Waspada Paru-Paru Vape: Akibat Tren Rokok Elektrik

Waspada Paru-Paru Vape: Akibat Tren Rokok Elektrik
Sumber foto: Facebook

Saat ini di Indonesia, tren rokok elektrik atau vape sedang naik daun, terutama di kalangan kaum muda dan mereka yang belum pernah merokok sebelumnya. Rokok elektrik memang sedang menjadi gaya hidup kekinian di kalangan masyarakat, bahkan hampir setiap kota di Indonesia memiliki toko dan komunitas rokok elektrik sebagai tempat bersosialisasi.

Adanya promosi yang kuat dari para public figure di media sosial menambah dorongan masyarakat, khususnya kaum muda untuk mengikuti tren tersebut. Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survei (GATS) tahun 2021, di Indonesia terjadi peningkatan penggunaan rokok elektrik dari 0,3% di tahun 2011 menjadi 3% di tahun 2021 dengan persentase laki-laki (5,8%) lebih besar daripada perempuan (0,3%).

Cara kerja rokok elektrik melalui pemanasan cairan/ liquid yang terdapat pada wadah/ cartridge sehingga cairan membentuk uap kemudian dihirup melalui corong. Rokok elektrik menggunakan baterai isi ulang sebagai daya listrik. Isi cairan rokok elektrik mengandung agen psikoaktif, pelarut, dan senyawa perasa.

Uap yang dipanaskan memberikan sensasi serupa dengan rokok biasa. Rokok elektrik sering diklaim aman dan tidak berbahaya karena uap tidak melalui proses pembakaran tembakau.

Pada penelitian menyebutkan hasil analisis kimia cairan dan uap rokok elektrik menunjukkan banyak racun dan karsinogenik yang sama seperti yang ditemukan dalam asap tembakau, meskipun dalam konsentrasi yang lebih rendah (Besaratinia & Tommasi: 2020).

Kandungan di dalam rokok elektrik berbeda-beda, namun pada umumnya berisi larutan yang terdiri dari 4 jenis campuran, yaitu nikotin, perasa, propilen glikol, dan gliserin sebagai bahan pengencer nikotin.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration atau FDA) melakukan penelitian terhadap kandungan liquid rokok elektrik dan menyatakan bahwa rokok elektrik mengandung banyak racun dan karsinogen dibandingkan dengan rokok tembakau, sehingga FDA mengeluarkan pernyataan tidak merekomendasikan rokok elektrik karena tidak memenuhi unsur keamanan.

Dampak rokok elektrik pada kesehatan paru-paru di antaranya:

  • Meningkatkan inflamasi/ peradangan;
  • Menyebabkan kerusakan sel dan epitel;
  • Menurunkan sistem imunitas lokal paru dan saluran napas;
  • Meningkatkan hipersensitif saluran napas;
  • Meningkatkan tahanan jalan napas;
  • Risiko asma dan emfisema;
  • Risiko kanker paru.

Terdapat 2000 laporan kasus dan 60 kasus kematian akibat rokok elektrik di Amerika Serikat yang dikenal sebagai “E-Cigarette Or Vaping Product Use-Associated Lung Injury (EVALI) atau “paru-paru vape”.  Dilansir dari Scientific America EVALI adalah satu dari tiga penyakit yang disebabkan oleh rokok elektrik.

Jaringan parut pada kantung udara kecil di paru-paru yang dikenal sebagai paru popcorn “popcorn lung” disebabkan oleh cairan vape. Ditandai dengan gejala batuk kering yang tidak kunjung sembuh, sesak napas, mengi, demam dan sakit kepala. Ada pula efek berupa iritasi kulit, mata, hidung dan tenggorokan.

Oleh karena itu, Amerika Serikat telah menetapkan kondisi tersebut sebagai epidemi dan melarang peredaran vape di sejumlah negara bagian di AS. Larangan dipicu karena terjadinya peningkatan jumlah perokok elektrik di kalangan remaja atau usia di bawah umur yang nantinya bisa menjadi pintu masuk bagi mereka untuk mencoba.

Sementara di Indonesia sendiri, belum terdapat pelaporan dan pencatatan penyakit paru-paru terkait vape, dari beberapa penelitian menyatakan bahwa rokok elektrik memiliki dampak negatif yang berasal dari e-liquid yang mengandung beberapa zat berbahaya bagi tubuh yang dapat menimbulkan penyakit paru yang disebut E-cigarette or vaping product use-associated lung injury (EVALI).

Mengamati Kebijakan Kesehatan Indonesia, regulasi terkait rokok elektrik sendiri dari pemerintah di Indonesia belum ada dan masih dalam proses penyusunan. Beragamnya jenis rokok elektrik menyulitkan dalam penyusunan regulasinya.

Namun dilansir dari Liputan6.com, Ketua Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO) menyatakan bahwa mereka secara mandiri sudah menetapkan peraturan terkait pemasaran rokok elektrik. Di mana seluruh anggota asosiasi berkomitmen hanya akan menjual produk kepada perokok elektrik dan konvensional yang berusia di atas 18 tahun.

Selain itu Asosiasi Ritel Vape Indonesia (ARVINDO) berkomitmen untuk menindak tegas pelaku usaha yang memberikan akses rokok elektrik kepada anak di bawah umur serta akan terus melakukan sosialisasi kepada anggota agar tetap berbisnis dalam koridor yang bertanggung jawab.

Di negara-negara tetangga, terkait regulasi rokok beberapa sudah menerapkan. Sebagai contoh regulasi rokok elektrik di Singapura, orang-orang di Singapura yang terbukti membeli, menggunakan, atau memiliki vape akan dikenakan denda sebesar 2.000 dolar Singapura atau sekitar 22 juta Rupiah.

Sejak tanggal 01 Februari 2018 larangan ini diterapkan, lantaran Singapura menilai bahwa komposisi kimia berbahaya di dalam vape bisa menimbulkan banyak risiko kesehatan, baik bagi pengguna maupun non pengguna (Alam: 2023).

Di Thailand sendiri, larangan penggunaan rokok elektrik diterapkan sejak tahun 2014 dengan pertimbangan bahwa rokok elektik atau vape menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan dan berisiko menciptakan perokok baru, terutama di kalangan anak-anak muda.

Denda yang diberlakukan mencapai 30.000 bath atau sekitar 30 juta Rupiah dan atau hukuman penjara maksimal 10 tahun. Larangan ini berlaku juga bagi wisatawan yang akan berkunjung ke negara Thailand.

Dengan adanya contoh penegakkan regulasi seperti yang diterapkan oleh negara tetangga, semestinya kebijakan kesehatan di Indonesia bisa memulai riset dan menerbitkan regulasi terkait rokok elektrik.

Penulis: Hidayati Nur Kumalasari & Nur Fitriani
Mahasiswa Promosi Kesehatan Universitas Indonesia

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Referensi

  1. Global Adult Tobacco Survey 2021. Fact sheet Indonesia 2021.
  2. Bosma, Karen & Simon Landman. 2019. Popcorn lung: Teen first case of life-threatening vaping injury. Diakses melalui https://theconversation.com/popcorn-lung-teen-first-case-of-life-threatening-vaping-injury-127491
  3. Handayani, Listy. 2023. Gambaran Kebiasaan Merokok pada Usia Dewasa di Indonesia: Temuan Hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021. Jurnal Wawasan Promosi Kesehatan Vol. 3. No. 4. Hal. 193-198
  4. Traboulsi, Hussein., et al. 2020. Inhalation Toxicology of Vapping Products and Implication for Pulmonary Health. International Journal of Molecular Sciences Vol. 21. No. 10. Pages 1 – 31. Dikases melalui https://www.mdpi.com/1422-0067/21/10/3495
  5. Widyantari, D. Diva & Lestari, Rina. 2023. Dampak Penggunaan Rokok Elektrik (Vape) terhadap Risiko Penyakit Paru. Lombok Medical Journal Vol. 2. No. 1. Hal 34 – 38.
  6. Casey, Alicia M., et al. 2020. Vaping and e-cigarette use. Mysterious lung manifestations and an epidemic. PubMed Central. Doi : https://doi.org/10.1016%2Fj.coi.2020.10.003
  7. Hutapea, D. S. M. & Fasya, T. K. (2021). Rokok Elektrik (Vape) sebagai Gaya Hidup Perokok Masa Kini di Kota Lhokseumawe. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM), 2(1), 92-108.
  8. Besaratinia, A., & Tommasi, S. (2020). Vaping epidemic: challenges and opportunities. Cancer Causes & Control, 31(7), 663–667. https://doi.org/10.1007/s10552-020-01307-y
  9. A.Kuksis. 2005. LIPIDS : Determination in Biological Fluids. Encylopedia of Analytical Science. Elsevier. Hal 94 – 106. Doi : https://doi.org/10.1016/B0-12-369397-7/00312-5
  10. CNN Indonesia. 2019. 1.604 Kasus Orang Penyakit Paru – Paru Menghisap Vape. Diakses melalui https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191027161747-255-443273/1604-kasus-orang-penyakit-paru-paru-menghisap-vape
  11. Alam, Sarah Oktaviani. 2023. Ternyata ini Alasan Singapura – Thailand Larangan Vape dan Denda ratusan Juta. Diakses melalui https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-6567998/ternyata-ini-alasan-singapura-thailand-larang-vape-dan-denda-ratusan-juta/1
  12. Kebijakan Kesehatan Indonesia. 2019. Alasan Indonesia belum Miliki regulasi Rokok Elektrik. Diakses melalui https://kebijakankesehatanindonesia.net/25-berita/berita/2254-alasan-indonesia-belum-miliki-regulasi-rokok-elektrik
  13. Lauren FC, Farzad M, Carolyn SC, Michael AM dan Jeffrey EG. Pulmonary toxicity of e-Cigarettes. Am J Physiol Lung cell Mol physiol. 2017; 313: 193-206. http://www.ajplung.org.
  14. Gagandeep K, rakeysha P, Benathel ML, Waneene CD dan Sanjay Batra. Immunologicaland toxicological risk assessment of e-cigarettes. Eur Respir Rev. 2018; 27: 170119. https://doi.org/10.1183/16000617.0119-2017

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI