Perubahan Sikap Anak Broken Home Terutama Pada Anak Usia SD/MI

psikis anak
Foto: Rumah.com

Mari kita bahas tentang perubahan sikap anak broken home terutama pada anak usia SD/MI. Semoga bermanfaat.

Masa sekolah dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah periode emas dalam perkembangan anak. Di tahap ini, mereka bukan hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membentuk karakter, nilai moral, dan pola pikir yang akan dibawa hingga dewasa.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, ketika anak tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis, sering terjadi perubahan sikap anak broken home yang cukup mencolok.

Perubahan ini bisa berupa penurunan semangat belajar, rasa percaya diri yang merosot, atau perubahan perilaku yang ekstrem—dari pendiam menjadi pemberontak.

Fenomena ini tidak bisa dianggap remeh. Anak di usia ini masih sangat bergantung pada dukungan emosional orang tua. Begitu dukungan itu terganggu, dampaknya bisa merembet ke banyak aspek kehidupan mereka—baik di rumah, sekolah, maupun pergaulan.

Penting untuk dipahami bahwa broken home adalah bukan sekadar soal orang tua yang bercerai. Bahkan, keluarga yang secara fisik masih tinggal bersama pun bisa menciptakan suasana broken home jika di dalamnya dipenuhi pertengkaran, pengabaian, atau ketidakpedulian.

1. Pengertian Istilah & Konteks “Broken Home”

Sebelum membahas lebih jauh tentang perubahan sikap anak, kita perlu memahami dulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan broken home dan mengapa istilah ini begitu sering digunakan dalam konteks perkembangan anak.

Kata “broken home” berasal dari bahasa Inggris, yang secara harfiah berarti “rumah yang rusak”. Namun dalam dunia psikologi keluarga, maknanya lebih dalam: ini adalah gambaran tentang kondisi keluarga yang kehilangan keharmonisan dan fungsi utamanya.

Menurut Matinka (2011), broken home adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suasana keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari perceraian, konflik berkepanjangan, hingga hilangnya peran salah satu orang tua.

Di Indonesia, apa itu broken home sering dipahami secara sempit hanya sebagai perceraian. Padahal, banyak kasus menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya masih tinggal bersama pun bisa mengalami dampak broken home—misalnya ketika rumah dipenuhi pertengkaran atau ketika kebutuhan emosional anak diabaikan.

Apa itu Broken Home?

Dari sudut pandang perkembangan anak, broken home bukan sekadar status hukum atau hubungan orang tua, melainkan soal bagaimana fungsi keluarga berjalan atau tidak berjalan.
Sebuah keluarga yang ideal memberikan:

  • Rasa aman.
  • Kasih sayang tanpa syarat.
  • Bimbingan moral.
  • Dukungan emosional dan sosial.
  • Stabilitas finansial.

Ketika salah satu atau semua fungsi ini tidak terpenuhi, anak akan merasakan efeknya. Broken home merupakan istilah untuk menggambarkan tidak berjalannya salah satu fungsi dalam keluarga yaitu fungsi perlindungan, pendidikan, dan pembinaan karakter.

Misalnya:

  • Orang tua tidak lagi berbicara satu sama lain.
  • Anak sering menjadi saksi pertengkaran atau kekerasan.
  • Salah satu orang tua menghilang dari kehidupan anak.
  • Anak dibiarkan mengurus diri sendiri tanpa bimbingan.

Bentuk Broken Home Pada Anak SD/MI

Kondisi broken home pada anak usia SD/MI bisa hadir dalam beberapa bentuk nyata:

1. Perceraian orang tua

Anak tinggal bersama salah satu orang tua, jarang bertemu yang lain, dan mungkin terjebak dalam konflik memilih “pihak”.

2. Konflik rumah tangga berkepanjangan

Anak menyaksikan pertengkaran setiap hari. Bahkan jika orang tua masih bersama, rumah terasa seperti medan perang.

3. Pengabaian emosional

Orang tua sibuk bekerja atau fokus pada masalah pribadi, sementara anak tidak mendapat perhatian, pelukan, atau waktu berkualitas.

4. Kekerasan fisik atau verbal

Anak menjadi korban atau saksi kekerasan. Ini meninggalkan trauma yang sulit dihapus.

5. Keluarga utuh tetapi tidak harmonis

Secara fisik bersama, tetapi ikatan batin lemah. Komunikasi minim, kasih sayang jarang ditunjukkan.

Broken Home dalam Bahasa Gaul & Istilah Populer

Di era digital, istilah broken home adalah sering muncul di media sosial, kadang dengan nada bercanda, kadang sebagai bentuk curahan hati.

Ungkapan seperti:

  • pp broken home (foto profil untuk menunjukkan kondisi keluarga).
  • hari anak broken home sedunia (sindiran atau solidaritas).
  • gambar anak broken home aesthetic (ilustrasi yang melambangkan kesedihan).
  • foto broken home anak laki-laki atau foto anak broken home perempuan (gambar pribadi yang dibagikan untuk mengungkapkan perasaan).

Meski sering digunakan secara santai, istilah-istilah ini tetap membawa makna emosional yang dalam bagi mereka yang mengalaminya.

Banyak anak broken home mencari dukungan atau validasi melalui platform online, karena merasa sulit membicarakannya di dunia nyata.

Pengertian Keluarga

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Keluarga adalah bagian dari masyarakat besar yang terdiri dari ibu bapak dan anak-anaknya (KBBI, 2013). 

Pengertian Anak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Anak adalah keturunan yang kedua (KBBI, 2013). “Anak  adalah seorang lelaki atau perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas” (“Anak,” 2014).

Pengertian Broken Home

Menurut Matinka (2011, h. 6) “Broken home adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suasana keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalannya kondisi keluarga yang rukun dan sejahtera yang menyebabkan terjadinya konflik dan perpecahan dalam keluarga tersebut”.

2. Ciri-Ciri & Perubahan Sikap Anak Broken Home

Perubahan sikap pada anak broken home seringkali terlihat jelas jika kita memperhatikan perilaku mereka sehari-hari. Anak usia SD/MI masih berada pada tahap perkembangan psikososial yang sangat sensitif.

Menurut teori perkembangan Erik Erikson, usia ini berada pada fase “industry vs inferiority”, di mana anak mulai membangun rasa percaya diri melalui pencapaian dan pengakuan dari lingkungan.

Jika di rumah mereka menghadapi konflik dan ketidakstabilan, rasa percaya diri tersebut bisa runtuh, digantikan dengan rasa rendah diri, cemas, atau marah.

Dampak ini tidak hanya terlihat dalam jangka pendek, seperti perubahan perilaku sehari-hari, tetapi juga dapat memengaruhi masa depan anak.

Beberapa anak mungkin menjadi “pemberontak”, sementara yang lain menjadi “penurut” secara berlebihan karena takut memicu kemarahan orang tua.

Ada juga yang terlihat baik-baik saja, namun menyimpan luka batin yang memengaruhi keputusan mereka di masa dewasa.

Perubahan Emosional

Perubahan emosional adalah tanda paling awal yang biasanya terlihat pada anak broken home. Pada usia SD/MI, kemampuan anak untuk memahami konflik orang dewasa masih terbatas, sehingga emosi mereka sering muncul dalam bentuk perilaku spontan.

Beberapa tanda umum meliputi:

1. Sedih berkepanjangan

Anak terlihat murung, kurang tertarik bermain, atau kehilangan keceriaan. Misalnya, anak yang dulunya aktif di kelas tiba-tiba menjadi pendiam dan lebih suka duduk sendiri.

2. Marah dan mudah tersinggung

Perasaan terjebak dalam situasi yang tidak bisa mereka kontrol memicu ledakan emosi. Hal ini bisa muncul di rumah, sekolah, atau lingkungan bermain.

3. Takut berlebihan

Rasa takut ditinggalkan atau melihat orang tua bertengkar bisa membuat anak menjadi sangat cemas. Kadang mereka menolak berpisah dari orang tua bahkan untuk pergi ke sekolah.

4. Kebingungan dan kecemasan

Anak sering merasa tidak mengerti mengapa orang tuanya berubah atau mengapa suasana rumah menjadi tegang.

5. Mood swing

Perubahan suasana hati yang drastis, dari gembira menjadi sedih atau marah dalam waktu singkat.

Efek ini sering kali membuat anak terjebak dalam lingkaran emosi negatif, di mana mereka kesulitan memproses apa yang dirasakan.

Perilaku Sosial & Interaksi

Selain perubahan emosi, perilaku sosial anak broken home juga mengalami pergeseran.
Beberapa contoh:

Menutup diri

Anak lebih memilih sendirian, tidak mau bergabung dengan teman-teman saat jam istirahat.

Sulit percaya pada orang lain

Jika kepercayaan pada orang tua terganggu, anak bisa kesulitan mempercayai guru atau teman.

Menghindari kegiatan kelompok

Mereka mungkin merasa tidak nyaman berpartisipasi karena takut menjadi bahan ejekan atau merasa berbeda.

Rendah diri

Perasaan “kurang berharga” sering muncul, apalagi jika mereka membandingkan keluarga mereka dengan keluarga teman yang tampak harmonis.

Ada juga anak yang bereaksi sebaliknya, yaitu menjadi terlalu agresif untuk mendapatkan perhatian. Perilaku ini bisa dianggap kenakalan, padahal sering kali hanya bentuk dari rasa sakit hati yang tidak terungkap.

Prestasi Akademik & Motivasi

Dampak broken home pada anak juga terlihat pada dunia akademik. Banyak guru melaporkan bahwa siswa yang mengalami masalah keluarga cenderung mengalami:

  • Penurunan motivasi belajar → Anak merasa belajar tidak penting karena fokusnya teralihkan pada masalah keluarga.
  • Kesulitan berkonsentrasi → Pikiran mereka sering melayang memikirkan situasi di rumah.
  • Prestasi menurun → Nilai ujian menurun, PR tidak dikerjakan.
  • Tidak tertarik mengikuti kegiatan tambahan seperti les atau ekstrakurikuler.

Sebuah penelitian di SMP Negeri Baleendah 2 menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa dari keluarga broken home lebih rendah dibanding siswa dari keluarga utuh. Ini mempertegas bahwa kondisi keluarga punya pengaruh signifikan terhadap semangat belajar.

Dampak Jangka Panjang & Risiko Negatif

Jika kondisi broken home tidak segera ditangani, risiko jangka panjangnya meliputi:

  • Gangguan mental → Depresi, kecemasan kronis, atau trauma.
  • Perilaku menyimpangMerokok, minum alkohol, atau terlibat narkoba sebagai pelarian.
  • Kehilangan pegangan moral → Anak tidak memiliki figur panutan yang sehat.
  • Kesulitan membangun hubungan → Rasa takut dikhianati membuat mereka sulit percaya pada pasangan di masa depan.

Bahkan, anak yang tumbuh tanpa dukungan memadai bisa membawa luka batin ini hingga dewasa, memengaruhi cara mereka membesarkan anaknya kelak.

Dampak Peran Ekonomi & Tanggung Jawab Anak

Banyak anak broken home yang harus memikul tanggung jawab orang dewasa sebelum waktunya. Misalnya:

  • Mengurus adik-adik ketika orang tua bekerja.
  • Mengambil pekerjaan kecil untuk membantu keuangan keluarga.
  • Menjadi “penengah” antara orang tua yang berselisih.

Beban ini tidak hanya memengaruhi waktu bermain dan belajar, tetapi juga mempercepat kedewasaan anak secara emosional, kadang dengan cara yang tidak sehat.

3. Dampak Psikologis & Sosial Anak Broken Home

Dampak broken home pada anak bukan sekadar masalah sementara yang bisa hilang begitu saja. Pada anak usia SD/MI, pengalaman buruk dalam keluarga dapat membentuk pola pikir, kepribadian, dan cara mereka memandang dunia.

Fase ini adalah masa emas perkembangan karakter. Segala pengalaman—baik maupun buruk—bisa tertanam dalam memori jangka panjang.

Itulah sebabnya, efek anak broken home tidak hanya muncul sekarang, tapi bisa terus terasa hingga mereka dewasa.

Seorang psikolog anak, Nurmalasari (2008), menyatakan bahwa reaksi psikologis anak terhadap broken home sangat bergantung pada usia dan tahap perkembangan.

Anak SD/MI belum memiliki kemampuan penuh untuk memahami perbedaan pendapat atau konflik orang dewasa, sehingga mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Perasaan “Aku yang membuat mereka bertengkar” adalah beban emosional yang berat bagi anak sekecil itu.

Dampak Psikologis (Mental Anak Broken Home)

1. Ketidakstabilan Emosi

Mental anak broken home sering kali terombang-ambing antara rasa marah, sedih, takut, dan cemas. Mereka bisa menjadi sangat sensitif terhadap kritik atau perubahan situasi.
Misalnya, suara keras atau pertengkaran kecil di sekolah bisa memicu rasa takut yang berlebihan karena mengingatkan mereka pada suasana rumah.

2. Depresi Anak Usia Dini

Walaupun jarang disadari, depresi bisa muncul pada anak SD/MI. Gejalanya termasuk menarik diri, kehilangan minat bermain, gangguan tidur, hingga keluhan sakit fisik yang tidak jelas penyebabnya.

3. Rasa Tidak Aman

Efek anak broken home yang sering diabaikan adalah hilangnya rasa aman. Anak membutuhkan figur stabil untuk merasa terlindungi. Ketika salah satu atau kedua orang tua absen secara emosional, anak kehilangan pegangan.

4. Gangguan Percaya Diri

Anak mungkin merasa “tidak cukup baik” atau “tidak pantas dicintai” karena situasi keluarga mereka. Rasa minder ini sering terbawa hingga dewasa.

5. Krisis Identitas

Beberapa anak mulai mempertanyakan jati dirinya lebih awal. Mereka bertanya-tanya, “Kenapa keluarga aku nggak seperti teman-temanku?” Pertanyaan ini bisa menimbulkan rasa malu atau keterasingan.

Efek Sosial Anak Broken Home

Selain memengaruhi mental, broken home juga berdampak besar pada kemampuan sosial anak.

1. Isolasi Sosial

Anak cenderung menghindari interaksi dengan teman sebaya karena takut dihakimi atau diejek.
Contoh anak broken home di sekolah biasanya duduk di pojok kelas, enggan terlibat permainan.

2. Kesulitan Membentuk Hubungan

Mereka mungkin sulit mempercayai orang baru, sehingga hubungan pertemanan atau kerja sama kelompok menjadi terbatas.

3. Perilaku Agresif atau Menantang

Sebaliknya, ada juga anak yang melampiaskan rasa frustrasinya dengan cara menantang otoritas, melawan guru, atau mengganggu teman.

4. Ketergantungan pada Kelompok Negatif

Dalam beberapa kasus, anak broken home mencari “keluarga pengganti” di lingkungan yang salah, seperti geng nakal, hanya untuk mendapatkan rasa diterima.

Akibat Broken Home pada Masa Depan Anak

Dampak sosial dan psikologis yang tidak tertangani bisa memunculkan risiko jangka panjang:

  • Perilaku Menyimpang → Terlibat pergaulan bebas, narkoba, atau kejahatan ringan sebagai bentuk pelarian.
  • Kesulitan Menjalin Hubungan Dewasa → Sulit membangun kepercayaan dalam hubungan romantis.
  • Trauma Antar Generasi → Pola konflik keluarga bisa terulang ketika mereka membangun keluarga sendiri.

Mengapa Dampak Ini Bisa Begitu Besar?

Anak usia SD/MI masih mengandalkan keluarga sebagai pusat dunia mereka. Keluarga bukan hanya tempat tinggal, tapi juga sumber rasa aman, cinta, dan identitas.

Ketika fondasi itu goyah, semua aspek perkembangan anak ikut terguncang.

Bayangkan sebuah rumah dengan tiang penyangga yang retak—meski atapnya masih berdiri, lama-kelamaan seluruh struktur akan runtuh jika tidak diperbaiki.

4. Cara Mengatasi & Memberi Motivasi untuk Anak Broken Home

Kamu perlu tahu bahwa anak broken home tidak selalu berakhir gagal atau memiliki masa depan suram.

Banyak sekali contoh anak broken home yang justru tumbuh menjadi pribadi tangguh, mandiri, dan sukses. Perbedaannya terletak pada dukungan yang mereka terima dan bagaimana lingkungan merespons situasi tersebut.

Orang tua, guru, keluarga besar, dan bahkan teman dekat memiliki peran penting dalam membantu anak melewati masa sulit ini.

Bagian ini akan membahas langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak negatif broken home dan menumbuhkan kembali semangat anak.

Komunikasi Terbuka & Dukungan Emosional

Komunikasi adalah fondasi dari hubungan yang sehat. Pada anak broken home, komunikasi yang terbuka dapat menjadi “obat” yang membantu mengurangi rasa bingung dan takut.

1. Jujur tapi Bijak

Saat anak bertanya tentang konflik keluarga, jawab dengan bahasa yang sesuai usia mereka. Hindari memberi detail konflik yang bisa membebani mental anak.

2. Hindari Memojokkan Anak Memilih Pihak

Kalimat seperti “Kamu harus ikut ayah saja” atau “Ibu lebih sayang kamu” hanya akan membuat anak merasa terjebak.

3. Luangkan Waktu untuk Mendengarkan

Jangan buru-buru memberi nasihat. Kadang, anak hanya ingin didengar.

4. Tunjukkan Kasih Sayang Secara Konsisten

Pelukan, senyuman, dan kata-kata positif sangat berarti untuk mengembalikan rasa aman.

Konseling Psikologis & Terapi

Tidak semua masalah anak broken home bisa diatasi sendiri oleh keluarga. Dalam banyak kasus, bantuan profesional diperlukan.

  • Konseling Individu → Membantu anak mengungkapkan perasaan dan mengelola emosi.
  • Terapi Bermain (Play Therapy) → Cocok untuk anak usia SD/MI karena lebih mudah mengekspresikan diri lewat permainan.
  • Konseling Keluarga → Memperbaiki komunikasi antar anggota keluarga dan mengurangi konflik.

Menurut data Ikatan Psikolog Klinis Indonesia, anak yang mendapatkan konseling rutin menunjukkan penurunan gejala depresi hingga 40% dalam 6 bulan.

Rutinitas & Kegiatan Positif

Anak membutuhkan struktur dan rutinitas untuk merasa aman. Kegiatan positif dapat menjadi saluran sehat untuk mengekspresikan emosi.

  • Olahraga → Sepak bola, renang, atau bela diri untuk melatih disiplin dan energi positif.
  • Seni & Kreativitas → Menggambar, menulis, musik dapat membantu mengeluarkan perasaan tanpa kata-kata.
  • Kegiatan Sosial → Mengikuti pramuka, kegiatan keagamaan, atau organisasi sekolah.

Kegiatan ini bukan hanya mengisi waktu luang, tapi juga membangun rasa percaya diri dan keterampilan sosial.

Motivasi Diri & Lingkungan

Motivasi untuk anak broken home perlu datang dari dua arah: dari dalam diri dan dari luar.

1. Penguatan Positif

Pujilah usaha anak, bukan hanya hasilnya.
Misalnya: “Kamu hebat sudah berusaha belajar hari ini” lebih membangun daripada “Nilai kamu harus bagus.”

2. Figur Panutan Positif

Anak broken home membutuhkan role model yang bisa mereka kagumi, seperti guru, paman/bibi, atau bahkan tokoh inspiratif.

3. Lingkungan yang Aman

Pastikan anak dikelilingi orang-orang yang mendukung, bukan yang membuat mereka semakin terpuruk.

Dukungan Sosial & Jaringan

Anak yang memiliki dukungan sosial yang kuat akan lebih tahan terhadap stres akibat broken home.

  • Peran Guru → Guru dapat menjadi “orang tua kedua” di sekolah yang memperhatikan perkembangan anak.
  • Komunitas & Kegiatan Ekstrakurikuler → Memberikan ruang bagi anak untuk merasa diterima.
  • Keluarga Besar → Kakek-nenek, paman, bibi, sepupu bisa membantu memberi rasa kehangatan yang hilang.

5. Gangguan Kejiwaan pada Seorang anak yang Broken Home 

1. Broken Heart

Jika seorang anak yang merupakan laki-laki merasakan kepedihan dan kehancuran hati sehingga memandang hidup ini sia-sia dan mengecewakan.

Kecenderungan ini membentuk sang anak menjadi orang yang krisis kasih sayang dan biasanya lari kepada yang bersifat keanehan seksual.

Contohnya adalah seks bebas, homoseksual, lesbian (jika anak tersebut adalah seorang wanita), menjadi simpanan orang serta tertarik dengan istri atau suami orang lain dan hal lainnya

2. Broken Relation

Sang anak merasa bahwa tidak ada orang yang perlu di hargai , tidak ada orang yang dapat dipercaya serta tidak ada orang yang dapat diteladani.

Kecenderungan ini membentuk anak menjadi orang yang masa bodoh terhadap orang lain, ugal-ugalan, mencari perhatian, kasar, egois, dan tidak mendengar nasihat orang lain serta cenderung semaunya sendiri .

3. Broken Values

Si pemuda kehilangan ”nilai kehidupan” yang benar . Baginya dalam hidup ini tidak ada yang baik , benar atau merusak dan yang ada hanya “yang menyenangkan” dan “yang tidak menyenangkan”.

Pada intinya , dia akan melakukan apa yang menyenangkan hatinya dan dia akan menghindari hal yang tidak menyenangkan bagi dirinya.

Dampak Broken Home Pada Anak

Dampak psikologis. Setiap keluarga yang mengalami broken home biasanya akan berdampak anak-anaknya. Orangtua tidak pernah memikirkan konskuensi dari tindakan yang mereka lakukan. Dampak paling utama yang akan melekat sampai anak tersebut dewasa adalah dampak psikologis. Seorang anak dapat berkembang dengan baik jika kebutuhan psikologisnya juga baik. 

Secara umum anak yang mengalami broken home memiliki:

  • ketakutan yang berlebihan
  • tidak mau berinteraksi dengan sesama
  • menutup diri dari lingkungan
  • emosional
  • sensitif
  • temperamen tinggi, dan
  • labil.

Sebenarnya, dampak psikologis yang diterima seorang anak berbeda-beda tergantung usia atau tingkatan perkembangan anak (Nurmalasari, 2008).

Dampak bagi prestasi anak. Akibat dari broken home juga mempengaruhi prestasi anak tersebut. Anak broken home cenderung menjadi malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar.

Berdasarkan sampel penelitian pada siswa kelas dua SMP Negeri Baleendah 2 Kabupaten Bandung dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan motivasi belajar antara siswa berasal dari keluarga broken home dengan motivasi belajar siswa dari keluarga utuh.

Motivasi belajar siswa dari keluarga broken home lebih rendah daripada motivasi belajar siswa dari keluarga utuh, keadaan keluarga broken home memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap motivasi belajar siswa

Keluarga adalah salah satu hal terpenting dalam membentuk perilaku anak. Kesuksesan seorang anak sangat tergantung dari pendidikan orangtuanya sejak dini.

Kewajiban orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan materi semata, namun juga perlunya bekal pendidikan agama sebagai pondasi dalam menghadapi masa depannya.

Akhir-akhir ini banyak keluarga yang tidak memiliki keharmonisan lagi. Mereka menganggap bahwa segala sesuatu bisa dibeli dengan uang, sehingga banyak orangtua yang sibuk dengan karirnya masing-masing.

Istilah broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan dan biasanya anak-anak yang broken home biasanya dikaitkan karena kelalaian orang tua dalam mengurus anaknya atau keluarganya. Namun, broken home bisa juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir dengan perceraian.

Kondisi inilah yang bisa dibilang menjadi pemicu dan membuat anak menjadi murung, sedih yang berkepanjangan serta malu karena orang tuanya telah bercerai dan yang paling parah bisa membuat mereka melakukan hal-hal negatif seperti mulai mencoba rokok, narkoba dan minuman keras. Hal ini yang akhirnya bisa membuat anak kehilangan pegangan serta panutan dalam masa transisi menuju kedewasaan.

Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang anak. Hal inilah yang mengakibatkan seorang anak jadi tidak ingin beprestasi. Hal ini juga merusak jiwa anak secara perlahan-lahan dan membuat mereka menjadi susah untuk diatur, tidak disiplin dan brutal.

Mereka juga bisa dibilang menjadi pemicu dari suatu kerusuhan karena mereka ingin mencari simpati dari teman-temannya bahkan dari para guru. Untuk menyikapi hal ini perlu diberikan perhatian dan pengerahan yang khusus agar mereka mau sadar dan mau berprestasi.

Masa remaja merupakan masa transisi atau masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Pada masa inilah remaja akan mulai melakukan banyak hal-hal yang negative pada umumnya. Mereka akan mulai lebih mendengarkan teman-temannya daripada orangtua atau keluarga.

Broken home akan mengalami kemerosotan semangatnya dalam belajar. Anak cenderung malas belajar, mereka tidak mempunyai kemauan dan motivasi lagi untuk belajar. Bisa dilihat dari kehidupan, anak yang berasal dari keluarga broken home mengalami guncangan, malas belajar, dan anak yang berasal dari keluarga utuh, mereka sangat memiliki kemauaan untuk belajar atau menuntut ilmu.

Ada beberapa cara untuk mengatasi broken home.

Pertama, mendekatkan diri kepada Tuhan, bila dalam keluarga mendekatkan diri kepada Tuhan, maka kehidupan akan menjadi damai. Tidak adanya konflik yang tidak terselesaikan, karena mereka menggap bahwa Tuhan akan membantu mereka menunjukkan jalan yang terbaik.

Kedua, berpikir dan berperilaku positif, tidak menjatuhkan tuduhan satu sama lain, tidak saling menyalahkan dan selalu berpikir yang positif.

Ketiga, saling berbagi. Dalam keluarga harus saling berbagi dan menerima. Tak adanya suatu hal yang ditutup tutupi. Dengan seperti ini maka apabila terjadi kesalahpahaman dapat terselesaikan secara bermunyawarah. . Terakhir, mencari kegiatan  yang positif dan bermanfaat.

Dalam rumah tangga yang tidak sehat, yang bermasalah dan penuh dengan pertengkaran-pertengkaran bisa muncul 3 kategori anak:

  1. Anak-anak yang memberontak yang menjadi masalah diluar dan anak yang jadi korban keluarga yang bercerai itu menjadi sangat nakal sekali
  2. Anak korban perceraian jadi gampang marah karena mereka terlalu sering melihat orangtua bertengkar , namun kemarahan juga bisa muncul karena :
    a. Dia harus hidup dalam ketegangan dan dia tidak suka hidup dalam ketegangan
    b. Dia harus kehilangan hidup yang tentram, dan dia jadi marah pada orang tuanya kenapa mereka memberikan hidup yang seperti ini kepadanya
    c. Waktu orang tua bercerai, anak kebanyakan tinggal dengan sang ibu , itu berarti ada yang hilang dalam diri anak yakni figur otoritas , figur seorang ayah
  3. Anak-anak yang bawaannya sedih , mengurung diri dan menjadi depresi . Anak ini juga bisa kehilangan identitas sosialnya.

 

6. Kesimpulan & Harapan

Peran Penting Keharmonisan Keluarga

Keluarga harmonis adalah pondasi utama perkembangan anak. Meski perceraian kadang tak terhindarkan, menjaga komunikasi sehat tetap bisa meminimalkan dampak negatif bagi anak.

Membangun Masa Depan Anak Broken Home

Dengan kasih sayang, dukungan emosional, dan lingkungan positif, anak broken home dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, resilien, dan sukses.

Tanpa disadari orangtua, broken home secara tidak langsung memberikan dampak yang signifikan kepada anak-anaknya. Sangat jarang ada orangtua yang memikirkan konsekuensi dari keputusan tersebut. Dari beberapa dampak yang ditimbulkan, dampak psikologis adalah yang paling melekat. Walaupun begitu, sebenarnya tersedia cara untuk mengatasi broken home. Cara tersebut akan efektif bagi setiap keluarga yang mendambakan keluarga utuh dan harmonis.

Nafi’atul Khusna
Mahasiswi IAIN Pekalongan

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait