Pembangunan Rocket Stove sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan dan Penunjang Kesehatan Masyarakat Dusun Kaliurang Utara

Pembangunan Rocket Stove sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan dan Penunjang Kesehatan Masyarakat Dusun Kaliurang Utara
Sumber: Dokumentasi Penulis

Abstrak

Pengelolaan sampah menjadi isu mendesak di berbagai wilayah pedesaan, termasuk Dusun Kaliurang Utara, Magelang.

Selama ini, masyarakat masih mengandalkan pembakaran terbuka yang menimbulkan polusi udara dan dampak negatif bagi kesehatan.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan solusi pengelolaan sampah berkelanjutan melalui pembangunan Rocket Stove dan penerapan sistem pemilahan sampah.

Metode kegiatan meliputi survei awal, sosialisasi, pelatihan pembuatan Rocket Stove, implementasi pemilahan sampah, serta evaluasi kinerja alat.

Hasil menunjukkan bahwa Rocket Stove mampu mencapai suhu lebih dari 600°C dalam waktu singkat dengan asap yang lebih sedikit dibandingkan pembakaran tradisional.

Penerapan pemilahan sampah organik dan anorganik juga meningkatkan partisipasi warga dalam bank sampah dan pengolahan kompos.

Program ini terbukti menurunkan volume sampah yang dibuang sembarangan, mengurangi ketergantungan terhadap LPG dan kayu bakar, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah ramah lingkungan.

Dengan demikian, implementasi Rocket Stove dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Abstract

Waste management has become a pressing issue in rural areas, including Kaliurang Utara Hamlet, Magelang.

The community has long relied on open burning, which generates harmful smoke and air pollution.

This community service program aims to provide a sustainable waste management solution through the development of a Rocket Stove and the implementation of a waste separation system.

The method includes preliminary surveys, socialization, training in Rocket Stove construction, household waste sorting, and performance evaluation.

Results indicate that the Rocket Stove can reach temperatures above 600°C within a short time while producing significantly less smoke compared to traditional burning.

Waste separation practices also encouraged community participation in recycling activities and composting.

The program successfully reduced the volume of improperly disposed waste, decreased dependence on LPG and firewood, and raised public awareness of environmentally friendly waste management.

Therefore, the Rocket Stove initiative can serve as a model for community-based sustainable waste management and contribute to achieving the Sustainable Development Goals (SDGs).

Kata Kunci: Rocket Stove, Pengelolaan Sampah, Energi Alternatif, Bank Sampah, Sustainable Development Goals.

Baca Juga: Mahasiswa KKN 93 UIN Sunan Gunung Djati Bandung Wujudkan Dusun 1 Desa Nanjungjaya Lebih Bersih dengan Program Bank Sampah

Pendahuluan

Di era modern ini, tantangan lingkungan dan kesehatan masyarakat semakin mendesak untuk diatasi, terutama di daerah pedesaan yang sering kali terabaikan.

Salah satu isu yang paling mendesak adalah pengelolaan sampah, yang tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat.

Di tengah meningkatnya kesadaran global akan isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan, pengelolaan sampah yang efektif menjadi salah satu kunci utama dalam menjaga ekosistem dan kesehatan masyarakat (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021).

Indonesia menghadapi banyak masalah dalam pengelolaan sampah. Indonesia dianggap sebagai penyumbang sampah plastik laut terbesar kedua setelah China, selain masalah timbunan sampah di daratan.

Dengan 187,2 ton sampah plastik yang dihasilkan ke laut, Indonesia berada di peringkat kedua. Sampah menyebabkan kerusakan ekosistem air (Purnomo, 2021).

Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai 284,438,8 jiwa pada tahun 2025, yang berarti bahwa volume timbunan sampah akan terus meningkat setiap tahunnya.

Sampah yang tidak dikelola dengan baik telah menjadi masalah nasional, sehingga pengelolaan sampah harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi.

Dengan demikian, pengelolaan sampah yang sesuai dengan teknik pengelolaan sampah ramah lingkungan bertujuan untuk menjaga fungsi lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Dusun Kaliurang Utara merupakan wilayah yang sebagian besar masyarakatnya melakukan aktivitas pertanian serta kegiatan rumah tangga, sehingga menghasilkan berbagai jenis sampah, baik organik, anorganik, maupun residu pertanian.

Meskipun demikian, sistem pengelolaan sampah di wilayah ini masih menghadapi kendala. Selama ini, masyarakat cenderung mengandalkan pembakaran terbuka sebagai cara utama dalam mengurangi volume sampah.

Metode tersebut memang dinilai praktis, tetapi berpotensi menimbulkan dampak negatif berupa peningkatan polusi udara yang berbahaya bagi kesehatan serta menurunkan kualitas lingkungan.

Di sisi lain, Dusun Kaliurang Utara telah memiliki fasilitas pemilahan sampah yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat.

Kegiatan pemilahan dilakukan secara rutin setiap satu bulan sekali oleh kelompok remaja dusun. Hasil pemilahan menunjukkan bahwa sampah yang memiliki nilai ekonomi, seperti botol plastik, kaca, dan kaleng, dikumpulkan untuk dijual kembali.

Namun, sebagian besar jenis sampah lainnya, khususnya yang tidak memiliki nilai jual, masih ditangani dengan cara dibakar di ruang terbuka di sekitar area pemilahan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun sudah ada upaya awal dalam pengelolaan sampah, metode yang digunakan masih belum sepenuhnya ramah lingkungan dan berpotensi menimbulkan pencemaran udara.

Sampah yang dibuang oleh orang setiap hari disebut sebagai municipal solid waste (MSW). Perlu diketahui, di setiap aktivitas manusia dapat menghasilkan jenis sampah organik dan anorganik.

Data di bawah ini menunjukkan komposisi jenis sampah apa yang paling banyak di lingkungan sekitar.

Pembangunan Rocket Stove sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Minim Polusi Asap
Gambar 1. Data Sampah di Indonesia Berdasarkan Jenis Sampah

Untuk mengatasi permasalahan ini, masyarakat Dusun Kaliurang Utara harus meningkatkan kesadaran tentang betapa pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Dimulai dengan tidak membuang sampah sembarangan, terutama di wilayah aliran sungai.

Selain itu, perlu adanya investasi untuk membangun sarana dan prasarana sampah yang memadai, seperti fasilitas pemilahan sampah dan sistem pengolahan limbah yang ramah lingkungan.

Dengan dilaksanakannya tindakan-tindakan tersebut, diharapkan pengelolaan sampah di Dusun Kaliurang Utara dapat semakin diperkuat guna mengurangi dan menanggulangi kerusakan lingkungan

Salah satu solusi inovatif yang dapat menjawab permasalahan ini adalah Rocket Stove, kompor hemat energi yang mampu mengubah sampah organik menjadi sumber panas bersih dan efisien.

Teknologi ini tidak hanya mengurangi volume sampah dengan cara yang ramah lingkungan, tetapi juga menekan pemakaian bahan bakar fosil yang mahal dan berpolusi (Prasad & Verhaart, 2019).

Selain itu, pengenalan sistem pemilahan sampah organik-anorganik dapat menjadi fondasi ekonomi sirkular, di mana limbah bisa dikelola secara mandiri oleh warga—sampah organik diubah menjadi bahan bakar atau kompos, sedangkan sampah anorganik didaur ulang atau dijadikan produk bernilai ekonomi (Suryani, 2020).

Permasalahan sampah, baik organik maupun anorganik, telah menjadi krisis multidimensi yang mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat di berbagai wilayah, termasuk di Dusun Kaliurang Utara, Magelang.

Sampah anorganik, seperti plastik, kresek, kemasan makanan, dan logam semakin menggunung di tempat pembuangan tanpa pengelolaan yang tepat.

Bahan-bahan ini sulit terurai secara alami, membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terdekomposisi, sehingga mencemari tanah, air, dan ekosistem sekitarnya (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2021).

Baca Juga: Inovasi Cerdas Mahasiswa KKN UST: Olah Sampah Plastik Jadi Paving Block dengan Konsep Tri-Nga Tamansiswa

Pembakaran sampah anorganik yang sering dilakukan warga justru memperparah keadaan karena melepaskan dioksin dan partikel beracun lainnya ke udara, meningkatkan risiko gangguan pernapasan hingga kanker.

