercepat pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu lama, mengurangi beban kerja, dan membuka peluang baru untuk inovasi.
Akan tetapi, sebagian lainnya khawatir bahwa AI justru dapat menggantikan pekerjaan manusia dan menyebabkan hilangnya banyak lapangan kerja.
Banyak tugas seperti penulisan teks, analisis data, desain visual, hingga layanan pelanggan yang kini dapat dilakukan oleh mesin.
Kekhawatiran ini memicu perdebatan mengenai sejauh mana teknologi seharusnya diizinkan berkembang dan bagaimana posisi manusia dalam dunia yang semakin otomatis.
Selain isu sosial dan ekonomi, terdapat aspek lain yang lebih jarang dibahas, yaitu dampak sisi lingkungan dari penggunaan AI.
Masyarakat umum sering kali hanya melihat sisi praktis dan hasil akhir ketika mereka berinteraksi dengan ChatGPT, tanpa menyadari bahwa setiap pertanyaan yang mereka ajukan memerlukan proses komputasi yang sangat besar.
Proses tersebut berlangsung di pusat data (data center) yang terdiri dari ratusan hingga ribuan server.
Agar dapat beroperasi, server-server tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah besar, dan sebagian besar listrik yang digunakan masih berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Baca Juga: Revolusi Pendidikan Pasca ChatGPT: Peluang atau Ancaman?
Inilah yang menyebabkan teknologi AI memiliki jejak karbon yang jauh lebih tinggi dibandingkan aktivitas digital biasa.
Menurut perkiraan beberapa studi, satu model AI besar seperti ChatGPT dapat menghasilkan sekitar 8,4 ton karbon dioksida per tahun.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, angka ini lebih dari dua kali lipat jejak karbon rata-rata seorang individu, yang berada pada kisaran 4 ton per tahun.
Semakin besar model AI dan semakin banyak pengguna yang mengaksesnya, semakin besar pula konsumsi energi dan emisi karbon yang dihasilkan.
Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi, meskipun memberikan banyak solusi, tetap memiliki dampak negatif terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Selain emisi karbon, penggunaan AI juga berkontribusi pada tingginya konsumsi air. Air digunakan untuk mendinginkan server, karena jika suhu server meningkat melebihi batas tertentu, sistem dapat mengalami gangguan atau kerusakan.
Baca Juga: Menghadapi Penggunaan Teknologi ChatGPT Basis AI dalam Dunia Pendidikan Tinggi di Indonesia
Berdasarkan penelitian tertentu, proses inferensi AI—yaitu proses ketika AI memberikan jawaban atas suatu permintaan pengguna—dapat menghabiskan air yang cukup besar.
Untuk menjawab sekitar 20 hingga 50 pertanyaan, ChatGPT diperkirakan menggunakan air setara 500 ml, atau sekitar satu botol air mineral ukuran kecil.
Jika angka tersebut dikalikan dengan jutaan pertanyaan dari pengguna di seluruh dunia setiap harinya, jumlah air yang digunakan oleh pusat data menjadi sangat besar.
Di tengah krisis air yang dialami banyak wilayah, konsumsi air dalam skala besar semacam ini tentu menjadi isu lingkungan yang serius.
Dampak lingkungan dari penggunaan AI menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa hanya dipandang dari sisi manfaatnya saja.
Teknologi yang tidak dikelola dengan baik dapat memperburuk kondisi bumi yang saat ini sedang menghadapi pemanasan global, peningkatan emisi gas rumah kaca, serta penurunan kualitas sumber daya alam.
Tantangan ini menuntut kesadaran kolektif dari semua pihak, baik pengembang teknologi, pemerintah, maupun masyarakat pengguna.
Baca Juga: Mengapa Perubahan Iklim di Fiji Adalah Peringatan Keras bagi Seluruh Dunia?
Meski begitu, bukan berarti kita harus menghentikan penggunaan AI. Teknologi ini memiliki potensi besar untuk membantu manusia dalam banyak hal, mulai dari pendidikan hingga inovasi industri.
Yang perlu dilakukan adalah menciptakan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan teknologi dapat beralih menggunakan energi terbarukan untuk mengoperasikan pusat data, seperti energi surya, angin, atau hidroelektrik.
Selain itu, peningkatan efisiensi server dan sistem pendinginan juga dapat mengurangi konsumsi energi dan air secara signifikan.
Di sisi lain, pengguna juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Edukasi mengenai jejak karbon digital perlu ditingkatkan agar masyarakat memahami bahwa setiap aktivitas online, termasuk menggunakan AI, memiliki dampak lingkungan.
Dengan kesadaran tersebut, pengguna dapat memanfaatkan teknologi secara lebih bijak, seperti menggunakan AI hanya untuk kebutuhan penting, bukan sekadar iseng atau berlebihan.
Langkah kecil dari banyak individu dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan integrasi AI dalam kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya, tetapi juga oleh sejauh mana teknologi tersebut dapat digunakan tanpa merusak bumi.
Dengan komitmen, kerja sama, dan inovasi yang berkelanjutan, kita dapat mewujudkan masa depan di mana teknologi dan lingkungan hidup berjalan seimbang.
Penulis: Tita Deshifani Nurmadilla
Mahasiswa Prodi Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Malang
Dosen Pengampu: Ary Dwi Purnomo M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













