Abstrak
Makalah ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Khittah Muhammadiyah dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, khususnya melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial.
Fokus pembahasan adalah bagaimana Muhammadiyah mengimplementasikan nilai-nilai Islam moderat dalam menghadapi tantangan globalisasi, disrupsi sosial, dan isu-isu kontemporer seperti radikalisme dan sekularisme.
Penelitian ini berbasis pada kajian literatur dari berbagai sumber akademik dan dokumen resmi Muhammadiyah.
Analisis menunjukkan bahwa Khittah Muhammadiyah tidak hanya menjadi pedoman moral dan sosial, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam mencerdaskan bangsa, memperkuat karakter kebangsaan, serta menjaga persatuan.
Muhammadiyah memanfaatkan peluang digital untuk menyebarkan dakwah yang inklusif dan memperluas jangkauan program sosial.
Dengan semangat berkemajuan, Muhammadiyah berkomitmen untuk terus menjaga keseimbangan antara nilai kebangsaan dan keislaman demi mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan beradab.
Kata Kunci: Khittah Muhammadiyah, kebangsaan, moderasi islam, pendidikan, pelayanan sosial.
Pendahuluan
Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah memainkan peran penting dalam membangun karakter bangsa yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, mencanangkan pembaruan Islam sebagai tanggapan terhadap tantangan zaman, termasuk kolonialisme dan stagnasi pemikiran umat pada awal abad ke-20 (Mulkhan, 2010).
Dalam perjalanan sejarahnya, Muhammadiyah telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan dan pembangunan bangsa khususnya dalam mendidik masyarakat agar menjadi insan yang berilmu berakhlak dan berdaya saing (Baidhawi, 2017; Khoiruddin, 2017).
Baca Juga: Muhammadiyah sebagai Gerakan Pendidikan
Menurut (Abdullah., 2013) Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada pembinaan spiritual, tetapi juga pada pembangunan struktur masyarakat yang kuat melalui penguatan pendidikan dan pengentasan kemiskinan.
Hal ini tercermin dalam berbagai amal usaha yang dirancang untuk menciptakan masyarakat berkeadilan sosial dan berdaya saing global.
Dengan mengutamakan sinergi antara nilai Islam dan nilai kebangsaan, Muhammadiyah berhasil membangun ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan individu yang cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki visi kebangsaan (Baidhawi., 2018; Khoiruddin, 2017).
Keberhasilan Muhammadiyah tidak lepas dari Khittah atau pedoman dasar yang menjadi panduan dalam mengambil langkah-langkah strategis. Khittah Muhammadiyah mencakup nilai-nilai islam moderat, toleran dan inklusif yang bertujuan untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera (Shihab., 1998).
Dalam konteks kehidupan berbangsa, Muhammadiyah memandang pentingnya kolaborasi antara nilai keislaman dan kebangsaan antara nilai keislaman dan kebangsaan sebagai upaya menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia (Abdullah., 2013).
Dalam konteks globalisasi dan era digital, tantangan yang dihadapi Muhammadiyah semakin kompleks. (Nashir., 2019) menjelaskan bahwa radikalisasi agama dan sekularisme menjadi isu yang harus diatasi melalui pendekatan yang adaptif namun tetap berbasis pada prinsip-prinsip Islam.
Selain itu, digitalisasi membuka peluang baru bagi Muhammadiyah dalam bidang dakwah dan pendidikan. (Latief., 2017) menekankan bahwa Muhammadiyah dapat memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau generasi muda, memperkuat nilai-nilai keislaman, dan membangun kesadaran sosial yang lebih luas.
Penelitian sebelumnya menyoroti peran Muhammadiyah dalam berbagai aspek kehidupan. (Mulkhan., 2010) menyebutkan bahwa sejak awal pendiriannya, Muhammadiyah telah menjadi pelopor dalam pendidikan Islam modern.
Sementara itu, (Latief., 2017) menyoroti peran Muhammadiyah dalam pelayanan sosial, terutama dalam membantu korban bencana dan pengentasan kemiskinan. (Shihab., 1998) menambahkan bahwa dakwah Muhammadiyah menonjol karena pendekatan moderat dan inklusifnya, menjadikannya salah satu model gerakan Islam kontemporer.
Makalah ini diharapkan mampu memperlihatkan bagaimana implementasi Khittah Muhammadiyah menjadi landasan strategis dalam menghadapi tantangan modernitas dan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Baca Juga: Muhammadiyah sebagai Gerakan Ekonomi
Fokus utama adalah pada kontribusi Muhammadiyah di bidang pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial, serta bagaimana organisasi ini menghadapi tantangan zaman melalui pendekatan yang inovatif dan relevan.
Pembahasan
Khittah Muhammadiyah dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Pengertian Khittah Muhammadiyah
Khittah Muhammadiyah mengarah pada pedoman dasar yang menjadi landasan bagi setiap langkah dan tindakan organisasi. Secara umum, khittah ini menekankan pada upaya menciptakan “masyarakat yang berakhlak mulia, berilmu, dan memiliki daya saing.”
Dalam tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara, Muhammadiyah mengajak umat untuk berperan aktif dalam pembangunan bangsa melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial.
Khittah ini memiliki prinsip menekankan pendekatan Islam yang moderat, toleran, dan berorientasi pada kemaslahatan umat (Shihab., 1998).
Dalam konteks kebangsaan, Khittah Muhammadiyah bertujuan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai panduan dalam pembangunan karakter bangsa, mengurangi konflik, dan meningkatkan harmoni sosial (Nashir., 2019).
Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, khittah ini menjadi pedoman bagi anggota Muhammadiyah untuk tetap berkomitmen pada nilai-nilai kebangsaan dan keislaman.
Muhammadiyah berusaha untuk menjadikan Islam sebagai “sumber nilai dalam pembangunan karakter bangsa”, dengan harapan dapat “mengurangi potensi konflik dan meningkatkan kerukunan antarumat beragama”.
Lebih jauh, Khittah Muhammadiyah juga menekankan pentingnya peran aktif umat Islam dalam pembangunan negara. Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan pentingnya pendidikan dan dakwah, tetapi juga mendorong anggotanya untuk berkontribusi dalam berbagai bidang strategis, seperti kesehatan, ekonomi, dan kebijakan publik.
Muhammadiyah meyakini bahwa nilai-nilai Islam dapat menjadi katalisator dalam mempercepat tercapainya masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan (Abdullah., 2013).
Baca Juga: Milad ke-60 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah PK IMM Aisyiyah
Implementasi Khittah dalam Kehidupan Berbangsa
1. Pendidikan
Muhammadiyah mendirikan berbagai lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga universitas. Dengan lebih dari 3.000 sekolah dan 170 perguruan tinggi, Muhammadiyah berkontribusi signifikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Seperti, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada aspek akademis tetapi juga penguatan karakter dan akhlak (Latief., 2017).
Kurikulum Muhammadiyah juga mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, dan sejarah perjuangan bangsa, menjadikannya fondasi penting dalam membangun generasi muda yang kompeten dan berdaya saing.
2. Dakwah
Pendekatan dakwah Muhammadiyah dikenal mendalam. Melalui lembaga-lembaga seperti Majelis Tarjih dan Tajdid, Muhammadiyah menghasilkan panduan-panduan keagamaan yang relevan dengan tantangan zaman (Fanani., 2018).
Muhammadiyah mengedukasi masyarakat tentang ajaran Islam yang benar, menekankan pentingnya pemahaman yang matang dan menjauhkan diri dari kemaksiatan. Kegiatan dakwah ini sering dilakukan melalui seminar, pelatihan, dan penerbitan buku-buku yang berkaitan dengan isu-isu keagamaan dan sosial.
Dalam era digital, Muhammadiyah memanfaatkan media sosial seperti YouTube dan Instagram untuk menyampaikan dakwah, sehingga lebih mudah diakses oleh generasi muda.
3. Pelayanan Sosial
Kegiatan sosial yang dilakukan Muhammadiyah, seperti pengobatan gratis, bantuan korban bencana, dan program pemberdayaan masyarakat, merupakan bentuk nyata dari implementasi khittah.
Melalui Lazismu (Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah), organisasi ini mengumpulkan dan mendistribusikan dana untuk kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat miskin (Khoiruddin., 2015).
Sebagai contoh, program bantuan untuk korban bencana alam, seperti gempa bumi dan tsunami yang sering menjadi fokus perhatian Muhammadiyah. Dalam hal ini, Muhammadiyah tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga dukungan moral dan psikologis bagi para korban.
Baca Juga: Pranata Sosial dalam Segi Agama: Kaitan Aliran Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah dengan Pranata Sosial
Tantangan dan Peluang
Tantangan yang dihadapi Muhammadiyah dalam mengimplementasikan khittahnya sangat beragam, seperti perubahan sosial yang cepat akibat globalisasi dan disrupsi teknologi.
Globalisasi membawa ancaman homogenisasi budaya yang dapat menggerus nilai-nilai lokal dan agama (Nashir., 2019).
Salah satu tantangan terbesar adalah meningkatnya pengaruh paham radikalisme di kalangan generasi muda yang seringkali memanfaatkan media digital sebagai sarana penyebaran ideologi.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah harus berperan aktif untuk menangkal radikalisme dengan mempromosikan Islam yang moderat dan inklusif.
Dalam era digital, Muhammadiyah memiliki peluang untuk menjangkau lebih banyak orang melalui media sosial dan teknologi daring, seperti webinar, media sosial, dan aplikasi pendidikan (Shihab., 1998). Sehingga dapat menyebarkan pesan-pesan positif dan moderat secara lebih luas.
Sebagai contoh, Muhammadiyah menggunakan platform seperti YouTube dan Instagram untuk menyebarkan dakwah dan pendidikan agama.
Kegiatan seperti webinar, pelatihan daring, dan diskusi virtual semakin populer, memberikan Muhammadiyah kesempatan untuk melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan dan wilayah.
(Abdullah., 2013) mencatat bahwa keterlibatan aktif Muhammadiyah dalam dunia digital tidak hanya memperkuat posisinya sebagai organisasi modern, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor, baik dengan pemerintah, komunitas lokal, maupun organisasi internasional.
Di sisi lain, Muhammadiyah juga menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas konten dan konsistensi pesan dakwah di era informasi yang sangat cepat. Dalam dunia digital yang terbuka, informasi yang tidak valid atau bertentangan dengan nilai-nilai Islam dapat dengan mudah tersebar (Shihab.,1998).
Oleh karena itu, Muhammadiyah perlu memastikan bahwa seluruh program digitalnya diawasi dengan baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip Khittah Muhammadiyah.
Baca Juga: Gerakan Muhammadiyah dalam Pendidikan dan Ekonomi
Muhammadiyah sebagai Bagian dari Pendiri NKRI
Sejarah Peran Muhammadiyah
Sejak awal abad ke-20, Muhammadiyah telah berperan aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Mas Mansur, dan lainnya juga terlibat dalam berbagai organisasi pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan.
Muhammadiyah juga aktif dalam mendirikan berbagai organisasi sosial dan pendidikan sebagai bekal perjuangan melawan penjajah (Baidhawi., 2017).
Syarikat Islam merupakan salah satu organisasi yang memperjuangkan hak-hak rakyat dari penindasan kolonial dan juga memperkuat basis perjuangan rakyat dengan nilai-nilai keadilan dan kemandiri.
Keterlibatan Muhammadiyah dalam pergerakan ini menunjukkan komitmennya untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia (Mulkhan., 2010).
Kontribusi dalam Proklamasi Kemerdekaan
Pada saat proklamasi kemerdekaan, Muhammadiyah memberikan dukungan moral dan spiritual kepada para pejuang. Dalam sidang-sidang yang membahas proklamasi, tokoh Muhammadiyah turut memberikan masukan dan dukungan.
Selain itu, Muhammadiyah juga berperan dalam menggalang dukungan dari umat Islam untuk menyatukan kekuatan dalam perjuangan melawan penjajah.
Dalam hal ini, Muhammadiyah menjadi jembatan antara gerakan keagamaan dan gerakan nasionalis (Shihab., 1998).
Banyak anggota Muhammadiyah yang terlibat langsung dalam pertempuran melawan penjajah, serta memberikan dukungan logistik dan moral kepada para pejuang.
Misalnya, banyak pesantren dan lembaga pendidikan Muhammadiyah yang dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan untuk merencanakan strategi perjuangan.
Posisi Strategis
Setelah proklamasi, “Muhammadiyah menjadi salah satu pilar penting dalam membangun pondasi negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945” (PP Muhammadiyah., 2010).
Muhammadiyah berperan dalam pembentukan berbagai lembaga pemerintahan dan turut serta dalam merumuskan dasar-dasar negara yang inklusif dan moderat.
Dengan visi yang jelas, Muhammadiyah berkomitmen untuk “Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengutamakan nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan” (Baidhawi., 2017; Khoiruddin., 2017).
Dalam sejarahnya, Muhammadiyah juga terlibat dalam berbagai forum internasional untuk mempromosikan perdamaian dan kerjasama antarkelompok, serta berkontribusi dalam dialog antar agama (Nashir., 2019).
Tanggung Jawab Muhammadiyah terhadap NKRI
Pertanggungjawaban Moral
Sebagai organisasi yang telah berkontribusi dalam pendirian NKRI, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk terus berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa (Nashir., 2019).
Hal ini tercermin dalam berbagai program yang mengedepankan dialog antaragama dan toleransi, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman.
Muhammadiyah seringkali menjadi inisiator dalam forum-forum dialog yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan kelompok-kelompok agama lainnya.
Muhammadiyah juga mengambil peran sebagai mediator dalam berbagai konflik sosial, baik di tingkat lokal maupun nasional. Dengan menempatkan nilai-nilai Islam yang moderat dan inklusif sebagai landasan, organisasi ini mampu mendorong perdamaian dan toleransi.
Tanggung Jawab Sosial
Tanggung Jawab sosial Muhammadiyah terlihat melalui berbagai program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat (Latief., 2017).
Melalui jaringan serta program pemberdayaan ekonomi, Muhammadiyah berusaha menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kegiatan ini mencakup pelatihan keterampilan, pemberian modal usaha, dan program kesehatan.
Salah satu contoh nyata adalah program “Muhammadiyah Berdaya” berfokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat miskin. Program ini tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk mandiri dan berdaya saing.
Baca Juga: Muqaddimah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah
Selain itu, Muhammadiyah juga fokus pada penyediaan fasilitas sosial seperti rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah. Lembaga-lembaga ini bukan hanya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga menjadi alat untuk memperkuat integrasi sosial.
Sebagai contoh, Rumah Sakit Muhammadiyah di berbagai daerah tidak hanya melayani pasien Muslim, tetapi juga terbuka untuk semua kalangan tanpa membedakan latar belakang agama atau suku.
Tanggung Jawab Politik
Meskipun Muhammadiyah tidak terlibat langsung dalam politik praktis, organisasi ini memiliki tanggung jawab untuk memberikan pendidikan politik kepada anggotanya dan masyarakat luas.
(Nashir., 2019) menyebutkan bahwa Muhammadiyah berperan dalam meningkatkan kesadaran politik warga negara agar lebih memahami hak dan kewajibannya.
Melalui seminar, diskusi, dan publikasi, Muhammadiyah mendorong terciptanya masyarakat yang sadar akan pentingnya demokrasi dan partisipasi aktif dalam pembangunan bangsa.
Dalam konteks politik kebijakan, Muhammadiyah sering memberikan masukan kepada pemerintah terkait isu-isu strategis, seperti pendidikan, kesehatan dan penanggulangan kemiskinan.
(Shihab., 1998) menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki tradisi mengadvokasi kebijakan publik yang berpihak pada rakyat, baik melalui pernyataan resmi maupun keterlibatan aktif dalam forum kebijakan nasional.
Tanggung Jawab Pendidikan dan Dakwah
Muhammadiyah telah mendirikan ribuan sekolah, universitas, dan pesantren yang bertujuan mencetak generasi muda berakhlak mulia dan berilmu. Lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak hanya fokus pada pengajaran agama, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air (Khoiruddin., 2017).
Dalam bidang dakwah, Muhammadiyah menggunakan pendekatan yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui media sosial, aplikasi daring, dan platform digital lainnya, Muhammadiyah menjangkau generasi muda dengan pesan-pesan moderasi Islam dan nasionalisme.
(Nashir., 2019) menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah berorientasi pada penguatan karakter bangsa yang berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila.
Baca Juga: Optimalisasi Transaksi Digital Desa Bululawang oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Tanggung Jawab Ekonomi
Tanggung jawab Muhammadiyah dalam bidang ekonomi diwujudkan melalui pemberdayaan umat. (Latief., 2017) menjelaskan bahwa Muhammadiyah berperan dalam menggerakkan ekonomi masyarakat melalui koperasi, usaha mikro, dan program berbasis komunitas.
Muhammadiyah juga mendirikan lembaga keuangan syariah yang bertujuan untuk memberikan akses pembiayaan kepada masyarakat kecil dan menengah.
Program pemberdayaan ekonomi Muhammadiyah tidak hanya membantu masyarakat keluar dari kemiskinan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Muhammadiyah berkontribusi dalam menciptakan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Bentuk atau Model Peran Kebangsaan Muhammadiyah
Pendidikan Kewarganegaraan
Dalam rangka mempromosikan kesadaran kebangsaan, Muhammadiyah mengintegrasikan pendidikan kewarganegaraan dalam kurikulum lembaganya (PP Muhammadiyah., 2010).
Ini bertujuan supaya generasi muda memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik, serta pentingnya peran aktif dalam pembangunan masyarakat.
Pendidikan kewarganegaraan ini juga mencakup pembelajaran tentang sejarah perjuangan bangsa dan nilai-nilai Pancasila. Dengan pemahaman yang baik tentang sejarah dan nilai-nilai kebangsaan, diharapkan generasi muda dapat menjadi pemuda perubahan yang positif.
Pendidikan ini memberikan penekanan pada pentingnya toleransi dan kerukunan di tengah keberagaman bangsa.
Pendekatan Muhammadiyah dalam pendidikan kewarganegaraan mencakup pembelajaran tentang sejarah perjuangan bangsa dan bagaimana nilai-nilai Islam dapat sejalan dengan prinsip-prinsip dasar Pancasila (Nashir., 2019).
Dengan ini, generasi muda diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang memajukan bangsa dengan tetap menjaga moral dan integritasnya.
Baca Juga: IMM Sebagai Gerakan Perekonomian Berlandaskan Muhammadiyah
Keterlibatan dalam Program Pemerintah
Muhammadiyah aktif berkolaborasi dengan pemerintah dalam berbagai program pembangunan. Seperti, dalam program kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat (Latief., 2017).
Muhammadiyah menjadi mitra strategis pemerintah untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas organisasi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Contohnya, kerja sama dalam program vaksinasi nasional dan penyuluhan kesehatan terutama di wilayah terpencil yang sulit dijangkau pemerintah.
Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah turut mendukung program pemerintah untuk meningkatkan akses pendidikan melalui pendirian sekolah dan universitas, serta memberikan beasiswa kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Dalam bidang kesehatan, Muhammadiyah mendirikan berbagai rumah sakit dan klinik yang memberikan layanan kesehatan terjangkau bagi masyarakat luas.
Advokasi Kebijakan Publik
Muhammadiyah juga aktif dalam melakukan advokasi terhadap kebijakan publik yang pro-rakyat (Nashir., 2019). Dengan melibatkan anggota dalam berbagai seminar dan diskusi, organisasi ini mendorong masyarakat untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Misalnya, Muhammadiyah seringkali mengadakan forum-forum diskusi terkait isu-isu sosial dan politik terkini, seperti isu lingkungan, hak asasi manusia, dan keadilan sosial.
Sosialisasi Nilai-Nilai Kebangsaan
Muhammadiyah menyelenggarakan program sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pembangunan. Sosialisasi ini mencakup berbagai tema, mulai dari hak asasi manusia hingga keadilan sosial.
(Latief., 2017) menyebutkan bahwa melalui forum diskusi, pelatihan, dan penyuluhan, Muhammadiyah mengajak masyarakat untuk memahami isu-isu sosial dan politik yang relevan.
Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tetapi juga menggerakkan mereka untuk berkontribusi dalam menciptakan perubahan yang positif.
Baca Juga: Kementan Realisasikan Kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta
Penutup
Hasil kajian menunjukkan bahwa Khittah Muhammadiyah menjadi fondasi moral dan strategis bagi organisasi dalam menjalankan perannya di Indonesia.
Melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial, Muhammadiyah tidak hanya menciptakan generasi yang cerdas dan berakhlak tetapi juga menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Tantangan globalisasi harus dihadapi dengan pendekatan inovatif, sehingga Muhammadiyah tetap relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tanggung jawab Muhammadiyah terhadap NKRI tercermin dalam berbagai aspek, mulai dari pendidikan, pengentasan kemiskinan, pelayanan sosial, hingga penguatan moralitas masyarakat.
Program-program inovatif seperti pemberdayaan ekonomi melalui “Muhammadiyah Berdaya” dan kolaborasi dengan pemerintah dalam program kesehatan serta pendidikan menunjukkan komitmen nyata organisasi ini terhadap keadilan sosial dan kesejahteraan umat.
Dengan semangat Islam Berkemajuan, Muhammadiyah memiliki posisi strategis sebagai pelopor pembaruan sosial dan penjaga nilai-nilai luhur kebangsaan.
Ke depan, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, seperti disrupsi teknologi, polarisasi sosial, dan perubahan iklim, membutuhkan sinergi dari semua elemen bangsa, termasuk Muhammadiyah, untuk terus menjadi teladan dalam perjuangan mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rujukan
Abdullah, I. (2013). Muhammadiyah dan kebangsaan: Perspektif sosial budaya. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Baidhawi, Z. (2017). Pendidikan Islam berbasis masyarakat: Perspektif Muhammadiyah. Surakarta: UMS Press.
Baidhawi, Z. (2018). Pendidikan keislaman dalam arus globalisasi: Tantangan dan strategi Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Khoiruddin, M. (2017). Pembaruan pemikiran Islam: Kontribusi Muhammadiyah. Jakarta: Rajawali Press.
Latief, H. (2017). Muhammadiyah and disaster response: Integrating faith and social action. Journal of Indonesian Islam, 11(1), 125–150.
Mulkhan, A. M. (2010). Ahmad Dahlan: Jejak pembaruan Islam di Indonesia. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Nashir, H. (2019). Muhammadiyah dalam dinamika politik Islam kontemporer. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Shihab, Q. (1998). Islam yang saya pahami: Moderasi, toleransi, dan inklusi. Jakarta: Lentera Hati.
https://repositori.kemdikbud.go.id/18469/1/Buku%20Ahmad%20Dahlan.pdf
https://ebooks.gramedia.com/id/buku/muhammadiyah-sebagai-gerakan-islam-histori-teori-dan-ideologi
https://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Natsir
https://journal.aripafi.or.id/index.php/jbpai/article/download/442/649/2458
https://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/jie/article/view/25552
https://eprints.uad.ac.id/51989/1/20.%20BUKU%20DAKWAH%20DIGITAL__MASYARAKAT%20DIGITAL.pdf
Fanani, A. (2018). Dakwah Muhammadiyah di era modern: Perspektif dan strategi. Surakarta: UMS Press.
Khoiruddin, M. (2015). Filantropi Islam dan pemberdayaan masyarakat: Studi kasus Lazismu. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
PP Muhammadiyah. (2010). Pedoman Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
PP Muhammadiyah. (2010). Pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Abdullah, T. (2013). Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Baidhawi, Z. (2017). Moderasi Beragama: Konsep dan Implementasinya di Indonesia. Yogyakarta: LKiS.
Baidhawi, Z. (2018). Pendidikan Multikultural Berbasis Nilai Islam. Yogyakarta: LKiS.
Fanani, A. (2018). Rekonstruksi Pemikiran Islam. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Khoiruddin. (2015). Peran Muhammadiyah dalam Pembangunan Sosial dan Ekonomi. Bandung: Mizan.
Khoiruddin. (2017). Muhammadiyah dan Tantangan Globalisasi: Perspektif Pendidikan dan Sosial. Surakarta: Muhammadiyah Press.
Latief, H. (2017). Islamic Philanthropy and Social Development in Contemporary Indonesia. Singapore: Springer.
Mulkhan, A M. (2010). Mencari Makna Hidup Bersama: Muhammadiyah dan Indonesia. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Nashir, H. (2019). Islam Berkemajuan: Perspektif Muhammadiyah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
PP Muhammadiyah. (2010). Khittah Muhammadiyah dan Kontribusi terhadap NKRI. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Shihab, A. (1998). Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan.
Penulis:
1. Zalfa’ Zahirah Athallah
2. Dita Ismia Indah Sari
3. Amru Shafy Allam
Mahasiswa Program Studi Akuntansi, Universitas Muhammadiyah Gresik
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