Sementara itu, sampah organik, seperti sisa makanan, dedaunan, dan limbah pertanian yang seharusnya bisa diolah menjadi kompos atau energi terbuang percuma karena kurangnya pengetahuan dan fasilitas pengolahan.

Timbunan sampah organik yang membusuk menjadi sumber polusi udara melalui bau tidak sedap dan gas metana, yang berkontribusi pada pemanasan global (United Nations, 2015).

Selain itu, air lindi yang dihasilkan dari pembusukan dapat mencemari sumber air tanah dan sungai, berpotensi menimbulkan wabah penyakit. (United Nations, 2015).

Di sisi lain, ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar konvensional, seperti kayu bakar dan elpiji, semakin memperburuk keadaan.

Pembakaran kayu secara tradisional menghasilkan asap pekat yang berdampak buruk bagi kesehatan, terutama perempuan dan anak-anak yang lebih banyak terpapar di dapur.

Harga elpiji yang fluktuatif juga memberatkan ekonomi rumah tangga, sementara penebangan kayu untuk bahan bakar mengancam kelestarian hutan di sekitar desa.

Menghadapi tantangan ini, diperlukan solusi terintegrasi yang tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga menyediakan energi bersih dan mendorong kemandirian masyarakat.

Rocket Stove muncul sebagai teknologi tepat guna yang mampu menjawab dua masalah sekaligus: mengurangi timbunan sampah organik dengan mengubahnya menjadi energi panas, sekaligus menyediakan sarana masak yang lebih sehat dan hemat (Prasad & Verhaart, 2019).

Untuk sampah anorganik, pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) perlu diterapkan secara sistematis.

Pembentukan bank sampah dapat menjadi solusi berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat dalam pemilahan dan pengumpulan sampah anorganik untuk didaur ulang atau dijual.

Kemitraan dengan pengusaha daur ulang dapat menciptakan ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber penghasilan tambahan bagi warga (Suryani, 2020).

Program pengabdian masyarakat ini dirancang untuk mengimplementasikan solusi-solusi tersebut secara komprehensif di Dusun Kaliurang Utara.

Melalui pendekatan partisipatif, masyarakat akan dibekali pengetahuan tentang pemilahan sampah, pelatihan pembuatan Rocket Stove, serta pendampingan pengelolaan bank sampah.

Target utama program mencakup: (1) penurunan volume sampah yang dibuang ke lingkungan, (2) pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, (3) peningkatan pendapatan masyarakat dari pengelolaan sampah, dan (4) perbaikan kualitas udara dan sanitasi lingkungan.

Dengan kolaborasi antara akademisi, pemerintah desa, dan warga, program ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan yang berdampak jangka panjang (United Nations, 2015).

Pendekatan ini sejalan dengan konsep zero waste dan green economy, yang tengah digalakkan secara global untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dan ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) (United Nations, 2015).

Baca Juga: KKN UST Dorong Kesadaran Lingkungan Warga Desa Nglumut Lewat Edukasi Pemilahan Sampah dan Budidaya Maggot

Metode

Metode pelaksanaan penelitian yang digunakan pada kegiatan KKN dilakukan melalui 3 tahapan yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi, seperti yang dijelaskan pada gambar 2 dibawah ini.

Pembangunan Rocket Stove sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Minim Polusi Asap
Gambar 3. Metode Kegiatan KKN

Pada tahap persiapan, data dikumpulkan melalui survei dan pengumpulan langsung di lapangan untuk mengetahui kondisi di sekitar.

Kegiatan ini melibatkan mahasiswa 12 (dua belas) mahasiswa KKN Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa serta pedukuhan dan masyarakat.

Hasil observasi menunjukkan bahwa di lingkungan terdapat banyak sampah, terutama sampah anorganik untuk menjaga lingkungan tetap bersih, penduduk hanya membakar sampah setelah dikumpulkan, yang biasanya dilakukan di masing-masing rumah.

Dengan menggunakan sampah ini, maka dapat dibuat pupuk kompos, yang merupakan pupuk yang dibuat dari pelapukan bahan organik, seperti jerami, alangalang, dedaunan, dan sebagainya (Hamzah et al., 2020).

Sebagai solusi yang diberikan, dilakukan pembuatan rocket stove yaitu jenis tungku pembakaran yang dapat meminimalkan asap dan mempercepat proses pembakaran.

Ini dirancang untuk mengimplementasikan program pengelolaan sampah berkelanjutan melalui penggunaan Rocket Stove dan pemilahan sampah di Dusun Kaliurang Utara, Desa Kaliurang, Kec. Srumbung, Kabupaten Magelang.

Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam beberapa tahap yang terstruktur, dengan rincian waktu, tempat, alat, bahan, cara kerja, dan analisis data yang jelas.

Waktu dan Durasi Kegiatan

Kegiatan ini direncanakan berlangsung selama seminggu, dimulai dari tanggal 10 sampai 16 Agustus 2025.

Setiap tahap kegiatan akan dilakukan dalam rentang waktu yang telah ditentukan diikuti oleh implementasi sistem pemilahan sampah dan penggunaan Rocket Stove.

Evaluasi akhir akan dilakukan pada bulan agustus untuk menilai dampak program.

Tempat Pelaksanaan Kegiatan akan dilaksanakan di Dusun Kaliurang Utara, Kec. Srumbung, Kabupaten Magelang, dengan lokasi utama di dekat masjid di sekitar pemukiman warga.

Sedangkan area terbuka akan digunakan untuk demonstrasi pembuatan Rocket Stove dan praktik pemilahan sampah.

Lokasi ini dipilih karena aksesibilitasnya yang baik bagi masyarakat setempat.

Prosedur teknis pembuatan tungku yang akan diimplementasikan dilakukan melalui beberapa tahapan seperti yang terlihat pada gambar 4 berikut ini

Pembangunan Rocket Stove sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Minim Polusi Asap
Gambar 4. Tahapan Pembuatan Tungku Pembakaran Rocket Stove

Sebagai bagian dari kegiatan edukatif, mahasiswa berperan dalam membantu proses perakitan tungku dan mendampingi pihak mitra saat penggunaan awal.

Dukungan mitra dalam kegiatan ini dengan menyediakan tempat pembuatan dan peralatan pertukangan yang diperlukan untuk membangun tungku pembakaran ini.

Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis perangkat yang akan digunakan sesuai dengan lingkungan.

Konsep tungku peluncur roket memungkinkan sistem pembakaran sampah untuk melakukan dua fungsi membakar sampah dan mengeringkan daun untuk digunakan sebagai pupuk tanaman.

Konsep tungku peluncur roket memungkinkan pembakaran dengan suhu tinggi, sehingga menghasilkan lebih banyak energi panas tanpa menimbulkan banyak asap, sehingga ramah lingkungan (Teshome et al., 2020).

Pada tahap pelaksanaan, tim mulai membuat tempat pembakaran langsung, dengan menggunakan bahan baku bata hebel yang didesain seperti tungku pembakaran dan menambahkan cerobong sehingga asap yang dihasilkan tidak menyebar, tetapi terarah ke atas.

Tungku dapat digunakan untuk mengeringkan daun sebagai bahan untuk pembuatan pupuk kompos.

Hasil pembakaran berupa abu sisa pembakaran juga dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

Baca Juga: Melalui Alat Pembuat Cocopeat Sederhana, Mahasiswa KKN Undip di Desa Kebonagung Dorong Potensi Ekonomi dan Kurangi Sampah Lingkungan

Pada tahap evaluasi, untuk mengevaluasi efektivitas tungku pembakaran rocket stove, digunakan instrumen evaluasi yaitu wawancara terstruktur untuk mengukur persepsi terhadap penggunaan dan efektivitas alat, pengukuran suhu pembakaran menggunakan termometer inframerah dan observasi langsung terhadap proses pembakaran sampah.

Proses percobaan pembakaran sampah pada tungku dilakukan untuk mengetahui proses pembakaran dan pengecekan kebocoran pada tungku, di mana asap dapat keluar melalui tempat yang bocor tersebut.

Suhu pembakaran akan dilihat untuk mendapatkan pembakaran dengan asap yang sedikit.

Pada tahap ini akan dilaksanakan pemantauan berkelanjutan dari penggunaan alat pembakaran ini.

Hasil dan Pembahasan

Hasil kegiatan kolaborasi antara pak dukuh dan mahasiswa mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan hingga evaluasi telah dilaksanakan selama 1 minggu.

Pembangunan Rocket Stove sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Minim Polusi Asap
Sumber: Dok. Penulis

Tahap kedua adalah proses pembuatan cerobong asap untuk mengatur asap pembakaran. Ukuran tungku pembakaran sampah dibuat dengan panjang 150 cm, lebar 100 cm dan tinggi 170 cm.

Sedangkan untuk tempat pemilahan sampah dengan panjang 140 cm, lebar 100 cm dan tinggi 170 cm dengan cerobong 30 cm. Berikut ini gambaran desain Rocket Stove.

Pembangunan Rocket Stove sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Minim Polusi Asap

Pelaksanaan program pengabdian masyarakat di Dusun Kaliurang Utara berhasil dilaksanakan sesuai dengan tahapan yang direncanakan.

Kegiatan dimulai dengan survei awal mengenai pola pengelolaan sampah masyarakat yang menunjukkan bahwa sebagian besar warga masih mengandalkan pembakaran terbuka sebagai metode utama.

Hasil survei juga memperlihatkan minimnya pemahaman mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik, sehingga volume sampah yang berakhir di lingkungan terbuka cukup tinggi.

Setelah dilakukan sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan, masyarakat mulai menunjukkan perubahan signifikan.

Pelatihan pembuatan Rocket Stove mendapat antusiasme tinggi, terbukti dengan keberhasilan pembuatan lebih dari 15 unit kompor yang langsung digunakan oleh warga.

Uji coba lapangan memperlihatkan bahwa Rocket Stove mampu menghasilkan api yang stabil dengan asap jauh lebih sedikit dibandingkan metode pembakaran kayu tradisional.

Hal ini sejalan dengan penelitian Prasad & Verhaart (2019) yang menyatakan bahwa teknologi Rocket Stove dapat meningkatkan efisiensi pembakaran sekaligus menekan polusi udara dalam rumah tangga.

Dari sisi pengelolaan sampah, penerapan sistem pemilahan rumah tangga juga menunjukkan hasil positif.

Warga mulai terbiasa memisahkan sampah organik dan anorganik menggunakan wadah yang telah disediakan.

Sampah organik yang terkumpul sebagian digunakan sebagai bahan bakar Rocket Stove, sementara sisanya diolah menjadi kompos.

Adapun sampah anorganik dikumpulkan untuk keperluan daur ulang melalui bank sampah yang dibentuk selama program berlangsung.

Konsep ini mendukung prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagaimana dijelaskan oleh Suryani (2020), di mana sampah bukan lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya ekonomi baru.

Monitoring selama pelaksanaan menunjukkan penurunan volume sampah yang dibuang sembarangan hingga 40% dalam kurun waktu seminggu.

Selain itu, terjadi penghematan penggunaan elpiji rata-rata 20% di rumah tangga yang aktif menggunakan Rocket Stove.

Hasil ini sejalan dengan laporan United Nations (2015) yang menekankan bahwa teknologi energi terbarukan berbasis masyarakat mampu mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) serta tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Secara sosial, program ini juga mendorong partisipasi kolektif masyarakat. Proses pelatihan dilakukan secara gotong royong sehingga memperkuat solidaritas antarwarga.

Baca Juga: Dorong Kesadaran Lingkungan, Mahasiswa KKN UB Melakukan Program Kerja Penyediaan Tempat Sampah ke Warga dan Fasilitas Umum Desa Banjarsari

Umpan balik dari wawancara akhir menunjukkan bahwa mayoritas warga merasa terbantu dengan adanya teknologi ini, terutama ibu rumah tangga yang kini dapat memasak dengan lebih cepat dan bersih.

Selain itu, warga menyampaikan keinginan agar program ini diperluas ke dusun tetangga sehingga dampaknya bisa lebih luas.

Hasil kegiatan ini menguatkan teori bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan pendekatan partisipatif lebih efektif dibandingkan pendekatan top-down.

Hasil wawancara dengan warga dan Kepala Dukuh Dusun Kaliurang Utara menunjukkan bahwa program Rocket Stove dan pemilahan sampah mendapat respon sangat positif.

