BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Es teh merupakan minuman tradisional yang telah lama menjadi bagian dari budaya Indonesia. Minuman ini sangat populer dan digemari oleh masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Rasanya yang segar dan harganya yang terjangkau menjadikan es teh sebagai pilihan minuman favorit bagi banyak orang. Popularitas Es Teh di Indonesia dibuktikan dengan banyaknya kedai es teh yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Kedai-kedai ini, baik yang besar maupun kecil, menawarkan berbagai variasi es teh dengan rasa dan topping yang beragam. Hal ini menunjukkan bahwa industri es teh di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang.
Menurut data dari Asosiasi Minuman Ringan Indonesia (ASRIM), konsumsi minuman teh di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, dengan pertumbuhan sebesar 5% pada tahun 2022. Usaha kecil dan menengah (UKM) Es Teh Indonesia telah berkembang pesat dan menjadi bagian penting dari industri minuman di Indonesia. Berdasarkan laporan dari Kementerian Koperasi dan UKM, UKM di sektor minuman menyumbang sekitar 10% dari total UKM di Indonesia pada tahun 2021.
Namun, Es Teh Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk persaingan yang ketat dengan produk minuman lainnya dan perubahan selera konsumen. Untuk dapat bertahan dan terus berkembang, Es Teh Indonesia perlu merumuskan strategi yang tepat dan efektif. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan analisis terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) yang dihadapi oleh Es Teh Indonesia.
Selain analisis SWOT, penggunaan Model Strategi Generik Porter juga diperlukan untuk menentukan strategi bersaing yang paling sesuai bagi Es Teh Indonesia. Model Strategi Generik Porter menawarkan tiga strategi utama, yaitu strategi keunggulan biaya, strategi diferensiasi, dan strategi fokus. Dalam hal ini Es Teh Indonesia dapat memanfaatkan strategi keunggulan biaya (cost leadership) karena minuman ini umumnya memiliki harga yang terjangkau bagi banyak kalangan. Dengan fokus pada efisiensi biaya dan penawaran harga yang kompetitif, Es Teh Indonesia dapat menarik lebih banyak pelanggan dan meningkatkan pangsa pasarnya. Dengan melakukan analisis SWOT dan Model Strategi Generik Porter, Es Teh Indonesia dapat mengidentifikasi faktor-faktor penting yang mempengaruhi bisnisnya, serta merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan usahanya.
1.2 Rumusan Masalah
- Bagaimana mengidentifikasi faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi oleh industri Es Teh Indonesia?
- Strategi bersaing apa yang paling sesuai untuk diterapkan oleh industri Es Teh Indonesia dalam menghadapi persaingan yang ketat dengan produk minuman lainnya?
- Bagaimana merumuskan strategi pengembangan yang efektif untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan industri Es Teh Indonesia di masa depan?
1.3 Tujuan
- Menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi industri Es Teh Indonesia melalui analisis SWOT.
- Menentukan strategi bersaing yang tepat bagi industri Es Teh Indonesia dengan menggunakan Model Strategi Generik Porter.
- Merumuskan strategi pengembangan yang komprehensif untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan industri Es Teh Indonesia berdasarkan hasil analisis SWOT dan Model Strategi Generik Porter.
BAB II TEORI
2.1 SWOT
SWOT adalah singkatan dari Strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang), dan Threats (Ancaman). Analisis SWOT merupakan alat perencanaan strategis yang digunakan untuk membantu individu, organisasi, atau proyek dalam mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi kesuksesan mereka.
A. Faktor Internal: Kekuatan dan Kelemahan
Kekuatan (Strengths) adalah aspek positif yang dimiliki oleh individu, organisasi, atau proyek. Kekuatan ini dapat berupa sumber daya, keterampilan, atau keunggulan kompetitif yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Contoh kekuatan:
- Memiliki merek yang kuat dan terkenal.
- Memiliki tim yang berpengalaman dan terampil.
- Memiliki produk atau layanan yang berkualitas tinggi.
- Memiliki lokasi yang strategis.
- Memiliki hubungan yang baik dengan pelanggan.
Kelemahan (Weaknesses) adalah aspek negatif yang dimiliki oleh individu, organisasi, atau proyek. Kelemahan ini dapat berupa kekurangan sumber daya, keterampilan, atau masalah internal yang dapat menghambat pencapaian tujuan. Contoh kelemahan:
- Kurangnya modal.
- Kurangnya pengalaman dalam bidang tertentu.
- Produk atau layanan yang tidak kompetitif.
- Sistem dan prosedur yang tidak efisien.
- Budaya organisasi yang tidak mendukung.
- Faktor Eksternal: Peluang dan Ancaman
B. Faktor Eksternal: Peluang dan Ancaman
Peluang (Opportunities) adalah faktor eksternal yang menguntungkan individu, organisasi, atau proyek. Peluang ini dapat berupa tren pasar, perubahan teknologi, atau kondisi ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan. Contoh peluang:
- Pertumbuhan pasar yang pesat.
- Munculnya teknologi baru yang dapat meningkatkan efisiensi.
- Perubahan peraturan yang menguntungkan.
- Meningkatnya permintaan konsumen akan produk atau layanan tertentu.
- Kelemahan pesaing.
Ancaman (Threats) adalah faktor eksternal yang merugikan individu, organisasi, atau proyek. Ancaman ini dapat berupa persaingan, perubahan teknologi, atau kondisi ekonomi yang dapat menghambat pencapaian tujuan. Contoh ancaman:
- Persaingan yang ketat dari perusahaan lain.
- Munculnya teknologi baru yang dapat membuat produk atau layanan menjadi usang.
- Perubahan peraturan yang tidak menguntungkan.
- Penurunan permintaan konsumen akan produk atau layanan tertentu.
- Kekuatan ekonomi makro yang tidak stabil.
Baca Juga: Strategi untuk Meningkatkan Sumber Daya Manusia di Era Banyaknya UMKM
C. Manfaat Analisis SWOT
Analisis SWOT memiliki banyak manfaat, antara lain:
- Membantu dalam memahami situasi saat ini: Analisis SWOT dapat membantu individu, organisasi, atau proyek untuk memahami dengan jelas kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang mereka hadapi.
- Membuat keputusan yang lebih baik: Dengan memahami situasi saat ini, individu, organisasi, atau proyek dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang bagaimana mencapai tujuan mereka.
- Mengembangkan strategi yang efektif: Analisis SWOT dapat membantu individu, organisasi, atau proyek untuk mengembangkan strategi yang efektif untuk memanfaatkan kekuatan, peluang, dan mengatasi kelemahan dan ancaman.
- Meningkatkan kinerja: Dengan menerapkan strategi yang efektif, individu, organisasi, atau proyek dapat meningkatkan kinerja dan mencapai tujuan mereka.
D. Contoh Penerapan Analisis SWOT
Analisis SWOT dapat diterapkan pada berbagai situasi, seperti:
- Perencanaan bisnis: Analisis SWOT dapat membantu pengusaha untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi oleh usaha mereka. Hal ini dapat membantu mereka untuk mengembangkan strategi yang tepat untuk meningkatkan daya saing dan pertumbuhan usaha mereka.
- Pengembangan produk: Analisis SWOT dapat membantu perusahaan untuk mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan konsumen, serta kekuatan dan kelemahan produk mereka sendiri. Hal ini dapat membantu mereka untuk mengembangkan produk yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.
- Kampanye pemasaran: Analisis SWOT dapat membantu perusahaan untuk mengidentifikasi target pasar mereka, serta kekuatan dan kelemahan pesaing mereka. Hal ini dapat membantu mereka untuk mengembangkan kampanye pemasaran yang lebih efektif dan mencapai target pasar mereka.
2.2 Porter Generic Strategy
Strategi Generik Porter, yang dikembangkan oleh Michael Porter pada tahun 1980, adalah kerangka kerja yang digunakan untuk membantu perusahaan memilih strategi yang tepat untuk mencapai keunggulan kompetitif di industri mereka. Kerangka kerja ini didasarkan pada dua dimensi:
- Keunggulan Biaya: Menawarkan produk atau layanan dengan harga yang lebih murah daripada pesaing.
- Diferensiasi: Menawarkan produk atau layanan yang berbeda dan unik dari pesaing.
A. Tiga Strategi Utama
Berdasarkan dua dimensi tersebut, Porter mengidentifikasi tiga strategi utama yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif:
- Kepemimpinan Biaya (Cost Leadership): Berfokus pada meminimalkan biaya produksi dan distribusi agar dapat menawarkan produk atau layanan dengan harga yang lebih murah daripada pesaing. Contoh perusahaan yang menerapkan strategi ini adalah Walmart dan Ryanair.
- Diferensiasi (Differentiation): Berfokus pada mendiferensiasikan produk atau layanan dari pesaing dengan menawarkan fitur, kualitas, atau layanan pelanggan yang unik. Contoh perusahaan yang menerapkan strategi ini adalah Apple dan Mercedes-Benz.
- Fokus (Focus): Berfokus pada melayani ceruk pasar tertentu dengan kebutuhan dan preferensi yang unik. Contoh perusahaan yang menerapkan strategi ini adalah GoPro dan Netflix.
Baca Juga: Upaya Pemerintah Indonesia dalam Mengembangkan Sektor Keuangan dan Perbankan Syariah
B. Memilih Strategi yang Tepat
Strategi yang tepat untuk sebuah perusahaan tergantung pada beberapa faktor, seperti:
- Struktur industri: Industri yang kompetitif dengan banyak pesaing mungkin lebih cocok untuk strategi kepemimpinan biaya, sedangkan industri dengan sedikit pesaing mungkin lebih cocok untuk strategi diferensiasi.
- Sumber daya dan kemampuan perusahaan: Perusahaan dengan sumber daya dan kemampuan yang kuat mungkin lebih cocok untuk strategi diferensiasi, sedangkan perusahaan dengan sumber daya dan kemampuan yang terbatas mungkin lebih cocok untuk strategi kepemimpinan biaya.
- Posisi pasar perusahaan: Perusahaan yang sudah memiliki pangsa pasar yang besar mungkin lebih cocok untuk strategi kepemimpinan biaya, sedangkan perusahaan yang baru memasuki pasar mungkin lebih cocok untuk strategi diferensiasi.
C. Keuntungan dan Kekurangan Masing-Masing Strategi
Setiap strategi memiliki keuntungan dan kekurangannya masing-masing. Keuntungan dari strategi kepemimpinan biaya adalah dapat meningkatkan keuntungan dengan menjual lebih banyak produk atau layanan dengan harga yang lebih rendah. Kekurangannya adalah strategi ini dapat rentan terhadap persaingan harga dari pesaing baru.
Keuntungan dari strategi diferensiasi adalah dapat menarik pelanggan yang bersedia membayar lebih untuk produk atau layanan yang unik. Kekurangannya adalah strategi ini dapat membutuhkan investasi yang besar dalam penelitian dan pengembangan, serta pemasaran.
Keuntungan dari strategi fokus adalah dapat memungkinkan perusahaan untuk menjadi pemimpin di ceruk pasar tertentu. Kekurangannya adalah strategi ini dapat membatasi pertumbuhan perusahaan jika ceruk pasar tidak cukup besar.
D. Contoh Penerapan Strategi Generik Porter
Berikut adalah beberapa contoh perusahaan yang menerapkan strategi Generik Porter:
- Walmart: Menerapkan strategi kepemimpinan biaya dengan menawarkan produk dengan harga yang lebih murah daripada pesaing.
- Apple: Menerapkan strategi diferensiasi dengan menawarkan produk inovatif dan berkualitas tinggi dengan desain yang unik.
- GoPro: Menerapkan strategi fokus dengan berfokus pada pasar kamera action untuk atlet dan petualang.
Baca Juga: Meningkatkan Potensi Sumber Daya Manusia di Kelurahan Bubutan Kota Surabaya
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Strategi Pemasaran
Menurut Tjiptono, strategi pemasaran adalah alat yang direncanakan dan dirancang secara fundamental untuk membantu perusahaan mengembangkan keunggulan kompetitif melalui program khusus yang berkelanjutan dalam melayani pasar (Tjiptono, 2015). Philip Kotler mendefinisikan strategi pemasaran sebagai pola pikir atau mindset yang digunakan untuk mencapai tujuan pemasaran. Mindset ini mencakup strategi yang terperinci tentang target pasar, penetapan posisi (positioning), bauran pemasaran, dan anggaran yang digunakan untuk pemasaran (Kotler, 2012).
Penyusunan strategi merupakan langkah awal untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Strategi pemasaran menggambarkan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, berdasarkan kebijakan yang berlaku selama periode tertentu (Wibowo, Arifin, & Sunarti, 2015). Ratnawati et al. (2017) menyatakan bahwa ada tiga cara untuk menyusun strategi pemasaran: pertama, strategi segmentasi pasar yang membagi pasar ke dalam kelompok dengan karakteristik yang berbeda; kedua, strategi penentuan pasar sasaran yang menentukan pasar yang akan dituju setelah segmentasi; dan ketiga, strategi penentuan posisi pasar, yang memerlukan usaha untuk menarik perhatian konsumen terhadap produk yang dihasilkan.
3.2 Daya Saing
Daya saing dapat didefinisikan sebagai kemampuan usaha suatu perusahaan dalam industri untuk menghadapi berbagai lingkungan yang dihadapi (Porter & Putri, 2012). Daya saing ditentukan oleh keunggulan bersaing suatu perusahaan dan sangat bergantung pada tingkat sumber daya relatif yang dimilikinya atau disebut keunggulan kompetitif (Porter & Putri, 2012).
Menurut Porter (2008), daya saing adalah kemampuan atau keunggulan yang digunakan untuk bersaing di pasar tertentu. Daya saing ini diciptakan melalui pengembangan terus-menerus di semua lini dalam organisasi, terutama di sektor produksi (Porter, 2008). Daya saing, terutama jika dilihat dari segi produk, adalah hal yang wajib dimiliki oleh sebuah usaha karena daya saing tersebut mampu membuat usaha tetap bertahan dalam ketatnya persaingan di dunia bisnis (Porter, 2008).
Manfaat daya saing dalam lingkungan persaingan yang semakin kompetitif dan adanya situasi pasar yang dinamis adalah bahwa setiap perusahaan tidak bisa lagi menghindari persaingan. Sebaliknya, perusahaan harus menghadapi tingkat persaingan tersebut dengan cara yang sebaik-baiknya. “Sebaik-baiknya” di sini diartikan sebagai upaya yang dilakukan secara optimal dan berkesinambungan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan lebih baik lagi di masa yang akan datang (Asmara & Rahayu, 2013). Ada empat strategi untuk meningkatkan kemampuan daya saing: keahlian teknikal individu, model dan strategi bisnis, kemampuan teknologi dan inovasi, serta kemampuan pemasaran (Asmara & Rahayu, 2013).
3.3 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif dengan metode kualitatif. Pendekatan ini bertujuan mencari hubungan dari suatu keadaan dengan memperhatikan segala aspek yang mampu menggambarkan keadaan tersebut secara nyata, sehingga dapat memberikan informasi yang dibutuhkan (Sugiyono, 2018). Penelitian kualitatif memerlukan kehadiran peneliti di lapangan karena peneliti berfungsi sebagai instrumen utama penelitian, perencana tindakan, pengumpul data, penganalisis data, dan pelapor hasil penelitian (Creswell, 2014).
Responden dalam penelitian ini adalah pemilik usaha franchise Es Teh Indonesia Dramaga, Bogor. Jenis data yang digunakan merupakan data primer yang diambil langsung dari pemilik usaha, yang dapat menjelaskan kondisi usaha secara terperinci. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan data sekunder yang diperoleh dari sumber-sumber informasi yang ada (Moleong, 2017). Teknik penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi dan wawancara. Pengumpulan data dilakukan secara deskriptif, di mana data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka. Sumber data berasal dari hasil observasi dan wawancara mendalam (Bogdan & Biklen, 2007).
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis SWOT. Analisis SWOT merupakan prosedur sistematis untuk mengidentifikasi peluang usaha yang dilihat dari kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) sebagai faktor internal, serta peluang (Opportunity) dan ancaman (Threats) sebagai faktor eksternal (Rangkuti, 2013).
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Es Teh Indonesia
Esteh Indonesia pertama kali didirikan pada tahun 2018 di Kemang Village. Awalnya, EsTeh Indonesia memproduksi produk minuman, seperti es teh manis, es teh lemon, es teh susu, thai tea, dan es teh leci. Saat ini, Esteh Indonesia sudah mengembangkan banyak produk, bukan hanya produk teh, tetapi juga produk minuman manis lainnya dengan berbagai topping. Selain itu, Esteh juga mulai memproduksi produk makanan yang baru dimulai dengan memproduksi cireng.
Baca Juga: Peluang dan Tantangan Penerapan Teknologi Keuangan bagi Bank Syariah
Perkembangan bisnis Esteh Indonesia terbilang cukup pesat. Esteh Indonesia kian hari makin digemari oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia dari anak kecil hingga orang dewasa karena harga yang murah, varian produk yang selalu berinovasi, rasa produk yang enak, serta selalu mengikuti tren. Pada September 2019, Esteh Indonesia memulai konsep kemitraan sehingga berganti nama menjadi PT Esteh Indonesia Makmur.
Hingga saat ini, Esteh Indonesia tidak hanya menjual produknya melalui booth atau outlet, tetapi juga menjual produknya melalui e-commerce, seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Hal ini berpengaruh positif pada perkembangan bisnis Esteh Indonesia karena besarnya ketertarikan masyarakat dari segi penjualan daring.
Dalam mengembangkan bisnisnya, Esteh Indonesia terus bekerja sama dengan artis-artis ternama Indonesia serta jenama besar lainnya. Oleh karena itu, pada akhir tahun 2021, Esteh Indonesia sudah memiliki 450 gerai di seluruh Indonesia. Hal ini dapat terjadi karena Esteh Indonesia terus mempertahankan bisnisnya dengan memberikan produk dan service terbaiknya dengan cara mengedepankan standar yang tinggi serta memberikan pelatihan oleh trainer kepada karyawannya mengenai cara meracik produk minuman dan cara melayani konsumen dengan ramah.
Esteh Indonesia sendiri memiliki visi, yaitu menjadi market leader perusahaan food and beverage yang menghasilkan pengusaha Indonesia berkualitas maka setiap mitra pun akan diberikan informasi dan edukasi mengenai cara mengontrol dan menjaga kualitas produk, memberikan pelayanan terbaik, memberikan promosi, menghitung keuntungan, dan menjaga nama baik Esteh Indonesia.
4.2 Strategi Bisnis Esteh Indonesia
Dalam merancang dan menerapkan strategi bisnisnya, Esteh Indonesia perlu menentukan segmentasi, targeting, dan positioning produk mereka terlebih dahulu. Segmentasi geografis Esteh Indonesia adalah kota-kota besar yang memiliki karakteristik penduduk yang padat, akses yang mudah, dan mudah mencari sumber daya, termasuk sumber daya manusia. Untuk segmentasi demografis, Esteh Indonesia cocok dikonsumsi oleh remaja, dewasa, hingga orang tua. Esteh Indonesia tidak cocok untuk diminum oleh anak di bawah 2 tahun. Lalu, berdasarkan jenis kelamin, Esteh Indonesia cocok untuk perempuan dan laki-laki. Berdasarkan kelas sosial, Esteh Indonesia dapat dibeli oleh kalangan apa pun, baik golongan bawah hingga golongan atas. Esteh Indonesia juga disambut oleh masyarakat yang hidup konsumtif, penyaing atau strivers, serta masyarakat yang aktif dalam tren.
Dalam targeting, target pasar Esteh Indonesia adalah remaja dan orang dewasa yang berusia 13 hingga 35 tahun. Hal ini karena usia tersebut cenderung aktif di media sosial dan aktif dalam mengikuti tren. Selain itu, target pasar lainnya adalah pekerja kantoran yang memiliki gaya hidup sibuk. Mereka cenderung mencari minuman praktis yang menyegarkan. Untuk positioning sendiri, Esteh Indonesia menempatkan produk mereka di benak konsumen dengan menawarkan produk minuman yang segar. Oleh karena itu, beberapa konten promosi di media sosialnya terdapat tagline “menyegarkan”. Esteh Indonesia juga menempatkan posisinya sebagai es teh dengan harga yang murah bagi konsumen. Selain itu, Esteh Indonesia juga menempatkan posisinya dengan menawarkan varian rasa yang beragam dan inovatif. Hal ini terbukti berhasil karena varian rasa inovasi yang diciptakan Esteh Indonesia, yaitu varian Chizu Red Velvet viral dan banyak digemari oleh konsumen hingga menciptakan para konsumen baru.
Baca Juga: Manajemen Mutu Terpadu
Oleh karena itu, salah satu strategi Esteh Indonesia adalah terus mempertahankan harga dan kualitas produknya untuk mempertahankan posisi atau kesan tertentu dibanding pesaing lainnya. Selain itu, Esteh Indonesia terus menjalin kerja sama dengan artis ternama Indonesia, influencer, serta brand besar lainnya. Dalam bersaing dengan kompetitornya, Esteh Indonesia juga terus melakukan inovasi varian rasa untuk mempertahankan konsumennya serta menciptakan konsumen yang baru.
Esteh Indonesia juga menjual produknya secara luring dan daring. Luring melalui gerai-gerai, sementara daring melalui e-commerce, seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood. Esteh Indonesia juga mempromosikan produknya melalui media sosial, seperti Instagram, TikTok, dan YouTube untuk menarik konsumen.
Dalam menjalin hubungan dengan konsumen, Esteh Indonesia berinteraksi melalui media sosial, mengadakan promo, mengadakan seminar, membuat podcast serta mengadakan giveaway di akun media sosialnya. Pendapatan Esteh Indonesia bukan hanya dari penjualan produk, tetapi juga dari kemitraan (franchise).
4.3 Analisis SWOT Es Teh Indonesia
Es Teh Indonesia telah bekerja sama dengan Gojek, Grab, Shopee Food yang ada di seluruh Indonesia untuk penjualan online. Tidak hanya menjual secara online, Es Teh Indonesia juga menjualnya secara offline dengan datang langsung ke yang berada di seluruh Indonesia. Es Teh Indonesia juga aktif di berbagai media sosial seperti Instagram dan Tiktok. Dengan memanfaatkan media sosial akan memperluas dan meningkatkan promosi produk mereka. Berikut merupakan analisis SWOT pada Es Teh Indonesia :
Tabel 4.1 Analisis SWOT Es Teh Indonesia
Dari hasil analisis yang dilakukan pada Es Teh Indonesia maka dapat dipilih strategi pemasaran yang dapat dijadikan sebagai upaya peningkatan daya saing. Berikut hasil analisis:
Baca Juga: Sekolah Sukses melalui Penerapan MBS
1. Strategi SO
Strategi SO dilakukan untuk memanfaatkan kekuatan dan peluang yang dimiliki Es Teh Indonesia untuk mencari peluang yang dimiliki, antara lain :
- Mempertahankan harga dan kualitas produk untuk meningkatkan loyalitas konsumen;
- Menjalin kerjasama yang saling menguntungkan untuk memperluas wilayah pemasaran.
2. Strategi ST
Strategi ST ini merupakan penggunaan kekuatan yang digunakan untuk menghadapi ancaman dari para pesaingnya yang dapat dihadapi Es Teh Indonesia, antara lain :
- Terus berinovasi dalam berbagai varian rasa untuk meningkatkan daya saing suatu produk.
3. Strategi WO
Strategi ini digunakan pada saat adanya peluang yang digunakan untuk mengatasi kelemahan pada Es Teh Indonesia, antara lain:
- Memperluas wilayah pemasaran agar konsumen mudah menjangkau suatu produk.
4. Strategi WT
Strategi WT ini digunakan untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki Es Teh Indonesia agar terhindar dari ancaman usaha yang akan dihadapi, antara lain:
- Memanfaatkan berbagai media promosi untuk menarik konsumen dengan meningkatkan dan memperluas promosi suatu produk.
4.4 Analisis Porter Generic Strategy Es Teh Indonesia
Esteh Indonesia harus memilih strategi yang tepat untuk memastikan keberlanjutan dan kesuksesan jangka panjang untuk bertahan dalam dunia bisnis yang kompetitif. Salah satu pendekatan dalam penyusunan strategi yang diterapkan Esteh Indonesia yaitu Porter’s Generic Strategies, yang mencakup tiga strategi utama: cost leadership, differentiation, dan focus. Untuk memilih strategi yang paling sesuai dengan karakteristik perusahaan Esteh Indonesia telah mempertimbangkan berbagai hal, yakni sebagai berikut:
Baca Juga: Pengaruh Jaringan Bisnis dan Inovasi terhadap Keberhasilan Usaha pada UMKM
Sebagai perusahaan yang bergerak di industri minuman kemasan, Esteh Indonesia menilai strategi cost leadership adalah strategi yang paling sesuai dengan karakteristik perusahaan beserta konsumennya sebagai cara untuk bersaing di pasar yang dinamis dan penuh tantangan. Cost leadership strategy atau strategi kepemimpinan biaya adalah pendekatan di mana perusahaan berusaha untuk menjadi produsen dengan biaya terendah dalam industrinya. Dengan menekan biaya produksi dan operasional, perusahaan dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan para pesaingnya. Penerapan strategi ini memerlukan pengelolaan biaya yang ketat, efisiensi operasional, serta inovasi dalam proses produksi dan distribusi. Berikut merupakan penerapan Porter’s Generic Strategy pada Esteh Indonesia, khususnya cost leadership, dalam operasional dan strategi bisnis mereka:
- Esteh Indonesia mengurangi biaya produksi melalui penggunaan bahan baku lokal yang lebih murah dan memastikan efisiensi dalam proses produksi untuk mengurangi limbah dan biaya tenaga kerja.
- Memproduksi dalam jumlah besar untuk mencapai skala ekonomi, yang memungkinkan pengurangan biaya per unit produk.
- Mengoptimalkan jaringan pemasok untuk mendapatkan bahan baku dengan harga lebih murah dan memastikan pengiriman tepat waktu untuk menghindari biaya tambahan.
- Menggunakan teknologi dan otomatisasi dalam proses produksi dan manajemen inventaris untuk mengurangi biaya tenaga kerja dan meningkatkan efisiensi operasional.
- Mengoptimalkan jaringan distribusi untuk mengurangi biaya logistik dan pengiriman.
Esteh Indonesia telah membuktikan keberhasilannya dalam menerapkan strategi ini dengan menawarkan produk-produk minuman berkualitas tinggi namun dengan harga yang terjangkau. Produk Esteh Indonesia mudah dijangkau oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat kelas menengah hingga bawah, berkat harga yang kompetitif dan distribusi yang luas. Dengan demikian, Esteh Indonesia mampu menarik konsumen dari berbagai segmen pasar, memperluas pangsa pasar, dan meningkatkan profitabilitas dengan berfokus pada strategi yang mengutamakan pengendalian biaya dan efisiensi operasional.
4.5 Penetapan Key Strategy Es Teh Indonesia
Penetapan strategi utama (key strategy) bagi Es Teh Indonesia adalah langkah penting untuk memastikan keberhasilan dan pertumbuhan bisnis di pasar yang kompetitif. Strategi utama ini mencakup beberapa aspek kunci yang saling berkaitan dan mendukung. Pertama, fokus pada inovasi produk dengan menawarkan varian rasa teh yang unik dan menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi untuk menarik perhatian konsumen yang mencari pengalaman minum teh yang berbeda (Tjiptono, 2015). Kedua, strategi pemasaran yang efektif melalui pemanfaatan media sosial dan influencer marketing untuk meningkatkan brand awareness dan engagement di kalangan target pasar, terutama generasi milenial dan Gen Z (Kotler, 2012). Ketiga, penetapan harga yang kompetitif dan terjangkau tanpa mengorbankan kualitas produk, guna menjangkau segmen pasar yang lebih luas (Wibowo, Arifin, & Sunarti, 2015).
Selain itu, penetapan lokasi gerai yang strategis di area dengan lalu lintas tinggi seperti pusat perbelanjaan, kampus, dan perkantoran sangat penting untuk memaksimalkan visibilitas dan aksesibilitas (Ratnawati et al., 2017). Terakhir, layanan pelanggan yang prima melalui pelatihan karyawan juga menjadi fokus utama untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan dan konsisten bagi setiap pelanggan (Asmara & Rahayu, 2013). Dengan mengintegrasikan strategi-strategi ini, Es Teh Indonesia dapat membangun keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dan memperkuat posisinya di pasar minuman teh lokal.
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1 Kesimpulan
Konsumsi es teh di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Oleh karena itu, Esteh Indonesia memiliki berbagai tantangan dalam mengembangkan bisnisnya. Pada makalah ini, analisis SWOT dan Porter Generic Strategy diperlukan untuk strategi pengembangan Esteh Indonesia. Berdasarkan hasil analisis, Esteh Indonesia fokus pada harga dan kualitas produknya. Selain itu, Esteh Indonesia juga mempertahankan variasi produknya yang beragam dan terus melakukan inovasi. Oleh karena itu, Esteh Indonesia harus terus mempertahankan posisinya serta menjaga dan melanjutkan kekuatan-kekuatan yang mereka miliki. Di samping itu, Esteh Indonesia juga harus memperbaiki atau mengevaluasi kelemahan yang mereka miliki agar tidak kehilangan konsumen.
5.2 Rekomendasi Strategi
– Mempertahankan harga dan kualitas produk
Salah satu kekuatan Esteh Indonesia adalah posisi harganya yang terjangkau. Oleh karena itu, Esteh Indonesia harus menekan biaya produksi dan distirbusi agar harga tetap terjangkau dengan produksi menggunakan bahan baku yang berkualitas sehingga konsumen tertarik dengan harga yang terjangkau, tetapi produk berkualitas.
– Menjalin kerja sama
Esteh Indonesia harus terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti artis dan brand ternama lainnya. Hal ini untuk memperluas wilayah pemasaran. Esteh Indonesia juga harus terus gencar dalam menambah kemitraannya sebagai tambahan pemasukan.
– Melakukan inovasi
Dengan varian rasa yang beragam, Esteh Indonesia harus terus melakukan inovasi agar dapat terus bersaing dengan para pesaing lainnya. Selain itu, dengan varian yang terus beragam, Esteh Indonesia dapat membangun brand loyalty bagi para konsumen.
– Meningkatkan promo
Dalam mempertahankan kesetiaan konsumen serta menciptakan konsumen baru, Esteh Indonesia harus memberikan promo-promo yang baru dan unik kepada konsumen.
Penulis:
1. Naila Shofia Khansa
2. Salsabila Hana Afridhayanti
3. Rizky Putra Ramadhan Pribadi
4. Adzahrra Welvinanda
5. Amanda Anindya Anugrah
Mahasiswa Manajemen IPB University
Dosen Mata Kuliah: Dr. Eko Ruddy Cahyadi, S.Hut., M.M.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
Daftar Pustaka
Salsabilah, Sisca A. (2022). Visualisasi Model Bisnis Es Teh Indonesia.
Sulistiyani, & Aditya Pratama. (2020). “Analisis Strategi Pemasaran Dalam Upaya Peningkatan Daya Saing UMKM”. Jurnal Pemasaran Kompetitif. Vol.3, No.2.
Taufik, M. (2021). Analisis Strategi Pemasaran Dalam Upaya Peningkatan Daya Saing Pada ES Teh Indonesia Cabang Lamongan. Ekonomi, Keuangan, Investasi Dan Syariah (EKUITAS), 3(2), 247–250. https://doi.org/10.47065/ekuitas.v3i2.1080
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI
















