Di tengah hiruk-pikuk pembangunan ekonomi Indonesia, sebuah ancaman berbahaya tengah bergerak dalam sunyi.
Penyakit seperti stroke, diabetes mellitus, hipertensi, hingga berbagai jenis kanker kini menjelma menjadi pembunuh senyap yang merenggut nyawa jutaan warga negara.
Lebih dari sekadar persoalan medis, fenomena ini telah berkembang menjadi bom waktu ekonomi yang mengancam keberlanjutan sistem kesehatan nasional kita.
Fakta mencengangkan datang dari Kementerian Kesehatan: hampir tiga perempat dari total kematian di tanah air disebabkan oleh kategori penyakit tidak menular.
Angka 73 persen ini bukan hanya deretan angka di atas kertas, melainkan alarm nyaring yang menandakan kita berada dalam pusaran krisis kesehatan publik.
Ironi terbesar terletak pada kenyataan bahwa mayoritas pasien baru menyadari kondisinya ketika penyakit telah beranak-pinak ke organ tubuh lainnya, di mana opsi terapi menjadi terbatas dan tagihan medis mencapai angka yang mencekik leher.
Luka Tersembunyi di Kantong Negara
Dampak ekonomi dari ledakan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) dapat dilihat dari tiga dimensi yang saling terkait.
Dimensi pertama berkaitan dengan ongkos terapi berkelanjutan yang menjadi beban bagi sistem BPJS Kesehatan maupun kantong pasien.
Ambil contoh penderita kencing manis yang sudah mengalami komplikasi, biaya yang harus dikeluarkan bisa menembus angka puluhan juta dalam kurun waktu dua belas bulan.
Belum lagi jika kita bicara tentang cuci darah untuk pasien yang ginjalnya sudah tidak berfungsi optimal, yang menyedot dana negara hingga triliunan rupiah setiap tahunnya.
Dimensi kedua menyangkut hilangnya potensi ekonomi dari tenaga kerja produktif. Mereka yang menderita Penyakit Tidak Menular (PTM)TM di usia produktif terpaksa memangkas jam kerjanya atau malah mengundurkan diri sepenuhnya dari dunia kerja.
Riset mengungkapkan bahwa kehilangan produktivitas ini menimbulkan kerugian ekonomi mencapai ratusan triliun rupiah per tahun.
Angka ini sungguh luar biasa besar bagi bangsa yang masih berjuang mengejar ketertinggalan ekonomi.
Baca Juga: Apa Itu PTM? Peran Program Germas dalam Mengatasi Risiko Penyakit Tidak Menular
Dimensi ketiga adalah beban tersembunyi yang menimpa unit keluarga. Saat satu anggota keluarga divonis menderita Penyakit Tidak Menular (PTM), efek dominonya menghantam seluruh rumah tangga.
Anggota keluarga lain harus berkorban waktu untuk mendampingi ke fasilitas kesehatan, merawat di rumah, dan menutup celah biaya yang tidak ditanggung asuransi.
Tak jarang, keluarga-keluarga ini terperosok ke jurang kemiskinan akibat biaya pengobatan yang menggerus habis simpanan hidup mereka.
Biang Keladi: Perilaku Modern dan Absennya Prevensi
Ledakan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) sejalan dengan transformasi perilaku masyarakat modern.
Kebiasaan mengonsumsi makanan dengan kadar gula-garam-lemak tinggi, rendahnya gerakan fisik, adiksi terhadap tembakau, dan tekanan jiwa yang tidak tertangani dengan baik menjadi pemicu utama.
Yang lebih miris, negara kita tercatat sebagai salah satu konsumen rokok terbesar di planet ini, sementara upaya mengendalikan konsumsi tembakau masih berjalan di tempat.
Upaya pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) yang ada saat ini masih sangat jauh dari harapan. Komposisi anggaran kesehatan lebih condong ke sisi kuratif ketimbang preventif.
Padahal, menempatkan investasi pada langkah-langkah pencegahan jauh lebih menguntungkan secara ekonomi dibandingkan dengan mengobati Penyakit Tidak Menular (PTM) yang telah berkembang pesat.
Satu rupiah yang ditanamkan untuk pencegahan berpotensi menghemat puluhan rupiah untuk biaya pengobatan di kemudian hari.
Strategi Jitu Menghadang Ancaman
Langkah pertama yang harus digalakkan adalah penguatan program deteksi awal melalui Posbindu yang tersebar di seluruh nusantara.
Pemeriksaan kesehatan rutin harus bertransformasi menjadi kebiasaan masyarakat, bukan aktivitas yang baru dilakukan ketika tubuh sudah mengirimkan sinyal bahaya.
Langkah kedua adalah meluncurkan gerakan promosi hidup sehat secara masif dan berkesinambungan.
Pendidikan tentang risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) perlu diintegrasikan sejak jenjang pendidikan dasar.
Promosi kesehatan tidak boleh berhenti pada level poster atau tayangan iklan layanan publik, tetapi harus meresap ke dalam sistem pendidikan formal dan aktivitas-aktivitas berbasis masyarakat.
Baca Juga: Inovasi Stik Susu ‘Stisu’ dari Pujon Malang: Transformasi UMKM Lokal Menuju Ketahanan Pangan Digital
Langkah ketiga menyasar pada pengetatan aturan terhadap produk-produk yang mengancam kesehatan.
Tarif cukai rokok perlu ditingkatkan secara drastis, pembatasan iklan produk makanan tidak sehat harus diperketat, dan informasi kandungan produk makanan harus lebih mudah dipahami konsumen.
Langkah keempat adalah mengoptimalkan sistem rujukan dan layanan Penyakit Tidak Menular (PTM) di tingkat primer.
Puskesmas harus memiliki kapasitas untuk menangani kasus-kasus PTM sederhana sehingga tidak semua pasien harus naik ke rumah sakit yang biayanya jauh lebih mahal.
Gotong Royong Menghadapi Ancaman
Menghadang serangan Penyakit Tidak Menular (PTM) bukan semata kewajiban pemerintah atau jajaran kesehatan. Ini adalah misi bersama yang melibatkan semua lapisan masyarakat.
Dunia usaha harus ambil bagian dengan menciptakan ekosistem kerja yang mendukung kesehatan karyawan. Media massa perlu lebih agresif menyuarakan pentingnya gaya hidup sehat.
Keluarga sebagai pilar terkecil masyarakat harus menjadi sekolah pertama untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat pada generasi penerus.
Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah ancaman tersembunyi yang efeknya akan terus menggunung bila tidak ditangani dengan kesungguhan.
Beban ekonomi kesehatan yang ditimbulkannya akan kian memberat dan membahayakan kelangsungan sistem jaminan kesehatan nasional.
Sudah waktunya kita merombak cara pandang dari mengobati ke mencegah. Sebab pada akhirnya, mencegah selalu lebih bijak dan lebih hemat ketimbang mengobati.
Penulis: Hafsyah Feriantami, S.Tr.Keb.
Mahasiswa Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia Maju
Dosen Pengampu: Risky Kusuma H, S.KM, M.KM, Ph.D
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