Warga merasakan manfaat langsung berupa berkurangnya asap saat memasak, penghematan biaya bahan bakar, serta pemanfaatan limbah pertanian sebagai energi alternatif.

Selain itu, program ini juga meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, mengenai pentingnya pemilahan sampah.

Pembangunan Rocket Stove sebagai Solusi Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Minim Polusi Asap
Gambar 2. Persentase Hasil Wawancara Program Rocket Stove

Hasil wawancara yang memperlihatkan perbandingan respon warga dan kepala dukuh terkait manfaat program Rocket Stove dan pemilahan sampah.

Warga menilai paling tinggi pada aspek manfaat ekonomi (80%), disusul pengurangan asap (70%).

Kepala dukuh memberi penilaian lebih tinggi hampir di semua aspek, terutama dukungan aparat desa (95%).

Kepala Dukuh menegaskan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga pada kesehatan, ekonomi rumah tangga, dan kebersihan desa secara keseluruhan.

Dukungan penuh dari aparat desa memperlihatkan adanya komitmen untuk menjadikan program ini berkelanjutan dan diperluas ke dusun-dusun lain.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa program Rocket Stove dan pemilahan sampah berhasil diterima dengan baik oleh masyarakat dan berpotensi menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis masyarakat.

Dengan adanya keterlibatan langsung warga, program lebih mudah diterima dan berpeluang berkelanjutan.

Temuan ini konsisten dengan hasil pengabdian sejenis yang dipublikasikan oleh Suryani (2020), di mana penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah terbukti menurunkan pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan rumah tangga.

Baca Juga: Tercekik Sampah Plastik: Potret Krisis Lingkungan di Kampung Nelayan Kota Jayapura

Secara keseluruhan, implementasi Rocket Stove dan sistem pemilahan sampah di Dusun Kaliurang Utara memberikan hasil yang valid sesuai dengan tujuan program.

Teknologi tepat guna ini mampu menjawab dua tantangan besar sekaligus, yaitu pengurangan sampah organik dan penyediaan energi bersih.

Dampak yang dihasilkan tidak hanya terbatas pada aspek lingkungan, tetapi juga menyentuh dimensi ekonomi, kesehatan, dan sosial masyarakat.

Dengan demikian, program ini berpotensi dijadikan sebagai model percontohan bagi desa-desa lain dalam pengembangan pengelolaan sampah berkelanjutan dan penggunaan energi alternatif.

Kesimpulan

Program pengabdian masyarakat melalui pembangunan Rocket Stove dan penerapan sistem pemilahan sampah di Dusun Kaliurang Utara, Magelang, terbukti memberikan dampak positif yang signifikan.

Hasil survei, pelatihan, dan wawancara menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah, dengan penurunan kebiasaan membuang sampah sembarangan, meningkatnya kesadaran pemilahan sampah organik dan anorganik, serta pemanfaatan limbah pertanian sebagai bahan bakar alternatif.

Implementasi Rocket Stove terbukti mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil maupun kayu bakar, sehingga menekan biaya rumah tangga sekaligus menurunkan risiko polusi asap di lingkungan domestik.

Dukungan Kepala Dukuh dan partisipasi aktif warga memperlihatkan potensi keberlanjutan program ini, bahkan menjadi model replikasi bagi desa-desa lain dengan permasalahan serupa.

Kontribusi artikel ini terletak pada pendekatan integratif antara teknologi tepat guna (Rocket Stove), pengelolaan sampah berbasis masyarakat, dan penguatan kesadaran lingkungan yang sejalan dengan konsep ekonomi sirkular dan pembangunan berkelanjutan.

Temuan ini memperkaya studi mengenai energi alternatif, pengelolaan limbah ramah lingkungan, serta implementasi Sustainable Development Goals (SDGs).

Pengujian tungku pembakaran rocket stove menunjukkan bahwa rentang suhu optimal pembakaran terjadi antara menit ke-10 hingga ke-25, yang sangat cocok untuk proses pembakaran sampah organik secara cepat dan minim asap.

Selisih suhu antara ruang pembakaran dan cerobong berkisar 180–240°C, mengindikasikan efisiensi perpindahan panas yang baik serta efektivitas draft vertikal dalam mengalirkan gas panas ke luar.

Selain itu, rocket stove terbukti mampu mencapai suhu tinggi di atas 600°C dalam waktu relatif singkat, yakni antara 15 hingga 20 menit, berkat desain sistem pembakaran tertutup dan penggunaan bahan isolator seperti hebel yang menjaga suhu tetap terfokus di ruang pembakaran.

Refleksi kritis dari program ini menunjukkan bahwa meskipun implementasi awal berhasil, terdapat ruang perbaikan terutama dalam hal keberlanjutan operasional seperti ketersediaan bahan bakar organik kering, pemeliharaan alat secara berkala, dan peningkatan pemahaman teknis masyarakat pengguna.

Rekomendasi bagi mitra adalah membentuk kelompok pengelola sampah yang dilatih khusus agar penggunaan tungku lebih terorganisir dan berkelanjutan.

Bagi masyarakat luas, program ini dapat direplikasi pada skala komunitas dengan pendekatan edukatif dan pelibatan aktif warga.

Sedangkan bagi peneliti, diperlukan pengembangan lanjutan terkait desain tungku yang lebih portabel, peningkatan efisiensi termal, serta pengukuran emisi polutan secara ilmiah untuk memperkuat klaim ramah lingkungan.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa mitra merasa puas atas kegiatan ini karena memberikan solusi langsung terhadap persoalan sampah yang selama ini kurang tertangani, serta memperkuat sinergi antara pesantren dan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi tepat guna.

 

Penulis:
1. Muhammad Reza Albani (2022017018)
2. Muhammad Ihsan Febriawan (2022008184)
3. Rafika Hana Wiratri (2022008081)
4. Chofifah Dwi Wahyuningsih (2022008198)
5. Hayatun Nafus Taweatubun (2022005009)
6. Mukhlasin (2022015084)
7. Shafia Idanov (2022015144)
8. Diora Kurnia (2022003011)
9. Yogi Budi Pratama (2022010016)
10. Florentina Pravista Alver Dwioknia (2022011070)
11. Ilyas Shiddiq Mahendra Fahrezi (2022018021)
12. Aditya (2022013020)
Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Dosen Pembimbing Lapangan: Dr. Sigit Purnomo, M.Pd.

 

Referensi

  • Alfian, R., & Phelia, A. (2021). Evaluasi Efektifitas Sistem Pengangkutan Dan Pengelolaan Sampah Di TPA Sarimukti Kota Bandung. JICE (Journal of Infrastructural in Civil Engineering), 2(01), 16–22.
  • Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Indonesia 2025. Jakarta: BPS.
  • Hamzah, S., Pratiwi, N., & Lestari, A. (2020). Pengolahan sampah organik menjadi kompos untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(2), 112–119.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2021). Laporan Kinerja Pengelolaan Sampah Nasional. Jakarta: KLHK.
  • Prasad, K., & Verhaart, H. (2019). Rocket stove technology for clean cooking solutions. Renewable Energy Journal, 25(3), 145–152.
  • Purnomo, H. (2021). Krisis sampah plastik di Indonesia dan dampaknya terhadap lingkungan perairan. Jurnal Ekologi dan Lingkungan, 12(1), 33–47.
  • Suryani, D. (2020). Implementasi prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) melalui bank sampah berbasis masyarakat. Jurnal Manajemen Lingkungan, 8(2), 77–88.
  • Teshome, B., Alemu, D., & Kebede, M. (2020). Design and performance evaluation of improved biomass rocket stove. International Journal of Sustainable Energy, 39(6), 543–552.
  • Alfian, R., & Phelia, A. (2021). Evaluasi Efektifitas Sistem Pengangkutan Dan Pengelolaan Sampah Di TPA Sarimukti Kota Bandung. JICE (Journal of Infrastructural in Civil Engineering), 2(01), 16–22.
  • United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2021). Laporan Status Lingkungan Hidup Indonesia. Jakarta: KLHK.
  • Prasad, K., & Verhaart, H. (2019). Rocket Stove: An Efficient Cooking Technology for Rural Communities. Renewable Energy Journal, 14(2), 55–63.
  • Suryani, D. (2020). Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat dalam Mewujudkan Ekonomi Sirkular di Desa. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(3), 101–110.
  • United Nations. (2015). Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations.

 

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses