Sadar Berbangsa dan Bernegara: Membangun Literasi Digital di Kalangan Generasi Muda

Sadar Berbangsa dan Bernegara
Ilustrasi literasi digital.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, generasi muda Indonesia menghadapi tantangan yang cukup besar dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan semangat cinta tanah air.

Kemajuan teknologi informasi membuka berbagai peluang yang harus dimanfaatkan, namun juga memunculkan masalah baru terutama dalam hal literasi digital. Generasi muda kini hidup di era di mana informasi dapat tersebar dengan sangat cepat melalui media sosial dan platform digital lainnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, meskipun mereka sering kali lebih mahir dalam menggunakan teknologi, banyak dari mereka yang belum memiliki kemampuan untuk menyaring dan mengolah informasi dengan bijak.

“Tingkat literasi digital di Indonesia hanya sebesar 62%. Jumlah tersebut paling rendah jika dibandingkan negara di ASEAN lainnya yang rata-rata mencapai 70%,” ujar Ekonom Senior INDEF, Aviliani, yang melaporkan kepada CNBC Indonesia Selasa (14/2/2023).

Generasi muda sering kali menjadi sasaran utama dari berbagai informasi yang beredar. Informasi-informasi tersebut yang tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga berbagai potensi ancaman, seperti misinformasi, ujaran kebencian, hingga ketergantungan teknologi.

Dalam konteks ini, literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang memahami tanggung jawab sebagai warga negara yang bijak dalam memanfaatkan dunia maya untuk tujuan positif.

Bela negara melalui literasi digital dapat diwujudkan melalui pendidikan formal yang mengintegrasikan nilai kebangsaan dengan keterampilan teknologi. Kurikulum perlu membekali siswa untuk berpikir kritis, memverifikasi informasi, serta memahami dampak berita palsu.

Dengan ini, generasi muda dapat menjadi warga digital yang bertanggung jawab dan berkontribusi positif bagi bangsa (Akbar dkk., 2024).

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan semangat cinta tanah air melalui edukasi digital yang tepat. Kesadaran akan literasi digital bukan hanya akan memperkuat identitas bangsa, tetapi juga menjadi modal utama untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Istilah literasi digital diperkenalkan oleh Paul Gilster pada tahun 1997 dalam bukunya Digital Literacy (Shopova, 2014).

Martin (2005) menyatakan bahwa literasi digital melibatkan gabungan dari beberapa jenis literasi, yaitu literasi teknologi informasi, literasi informasi, literasi teknologi, literasi media, dan literasi visual yang mendapat peran baru sehingga menjadi semakin penting dengan munculnya lingkungan digital. 

Literasi digital merupakan kecakapan (life skills) yang tidak semata-mata melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi, tetapi melibatkan pula kemampuan bersosialisasi, kemampuan pembelajaran, kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital (Fitriyani & Nugroho, 2022).

Baca Juga: Literasi Digital pada Anak Usia Dini

Literasi digital melibatkan sejumlah teknik membaca dan menulis digital di berbagai bentuk media, dan pentingnya literasi digital untuk peningkatan pembelajaran serta akses informasi bagi peserta didik selama pembelajaran jarak jauh (Fitriyani & Nugroho, 2022).

Salah satu tantangan utama dalam implementasi literasi digital di kalangan generasi muda adalah penyebaran hoaks yang semakin marak terjadi di lingkup sosial media, terutama menjelang Pemilu Indonesia 2024. Hoaks politik menjadi ancaman serius yang dapat mempengaruhi opini publik dan mengganggu proses demokrasi.

Menurut data dari Kominfo, terdapat ribuan hoaks yang beredar sepanjang tahun 2024 dengan hampir setengahnya bertema politik. Hoaks ini sering kali disebarkan melalui platform media sosial seperti TikTok dan YouTube, yang sangat populer di kalangan generasi muda.

Misalnya, beberapa hoaks yang beredar mencakup klaim palsu tentang kandidat pemilu dan isu-isu politik lainnya. Penyebaran informasi palsu ini menunjukkan betapa pentingnya literasi digital untuk membantu generasi muda mengenali dan menghindari hoaks, serta memastikan bahwa keputusan mereka didasarkan pada informasi yang akurat dan terpercaya.

Dengan meningkatkan literasi digital, generasi muda dapat menjadi lebih kritis dalam menyaring informasi dan berkontribusi pada proses demokrasi yang sehat dan transparan, sekaligus menjaga kedaulatan informasi negara sebagai bagian dari bela negara.

Tantangan lain dalam implementasi literasi digital di Indonesia adalah meningkatnya kasus kebocoran data yang mengancam keamanan informasi pribadi. Pada tahun 2024, Indonesia mengalami beberapa insiden kebocoran data besar-besaran yang melibatkan lembaga pemerintah dan perusahaan swasta.

Salah satu kasus yang mencuat adalah kebocoran data di Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) yang diserang oleh grup ransomware, Brain Chiper mengunci data di 282 kementerian/ lembaga dan meminta tebusan sebesar 8 juta dolar AS.

Selain itu, kebocoran data juga terjadi pada data pemilih Pemilu 2024 yang menambah panjang daftar insiden serupa yang melibatkan basis data milik negara2.

Kasus-kasus ini menunjukkan betapa rentannya sistem keamanan siber di Indonesia dan pentingnya literasi digital untuk membantu masyarakat memahami risiko dan cara melindungi data pribadi mereka.

Dengan meningkatkan literasi digital, generasi muda dapat lebih waspada terhadap ancaman siber dan berkontribusi pada keamanan informasi yang lebih baik di era digital.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan integrasi literasi digital dengan pelatihan keamanan siber di lembaga pendidikan. Pendekatan ini mencakup pelatihan tentang cara menjaga keamanan data pribadi, mengenali potensi ancaman, dan membangun kebiasaan daring yang aman.

Langkah-langkah tersebut tidak hanya akan meningkatkan kesadaran, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi semua pengguna.

Baca Juga: Literasi Digital: Keterampilan Penting untuk Masa Depan Pendidikan

Untuk mengatasi berbagai tantangan literasi digital, diperlukan strategi yang beragam dan terintegrasi untuk mendorong kompetensi literasi digital generasi muda.

Salah satu pendekatan efektif adalah melalui pelatihan pembelajaran mandiri terarah (self-regulated learning strategies) yang membantu siswa mengelola pembelajaran secara mandiri di lingkungan digital, seperti ditemukan dalam studi di Malaysia.

Pelatihan ini meningkatkan motivasi, pengelolaan sumber daya, dan pengetahuan metakognitif yang terbukti secara signifikan memperkuat kompetensi literasi digital (Anthonysamy et al., 2020).

Selain itu, integrasi teknologi ke dalam pendidikan dasar, seperti pemanfaatan aplikasi dan perangkat lunak dalam pembelajaran, dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk menggunakan teknologi dengan cara yang relevan dengan kehidupan mereka (Kumari & Bhumika, 2024).

Lebih lanjut, kolaborasi antara pendidik, pembuat kebijakan, dan komunitas menjadi kunci dalam memastikan akses yang merata terhadap infrastruktur digital dan kurikulum yang inklusif serta berfokus pada pemikiran kritis dan kewarganegaraan digital (Eden et al., 2024).

Dengan pendekatan yang komprehensif, generasi muda dapat dibekali dengan keterampilan digital yang tidak hanya relevan secara teknis, tetapi juga etis dan kritis, sehingga mampu menghadapi tantangan dunia digital secara mandiri dan bertanggung jawab.

Mengembangkan keterampilan kritis dalam menganalisis informasi merupakan inti dari literasi digital yang efektif. Salah satu cara utama adalah dengan mengajarkan teknik evaluasi informasi, seperti mengecek keaslian sumber, memverifikasi fakta, dan memahami bias dalam konten digital.

Studi menunjukkan bahwa pelatihan berbasis media literacy, yang mengajarkan pengguna untuk memfilter informasi dan mengenali hoaks, sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada generasi muda (Diehl et al., 2024). 

Selain itu, integrasi teknologi seperti aplikasi berbasis gim edukasi telah terbukti membantu meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep analisis informasi melalui pendekatan yang interaktif dan kontekstual (Duan, 2023).

Pengembangan kurikulum yang fokus pada critical thinking memungkinkan siswa untuk berlatih mempertanyakan validitas data, memeriksa kredibilitas sumber, dan mengevaluasi dampak informasi dalam konteks sosial yang lebih luas (Kahne & Bowyer, 2019).

Dengan pendekatan ini, keterampilan kritis tidak hanya menjadi alat untuk mengakses informasi secara bijak, tetapi juga untuk berpartisipasi secara etis dan produktif dalam ekosistem digital.

Dalam era digital yang terus berkembang, literasi digital menjadi suatu keharusan bagi generasi muda Indonesia. Dengan tingkat literasi digital yang masih rendah, tantangan yang dihadapi oleh generasi muda semakin kompleks, mulai dari misinformasi hingga ancaman keamanan siber.

Baca Juga: Sosialisasi Mengenai Pentingnya Literasi Digital: Kenali Hoaks dan Jaga Keamanan Data Pribadi

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran akan tanggung jawab sebagai pengguna teknologi.

Pendidikan formal harus berperan aktif dalam mengintegrasikan literasi digital ke dalam kurikulum, sehingga siswa dapat belajar untuk memverifikasi informasi dan menggunakan teknologi dengan bijak. Selain itu, peran orang tua dan komunitas juga sangat penting dalam mendukung proses ini.

Dengan kolaborasi yang baik antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan literasi digital yang positif.

Akhirnya, literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga tentang membangun identitas kebangsaan yang kuat dan kesadaran berbangsa di dunia maya.

Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk meningkatkan literasi digital di kalangan generasi muda, agar mereka dapat menjadi warga digital yang bertanggung jawab dan berkontribusi positif bagi bangsa.

Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang siap menghadapi tantangan global dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh dunia digital, sambil menjaga keamanan dan ketahanan negara di dunia maya.

Penulis: Nabila Aulia Nafisca
Mahasiswa Administrasi Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Referensi

Akbar, R. S., Iskandar, T., Abadi, M. D., Bachtiar, S., Khomaidi, M. I., Damayanti, T. O., Prasetyo, M. A., & Renhard, R. (2024). Memperkuat Ketahanan Nasional: Aktualisasi Bela Negara Melalui Literasi Digital. Journal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, 16(2), 253-261.

Anthonysamy, L., Koo, A., & Hew, S. (2020). Self-regulated learning strategies in higher education: Fostering digital literacy for sustainable lifelong learning. Education and Information Technologies, 25, 2393 – 2414. https://doi.org/10.1007/s10639-020-10201-8.

Diehl, C., Tymoshchuk, O., Contreras-Espinosa, R., Carenzio, A., Antunes, M., Eguia-Gómez, J., & Zagalo, N. (2024). Exploring Current Challenges and Opportunities in Media Literacy Skills for Youth: Stakeholders’ Perspectives. European Conference on Games Based Learning. https://doi.org/10.34190/ecgbl.18.1.2711.

Duan, T. (2023). Preparing Youth With Media Literacy for Future Digital Civic Engagement. Proceedings of the 7th International Conference on Education and Multimedia Technology. https://doi.org/10.1145/3625704.3625718.

Eden, C., Chisom, O., & Adeniyi, I. (2024). PROMOTING DIGITAL LITERACY AND SOCIAL EQUITY IN EDUCATION: LESSONS FROM SUCCESSFUL INITIATIVES. International Journal of Management & Entrepreneurship Research. https://doi.org/10.51594/ijmer.v6i3.880.

Fitriyani, F., & Nugroho, A. T. (2022). Literasi Digital Di Era Pembelajaran Abad 21. Literasi Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi, 2(1), 307-314.

Kahne, J., & Bowyer, B. (2019). Can media literacy education increase digital engagement in politics?. Learning, Media and Technology, 44, 211 – 224. https://doi.org/10.1080/17439884.2019.1601108.

Kumari, S., & , B. (2024). Integrating Technology in Elementary Classroom: Teacher Strategies for Digital Literacy. International Journal For Multidisciplinary Research. https://doi.org/10.36948/ijfmr.2024.v06i03.22317.

Martin, A. (2005). DigEuLit – a European Framework for Digital Literacy: a Progress Report. Journal of eLiteracy, 2, 130–13

Shopova, T. (2014). Digital literacy of students and its improvement at the university. Journal on Efficiency and Responsibility in Education and Science,7(2),26–32. https://doi.org/10.7160/eriesj.2014.07 0201

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses